39 Orang Diperiksa Terkait Penipuan CJH

39 Orang Diperiksa Terkait Penipuan CJH
Ilustrasi. foto: Net
Posted by:

JAKARTA – Bareskrim Polri berada di Kedutaan Besar Rebuplik Indonesia (KBRI) untuk Filipina yang berlokasi di Manila.? Kedatangan mereka untuk mengusut adanya dugaan penipuan pemberangkatan calon haji Indonesia via Filipina.

“Kami sudah ambil keterangan 39 orang. Baik itu di dalam negeri maupun di Manila. Sementara keterangan mereka semua sebagai saksi,” kata Kadiv Humas Polri Irjen Boy Rafli Amar saat ditemui di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat.

Boy mengungkapkan, dalam pemeriksaan itu, Bareskrim sudah mengantongi potential suspect ?pelaku penipuan tersebut. Namun, Bareskrim masih kekurangan sejumlah bukti untuk penetapan tersangka. “Karena sekarang masih evaluasi apakah alat bukti yang ada sudah cukup apa belum. Apakah semua itu sudah layak untuk menentukan mereka yang dicurigai tersangka,” ujarnya.

Sementara itu, kata Boy, bahwa ada delapan agent atau travel haji yang memberangkatkan para jamaah haji asal Indonesia melalui negara Filipina tersebut. “Kami belum bisa mengatakan berapa kali (memberangkatkan). Tapi patut diduga ada keberangkatan yang mereka koordinir seperti saat ini,” ujarnya.

Boy menegaskan, Polri dan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) juga tengah berupaya memulangkan calon haji yang berada di KBRI. Boy menjanjikan, 185 WNI akan dideportasi dalam waktu dekat. “Saya minta keluarga bersabar. Kamu yakin, upaya pemerintah membawa pulang deportasi,” tegas Boy.

Di sisi lain, Boy Rafli Amar mengatakan, Bareskrim tinggal melakukan gelar perkara, untuk meningkatkan kasus ini menjadi penyidikan. “Insya Allah dalam beberapa waktu ke depan sudah ada yang ditetapkan tersangka oleh Bareskrim. Progres pencarian bukti dan keterangan saksi sudah dilakukan, baik dari Filipina,” kata Boy.

Sementara untuk keterlibatan kejahatan mengenai paspor di Filipina, kata Boy, Bareskrim tidak bisa berbuat banyak. Itu karena Bareskrim tidak punya wewenang menyentuh kejahatan di wilayah hukum Filipina. Meski begitu, Boy mengaku, Bareskrim dan penegak hukum Filipina saling bertukar informasi dalam kasus ini.

“Tentu kami bekerja sama sengan pemegang otoritas di sana. Yang penting kerugian masyarakat berkaitan dengan jemaah haji yang sudah berangkat yang dibekali dengan paspor negara lain. Ini masalah hukum yang kami tegakkan. Khususnya Indonesia, kami sudah kumpulkan beberapa calon tersangka,” jelas Boy.

Boy juga mengungkapkan setidaknya ada delapan biro perjalanan yang diduga terlibat dalam kasus penipuan calon jemaah haji tersebut. “Nanti kami umumkan. Para calon tersangka sudah ada, yang merupakan warga Indonesia. Calon tersangka sudah ada gambaran berdasarkan bukti yang ada. Ada yang latar belakangnya pengelola travel, maupun merekrut para calon jamaah yang diajak menggunakan travel mereka,” tandas Boy.

Terpisah, Bareskrim Polri mengungkap bahwa modus pemberangkatan haji asal Indonesia melalui Filipina bukanlah hal baru. Menurut Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Brigjen Agus Andrianto, WNI tergiur berhaji via Filipina karena memang pernah ada yang berhasil tanpa tanpa harus ikut antre hingga bertahun-tahun.

“Apalagi kalau sudah berhasil lolos sekali, makin hari makin mau lagi dia. Apalagi kalau bisa loloskan banyak orang,” ujar Agus di Bareskrim Polri, Senin (29/8). Ia menambahkan, informasi itu pula yang membuat 177 WNI tergiur sehingga berangkat haji via Filipina.

Tawaran berhaji tanpa antrean tentu menarik mereka karena jika mendaftar melalui reguler di Indonesia bisa mengantre hingga puluhan tahun. “Jadi mereka selama ini mendengar ada haji yang bisa cepat. Padahal kan kalau nunggu minimal 10 tahun baru berangkat haji dan pakai daftar tunggu. Namanya ibadah pasti ada yang tertarik,” tutur Agus.

Lebih lanjut Agus memaparkan, ke-177 WNI itu ternyata dua kali berangka ke Filipina. Mulanya adalah untuk mengurus paspor dan visa haji. “Mereka dua kali berangkat ke Filipina. Jadi awalnya mereka direkrut kemudian membayar sebagian, kemudian pergi ke Filipina untuk mengurus paspor. Lalu balik lagi ke Indonesia”.

Hanya saja, mereka akhirnya terendus pihak imigrasi Filipina saat hendak terbang dari Manila ke Arab Saudi. Karenanya mereka sempat ditahan di detensi imigrasi Filipina di Manila. Namun demikian Bareskrim menganggap ke-177 WNI itu merupakan korban penipuan oleh biro travel. Sebab, mayoritas korbannya juga orang desa yang tak paham administrasi sehingga menurut saja ketika disuruh.

“Mayoritas korban orang kampung. Saya yakin enggak ada niat sedikit pun dari mereka untuk berganti kewarganegaraan. Semua itu konspirasi dari jaringan ini,” tandas Agus. Sayangnya, Agus belum membeber pihak yang menjadi otak penipuan itu. Ia hanya berjanji dalam waktu dekat akan menetapkan tersangkanya. (Mg4/sam/jpnn)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses