Banyak Belum Berizin

Banyak Belum Berizin
Posted by:

SIKAP tegas pemerintah atau otoritas di suatu daerah dengan mencegah dan memberantas atau menghanguskan kawasan kegiatan prostitusi  yang sudah lama gencar dilakukan, ternyata tidak serta merta bisa menghapuskan kegiatan yang juga dikenal dengan bisnis esek-esek tersebut. Pasalnya, dengan kawasan prostitusi diberangus justru timbul masalah baru yakni kegiatan prostitusi tersebut menyebar di berbagai sudut suatu wilayah.
Selanjutnya seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi praktek prostitusi juga semakin canggih dari prostitusi lewat panggilan hingga online. Selain caranya sudah modern, dimanapun bisnis tersebut bisa dilakukan, bahkan tak hanya di hotel-hotel tapi di tempat-tempat penyewaan ataupun kos-kosan sekalipun.
Kondisi ini sudah menjadi fenomena tersendiri. Karena persoalannya tidak lagi menyangkut kegiatan prostitusi itu sendiri namun di sini juga bisa terjadi kekerasan bahkan tindakan pidana pembunuhan, seperti yang terjadi pada Tata Chubby, salah seorang pekerja sek komersil (PSK) lewat online, yang dibunuh pelanggannya  di kos-kosan di kawasan Tebet Jakarta Selatan, 10 April.
Melihat dari fenomena ini,  yang kita lihat saat ini adalah kemungkinan makin bebasnya dan tak terkontrolnya kosan-kosan khususnya di perkotaan dari perbuatan-perbuatan asusila. Kondisi ini tentunya akan berdampak terhadap jalannya kehidupan sosial di sekitar kosan-kosan tersebut.M
Maraknya praktek prostitusi di wilayah perkotaan di Sumsel misalnya,  kemungkinan bisa marak terjadi karena perkembangan teknologi globalisasi sehingga berdampak pada sikap individualisme masyarakat makin tinggi, sehingga tidak ada pengawasan antar satu lingkungan.  Kondisi ini tidak hanya tugas pemerintah untuk mencegah dan mengawasi namun juga menjadi kewajiban moral pemilik penyewaan dan kos-kosan itu sendiri.   
Kabid Pengendalian dan Pengawasan BKPMD Kota Palembang, Heriwan Alaska mensinyalir masih banyak kos-kosan di Palembang yang tidak memiliki izin usaha. Padahal, menurutnya setiap tempat usaha termasuk kos-kosan harus memiliki izin.
“Kami terus pantau kos-kosan ini, karena memang saya yakin masih belum banyak yang memiliki izin. Memang kami belum ada data tertulis, tapi ini jadi perhatian kami untuk nanti kos-kosan yang tidak ada izin akan ditertibkan,” ungkapnya.
Heriwan menambahkan, perizinan ini sangat penting agar tempat usaha tersebut tidak disalahgunakan.
Salah seorang pemilik kos-kosan di Palembang yang enggan disebutkan namanya mengaku, tidak terlalu ambil pusing dengan tamu-tamu yang datang ke tempat usahanya tersebut. Menurutnya, yang terpenting para penyewa kos-kosannya membayar uang kos tepat waktu.
“Saya tidak terlalu mengekang anak-anak (penyewa, red). Mereka mau pulang jam berapa, ya itu terserah mereka. Yang penting, mereka bayar kos-kosannya tepat waktu, sesuai dengan kontrak. Kalau ada yang razia, saya bisa setor uang saja. Pokonya yang penting bisnis saya lancar saja deh,” ujar dia, seraya mengatakan kos-kosan biayanya mencapai Rp 2,5 juta perbulan ini.
Namun ada banyak juga pemilik kos-kosan/kontrakan yang tidak rela tempat usaha mereka dijadikan tempat prostitusi terselubung. Seperti Munir (45), warga Kelurahan Marga Mulya, Lubuklinggau Selatan.
Menurut Munir, pemilik kontrakan di Jalan Bengawan Solo, Kelurahan Ulak Surung, Lubuklinggau Utara II. Untuk menghindari kontrakan miliknya dijadikan tempat mesum, dia lebih selektif memilih calon penghuni. Salah satunya hanya menerima calon pengontrak yang sudah berkeluarga.
“Kontrakan dan jarak tempat tinggal saya cukup jauh, jadi sulit untuk melakukan pengawasan langsung, jadi pilih yang sudah berkeluarga dan jelas asal usulnya saja,” jelasnya.
Senada dikatakan Asnaini, pemilik kontrakan 4 pintu diwilayah yang sama. Menurutnya langkah antisipasi agar kontrakannya tidak dijadikan tempat portitusi, setiap penghuni kosan, diminta untuk melapor ke ketua RT. Dengan begitu bukan hanya dia selaku pemilik kontrakan, yang berkewajiban mengawasi penghuni kontrakan, tetapi warga sekitar termasuk aparat pemerintah dibawah seperti ketua RT juga punya tangung jawab sosial yang sama.
“Kalau orangnya tidak mau melapor, kita yang sebagai pemilik yang akan melapor ke ketua RT, tetapi kontrakan tidak akan diperpanjang meskipun yang ngontrak berani bayar lebih,” jelas Asnaini.
Sedangkan di Kota Prabumulih sejumlah pemilik kos di Kota Prabumulih lebih berhati-hati dalam menerima calon penghuni kos dengan terlebih dahulu mengecek identitas calon penghuni.
Tak hanya sebatas itu saja, calon penghuni juga wajib menyetujui aturan yang diberlakukan oleh pemilik kos seperti tidak boleh menerima tamu lewat dari jam 21.30 WIB, membawa tamu (yang berlainan jenis dengan penghuni) ke dalam kamar. Setelah menyetujui aturan yang berlaku, barulah calon penghuni kos-kosan diterima.
“Sebenarnya pemberlakuan jam malam (pembatasan waktu menerima tamu) sudah lama kita berlakukan, semua itu untuk mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkan,” ujar Asmui (58), warga Jalan A Yani Kelurahan Prabumu jaya pemilik kos-kosan mawar yang terletak di Jalan Prof M Yamin, ketika dibincangi Palembang Pos, kemarin.
Dijelaskan Asmui, jika sampai batas waktu yang ditentukan masih ada penghuni kos yang menerima tamu, dirinya langsung mengingatkan agar segera meminta tamunya tersebut segera pulang. “Kalau memang yang dibicarakan itu penting, yang silahkan bicarakan ditempat lain saja sebab kita tetap memegang aturan yang ada,” tegasnya.
Jika ada penghuni kos yang melanggar aturan, kata Asmui, pihaknya tak segan-segan untuk tidak memperpanjang sewa kamar kos tersebut. “Ya tidak kita perpanjang, kita cari penghuni lainnya yang mau mengikuti aturan kita,” cetusnya.
Senada diungkapkan Abdullah, pemilik kos-kosan dikawasan Jalan Nias Kelurahan gunung Ibul. Menurut Abdullah, pihaknya tidak mentolerir penghuni kosan yang tidak mematuhi aturan. “Jika tak bisa mengikuti aturan yang kita buat silahkan keluar,daripada kos-kosan kita dicap jelek,” ucapnya.
Diakui Abdullah, selaku pemilik kos dirinya tak dapat terus menerus memantau kegiatan para penghuni kos. Untuk itulah, dirinya meminta bantuan masyarakat disekitar kos miliknya berada untuk memberitahukan kepadanya bila ada informasi mengenai perbuatan negative yang dilakukan anak kosnya.           “Pernah kita mendapat informasi dari warga, langsung kita selidiki dan ternyata benar langsung saja tidak kita perpanjang sewanya,” pungkasnya.
(rob/abu/yat/ika)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses