Ariansyah Divonis Seumur Hidup

Ariansyah Divonis Seumur Hidup
Terdakwa Ariansyah menjalani persidangan di PN Klas IA Khusus Palembang. Foto Poetra/Palembang Pos
Posted by:

A RIVAI – Dinilai terbukti melakukan pembunuhan terhadap anggota Paskibraka atau korban Rahman Della (18), pelajar yang baru lulus dari MAN 2 Palembang, membuat terdakwa Ariansyah SPd (28), mantan guru Honorer SMA Sampoerna ini, divonis seumur hidup. Vonis dibacakan Majelis Hakim diketuai Firman Pangabean SH MH, di PN Klas IA Khusus Palembang, Selasa (15/03).
“Perbuatan terdakwa terbukti secara sah melanggar pasal 340 KUHP sesuai tuntutan jaksa. Memutuskan terdakwa Arianyah dihukum dengan hukuman pidana seumur hidup,” ujar Firman Pangabean SH MH. Mendengar putusan itu, puluhan keluarga dan kerabat terdakwa yang memadati ruang siding, langsung bersorak dan bersyukur.
“Alhamdulillah… Semoga hukuman ini setimpal dengan perbuatannya. Seharusnya mati dibalas dengan mati. Mungkin hanya hukuman Allah yang membalas perbuatannya. Kami ucapkan terima kasih kepada majelis hakim dan jaksa yang sudah menuntut, dan memutuskan hukuman seumur hidup,” ujar Masyito, ibu angkat korban yang menghadiri persidangan.
Sementara itu, advokad Suwito Winoto SH, dan Evan Yuliandri SH, yang mendampingi Ariansyah, menyatakan pikir-pikir setelah diberikan waktu selama tujuh hari untuk upaya hukum ke depannya. “Sementara ini pikir-pikir dulu. Mungkin akan banding dengan dasar pertimbangan majelis hakim bukan dari fakta persidangan, dan hanya berdasarkan BAP,” terangnya.
Dalam persidangan, nampak puluhan personel kepolisian bersenjata lengkap, berjaga ditiap sudut ruangan sidang, guna memastikan keselamatan terdakwa, serta menghindari hal-hal yang tak diinginkan.
Sebelumnya Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ursula Dewi SH MH, menuntut terdakwa Ariansyah dengan hukuman pidana seumur hidup. Terdakwa Ariansyah secara sah dan terbukti melakukan pembunuhan berencana sesuai pasal 340 KUHP.
Diberitakan sebelumnya, berdasarkan surat dakwaan jaksa, korbannya Rahman Della (18), pelajar baru lulus MAN 2 Palembang, ditemukan tewas bersimbah darah di kamarnya di Jalan Sukabangun II, Lorong Beringin, Kelurahan Sukajaya, Kecamatan Sukarami, Kamis (09/07/2015), pukul 10.30 WIB.
Korban yang akrab disapa Radel, dan merupakan anggota Paskibraka Provinsi Sumsel tahun 2014 itu, ditemukan tewas dengan kondisi mengenaskan. Leher korban nyaris putus akibat tusukan pisau dilakukan terdakwa pada bagian leher sebelah kanan. Selang beberapa hari kemudian, petugas gabungan Sat Reskrim Polresta Palembang, dan Polsekta Sukarami berhasil membekuk terdakwa Ariansyah.

#Saksi Tidak Mampu Menahan Emosi
Sementara itu, sidang lanjutan pembunuhan terhadap Feriyanto alias Yanto, warga SP 2 Trans Subur, Desa Sido Mulyo, Kecamatan Muara Lakitan, Mura, dengan terdakwa Tansiro (50), warga yang sama, kembali digelar di PN Lubuklinggau. Kali ini sidang dengan agenda mendengarkan keterangan saksi, diwarnai dengan air mata.
Pasalnya saksi Jasri, yang juga adik dari korban Yanto,  yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Abu Nawas dan Rudoft, tak sanggup menahan emosi. Sehingga keterangan yang diberikan sempat terputus-putus.
Melihat saksi menangis ketika menjawab pertanyaan dilontarkan Jaksa Abu, tentang bagaimana kronologis kejadian kakaknya (korban Yanto) terbunuh, hingga terbakar menjadi arang di kediamannya, membuat saksi terisak di kursi saksi.
Berkali-kali dia mengusap air matanya. Sehingga jaksa dan hakim terpaksa menunggu untuk beberapa saat, hingga dirinya bisa melanjutkan keterangannya. Hal itu terjadi berulang kali. Sementara di kursi pengunjung, keluarga korbanpun tak mampu menahan tangis.
Melihat kondisi itu, hakim ketua Edi, menyatakan bahwa apapun pertanyaan dilontarkan kepada saksi di dalam sidang tersebut, bukan untuk membuka luka lama yang dirasakan keluarga korban. Sebaliknya, keterangan para saksi memang dibutuhkan untuk mengungkap kejadian yang sebenarnya.
Untuk itu, Edi, meminta kepada saksi Jasri, agar bisa tenang dan menahan emosinya, serta menyampaikan kejadian yang dia ketahui. Setelah saksi kembali tenang, satu persatu pertanyaan kembali dilontarkan kepada saksi.
Sementara itu, sebelum sidang dimulai, hakim ketua mengingatkan kepada pengunjung sidang untuk tenang dalam mengikuti sidang. Pasalnya pada sidang sebelumnya, sempat terjadi kisruh, karena istri korban tak sanggup menahan emosi, hingga melemparkan air mineral ke arah terdakwa.
Tidak cukup disitu, teriakan histeris dari anak dan istri korban juga membuat suasana sidang sempat panas. Namun berubah menjadi hening, ketika istri korban pingsan dan dibawa ke Rumah Sakit (RS).
Usai sidang, istri korban, Leni, didampingi kuasa hukumnya Gabriel Fuadi, mengakui bahwa saksi yang dihadirkan JPU merupakan saksi Auditor, artinya yang memiliki kepentingan. Karena saksi merupakan adik kandung korban. Namun kesaksian itu memang kenyataan yang terjadi. ‘’Untuk itu, kami minta Jaksa segera menghadirkan saksi-saksi lainnya agar dapat menjerat dan menghukum perbuatan terdakwa seberat-beratnya,” jelasnya.
Selain itu, keluarga korban juga mendesak Polres Mura supaya mengungkap kasus pembunuhan hingga tuntas. Siapapun pelakunya harus ditangkap dan diproses secara hukum. “Pelaku diduga masih menjabat di perdesaan dan oknum Polisi, saat ini mereka bebas berkeliaran,” ungkapnya.
Diberitakan sebelumnya, kasus pembunuhan terhadap Feriyanto alias Yanto terjadi di kediamannya di SP 2 Trans Subur, Desa Sido Mulyo, Kamis (24/09/2015), sekitar pukul 22.00 WIB. Saat itu korban ditembak dan jenazahnya kemudian dibakar di dalam rumahnya. (vot/yat)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses