BBM Terus Naik, Hidup Makin Terpuruk

BBM Terus Naik, Hidup Makin Terpuruk
????????????????????????????????????
Posted by:
SUMSEL – Kebijakan pemerintah yang kembali menaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite dan Pertamax secara diam-diam per 10 Oktober 2018, kembali menorehkan ‘luka’ khususnya bagi warga kecil.

Tentu hal ini terkait dengan dampak kenaikan BBM yang menyentuh harga pangan dan kebutuhan pokok lainnya. Kondisi ini juga dirasakan warga di Sumsel. Tak hanya bagi warga biasa dengan penghasilan seadanya namun juga  para pengusaha kecil.

Seperti di Kabupaten Muara Enim, kebijakan pemerintah pusat yang tak populis itu makin memperburuk kondisi perekonomian masyarakat yang kian terpuruk. Soalnya dengan adanya kenaikan harga BBM tersebut membuat harga kebutuhan pokok di pasar ikut mengalami kenaikan.

Tak pelak, kondisi itu berdampak buruk pada seluruh lini kehidupan masyarakat terlebih lagi kepada para pengerajin rumah tangga (Home Industri). Seperti halnya pengerajin keripik pisang yang ada di kawasan Desa Ujanmas Baru, Kecamatan Ujanmas.

Karena untuk membuat kripik pisang tersebut mereka menggunakan bahan minyak goreng. Sedangkan harga minyak goring sudah mulai mengalami kenaikan. “Sejak ada kenaikan harga BBM, harga minyak goring juga naik, sehingga berimbas pada usaha kami,” jelas salah seorang pengusaha kripik pisang di ujanmas, Senin (14/10).

Dengan adanya kenaikan harga tersebut, maka para pengerajin keripik pisang, terpaksa menyiasatinya dengan membuat berbagai inovasi. Sehingga harga jualnya bisa dinaikan untuk menyesuaikan dengan biaya produksi.

Keluhan yang sama juga didampaikan Sumacik (59) warga dusun V desa Ujanmas Baru Kecamatan Ujanmas, Muara Enim. Dimana  melakukan usaha mengkreasi makanan sale pisang. Ditangan Sumacik, Sale pisang tak hanya dipanggang dengan asap namun juga digoreng.

“Sale pisang ini khas dari daerah kita,  kalau di tempat lain banyak Sale Pisang seperti ini  tapi jenis pisangnya berbeda  dengan pisang yang kita gunakan. Kalau kita menggunakan pisang Gedah atau kita kenal disini pasang Kundur karena pisang ini tidak asam seperti pisang lain,” ujar Sumacik.

Dirinya mengharapkan pemerintah ataupun instansi terkait serta perusahaan baik BUMN maupun BUMS agar dapat membantu mengembangkan usahanya ini yang mana sampai saat ini dia belum bisa memenuhi kebutuhan konsumen secara penuh karena kekurangan dana untuk pengembangan usaha ini.

“Oleh sebab itu, kita juga berharap pemerintah juga bisa membuat kebijakan yang berpihak pada rakyat termasuk tidak menaikan BBM.

Keluhan lainnya datang dari Anggraeni (37), salah seorang pengusaha kecil yang berada di Jalan Pensiunan Kelurahan Tanjung Makmur Kecamatan Tebing Tinggi.

Anggraeni mengaku, naiknya BBM jenis Pertalite belakangan membuat ongkos transportasi ikutan naik, termasuk salah satunya ojek. Terlebih, mayoritas ojek becak motor (bemtor) yang ada di Empat Lawang menggunakan Pertalite lantaran lebih terjangkau.

“Karena ongkos ojeknya naik, ya mau tidak mau biaya pengeluaran kami pun menjadi bertambah. Sebab, setiap hari kami selalu mengantar tahu ke konsumen dengan menggunakan jasa ojek,” ungkapnya, Senin (15/10).

Di satu sisi, disaat biaya transportasi naik, harga jual tahu yang diproduksinya masih seperti biasa. Sebab, jika dinaikkan, dikhawatirkan berdampak pada turunnya permintaan dari konsumen.

“Ya mau gimana lagi, biarpun untungnya kecil bagi kami yang penting penjualannya lancar,” ujarnya.

Sebagai pelaku usaha, Anggraeni berharap agar kedepan tidak ada lagi kenaikan harga BBM, bila memungkinkan hendaknya diturunkan. Sebab, kenaikan BBM berdampak sangat luas bagi ekonomi masyarakat.

“Disamping harga, stock BBM nya juga mesti diperhatikan. Ini aja udah lima hari BBM jenie solar gak ada di SPBU. Padahal, bagi kami solar sangat penting untuk mesing giling kacang kedelai,” bebernya.

Dampak kenaikan harga BBM pertalite juga berimbas pada sejumlah pengusaha kecil yang berada di ibukota provinsi Palembang. Seperti Roil, yang memiliki usaha dagang usaha daging burung di Kecamatan Kemuning.

“Ya jelas berdampak kadang kita menggunakan pertalite untuk mengantar orderan karena BBM bensin terkadang sulit juga didapat dan biasanya cepat habis di SPBU,” ujarnya.

Dirinya lanjut Roil, agak bingung  penjualan usahaya. “Mau dinaikan nanti pelanggan merasa kemahalan namun tidak dinaikan kita yang rugi dan kini masih menghitung-hitung. Akhirnya jadi susah lantaran kenaikan BBM. Hidup makin terpuruk kalau kita tidak siap menghadapi dampaknya,” tandas ibu rumah tangga ini.

Dengan kondisi ini, dirinya berharap pemerintah harus mengkaji ulang jika mau menaikan BBM. “Jangan langsung dinaikan secara diam-diam. Tau-tau sudah naik. Jadi susah kito,” ujarnya lagi. Sedangkan Lailata Ridha, anggota DPRD Palembang dari Fraksi Golkar berharap sebelum dilakukan kenaikan BBM, harus dilakukan kajian yang benar-benar komprehensif.“Karena kenaikan BBM dampaknya langsung dirasakan khususnya terkait perekonomian,” tukasnya. (luk/CW08/rob)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses