Bekuk Pengedar Upal Lintas Kabupaten

Bekuk Pengedar Upal Lintas Kabupaten
Posted by:

INDERALAYA – Lantaran tergiur keuntungan besar, Diki Saputra (20), bujangan, warga Desa Gumay, Kecamatan Gelumbang, Muara Enim, nekat mengedarkan uang palsu (upal) pecahan Rp 50 – 100 ribu. Namun, aksi penyadap karet ini diketahui, hingga ditangkap Satreskrim Polres OI. Pria ini dibekuk di Desa Palemraya, Kecamatan Inderalaya Utara, Senin (16/12), pukul 22.00 WIB.
Kapolres OI AKBP Denny Yono Putro, melalui Kasat Reskrim AKP Haris Munandar, didampingi Kanit Pidsus Aiptu Defri mengatakan, tersangka diringkus setelah ada laporan masyarakat di Desa Palemraya, yang mencurigai orang tidak dikenal mengedarkan uang palsu.
Saat itu tersangka berbelanja rokok di warung Hendri, di Desa Palemraya, menggunakan upal Rp 50 ribu. Begitu menerima uang tersebut, saksi merasa curiga, karena kondisi uang sangat lusuh. Berpura-pura akan menukarkan uang, saksi justru memanggil warga untuk mengamankan tersangka.
Seterusnya warga juga menghubungi polisi, memastikan jika uang yang dibelanjakan oleh tersangka merupakan uang kertas palsu. “Setelah kita telusuri dan melihat bentuk uang kertas tersebut. Ternyata benar, itu merupakan uang palsu. Karena, uang itu terbuat dari kertas HVS biasa,” terang Kasat Reskrim Polres OI AKP Haris Munandar, Kamis (17/12).
Haris menegaskan, atas perbuatannya tersangka dijerat pasal 244 KUHP, dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara. Dia  mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam melakukan transaksi keuangan.
Mengingat, saat ini, dari pengakuan tersangka sudah senilai Rp 700 ribu uang kertas palsu beredar. ‘’Pelaku ini diduga merupakan pengedar upal lintas Kabupaten/Kota di Sumsel. Sebab, dia beralamat di Muara Enim, namun mengedarkan upal di Prabumulih, dan Kabupaten OI,” tambahnya.
Dihadapan penyidik, tersangka Diki mengakui jika uang yang ia belanjakan itu merupakan uang kertas palsu. Uang kertas palsu itu sudah tiga kali ia belanjakan. Pertama senilai Rp 300 ribu, dan kedua juga Rp 300 ribu, kemudian ada Rp 100 ribu.
Semua upal itu dibelanjakannya di Kota Prabumulih, yakni senilai Rp 700 ribu. “Dan terakhir di warung yang berada di Desa Palemraya itu, saya coba belanja. Disana baru hendak belanja rokok, keburu tertangkap,” akunya.
Diki mengaku, uang kertas palsu didapatnya dari seorang rekan berinisial R, berdomisili di Prabumulih. Dalam perjanjiannya setiap pecahan upal Rp 50 ribu yang berhasil dibelanjakan, dirinya akan  memperoleh bagian  Rp 30 ribu. “Aku dak tau dio (R) buat upal itu dari apo. Aku dapat bagian Rp 30 ribu, jika kembalian upal dari hasil belanja rokok,” katanya. (din)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses