Adili Samad, BW, dan Novel

Adili Samad, BW, dan Novel
Puluhan mahasiswa dari Majelis Tinggi Organisasi Lentera Kedaulatan Rakyat (Lekra) Provinsi Bengkulu, menggelar aksi di depan Kejari Kota Bengkulu, untuk menuntut penyelesaian kasus dugaan penganiayaan dilakukan penyidik KPK Novel Baswedan. Foto Ricardo/jpnn.com
Posted by:

JAKARTA – Ratusan orang yang tergabung dalam Aliansi Bersama, kembali menggelar aksi unjuk rasa di depan gerbang Gedung Kejaksaan Agung, Jakarta, Selasa (16/2). Mereka meminta pihak kejaksaan mengadili dua komisoner KPK yakni Abraham Samad, dan Bambang Widjojanto (BW), serta penyidik KPK Novel Baswedan.
Kejagung bukan mengeluarkan deponering. “Apabila deponering diberikan merupakan pelecehan terhadap penegakan hukum di Indonesia,” kata Koordinator Aksi, Andriansyah saat berorasi di depan Gedung Kejaksaan Agung, Jakarta Selatan, Selasa (16/02).
Selain berorasi, mereka juga menggelar sejumlah sepanduk. Satu diantaranya bertuliskan “Tolak Deponering Abaraham Samad, Bambang Widjojanto dan Anis Baswedan”. Bahkan, massa juga membawa keranda mayat dengan berbalut kain hitam yang menandakan matinya sistem hukum di Indonesia. Namun, aksi massa di depan gerbang Kejaksaan Agung itu tidak membuat arus lalu lintas macet, karena aparat yang mengamankan jalannya demo mampu mengatasinya.
Adriansyah menegaskan Indonesia adalah negara hukum sebagaimana ditegaskan oleh UUD 1946 Pasal 1 ayat (3) yang secara eksplisit dinyatakan bahwa negera Indonesia adalah negara hukum. “Jadi pemerintah atau siapapun tidak berhak untuk mengintervensi jalannya proses hukum, termasuk Presiden sendiri. Jika presiden membekukan perkara (deponering) kasus tersebut, sama artinya melecehkan hukum,” ujarnya.
Hal senada juga disampaikan Muhibbullah, Koordinator Aliansi Bersama, yang meminta pihak Kejaksaan Agung agar tetap memroses dan menindaklanjuti kasus Samad, BW dan Novel Baswedan sesuai ketentuan hukum berlaku.
“Kami minta Kejaksaan Agung tidak tebang pilih dalam penegakan hukum di Indonesia. Rakyat Indonesia kami harapkan mengawal proses hukum dan menolak deponering atas kasus tiga orang eks komisioner KPK itu,” katanya.
Dalam aksinya kali ini, Aliansi Bersama menyampaikan pernyataan sikap keprihatinan serta menyayangkan atas apa yang dilakukan Presiden Jokowi mengintervensi terhadap proses hukum atas Abraham Samad, Bambang Widjojanto dan Anis Baswedan.
Usai melakukan aksi di Kejaksaan Agung, massa Aliansi Bersama ini melanjutkan aksinya ke depan Istana Negara, jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta. Tujuannya untuk mengingatkan kepada Presiden Jokowi agar menghentikan intervensi atas kasus tersebut.

#Korban Hanya Dapat Simpati Kejagung
Sementara itu, para korban penembakan mantan Kasat Reskrim Polresta Bengkulu Novel Baswedan ditemui Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung Amir Yanto, Selasa (16/2), di Kejagung. Para korban menceritakan peristiwa tragis yang mereka alami pada 2004 silam.
Mereka pun mendesak Kejagung tak menghentikan kasus dugaan penganiayaan pencuri sarang burung walet yang telah menjerat Novel yang kini menjadi penyidik KPK sebagai tersangka.
Aspirasi yang disampaikan para korban Doni Yeprizal, Rusli Aliansyah, Irwansyah Siregar dan Dedi Nuryadi  yang didampingi pengacara mereka Yuliswan, akan ditindaklanjuti Kejagung. “Saya bisa memahami dan menyampaikan turut simpati kepada Pak Irwansyah dan kawan-kawan sebagai korban,” kata Amir Yanto.
Ia mengatakan bahwa permintaan korban agar Jaksa Agung melanjutkan kasus itu akan disampaikan kepada bosnya.  Dia mengaku tak bisa berjanji banyak dan mengambil keputusan. Ia hanya bertugas menerima aspirasi dan meneruskannya kepada pimpinan. “Nanti saya teruskan kepada Jaksa Agung,” janji mantan Wakajati Sumut ini. (boy/fas/jpnn)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses