Belajar Tak Nyaman

Belajar Tak Nyaman
Kondisi ruang belajar salah satu SD Negeri di Kota Palembang yang terendam banjir saat hujan turun. Kondisi jelas menganggu proses belajar mengajar di sekolah tersebut. F dok Palembang Pos
Posted by:

UNTUK menciptakan sistem belajar mengajar berkualitas di sekolah selain kualitas pendidikan guru atau tenaga pengajar juga harus ditunjang fasilitas. Berbicara fasilitas, salah satunya menyangkut gedung berstandar sehingga nyaman untuk menjalankan sistem belajar dan mengajar itu sendiri.
Jika sistem belajar dan mengajar yang berjalan dengan ditunjang fasilitas memadai, maka transformasi ilmu ke siswa akan berkualitas berbias pada hasil.Terkait hal itu, kondisi yang dapat dikatakan sedang memprihatinkan, adalah bangunan Sekolah Dasar (SD) di Kota Palembang.
Dimana dari data Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kota Palembang, dari 268 SD di Kota Palembang hampir 50 persen diantaranya mengalami kerusakan. Kerusakan tersebut menyangkut bangunan khususnya ruang belajar mengajar yang rusak. Misalnya atap yang bocor, plafon yang sudah berumur, bangku sekolah sudah didera lapukan dimakan rayap dan lain-lain.
Hal ini jelas akan membuat murid dan tenaga pengajar tak merasa nyaman saat proses belajar dan mengajar. Seperti diakui Kepala SD Negeri 4 Palembang, Armalini Spd. Dia mengatakan, sebanyak 639 siswa belajar di 18 ruang kelas. Dari 18 kelas, 2 ruang kelas tidak bisa dipakai sama sekali.
“Terlebih lagi sekarang ini musim hujan yang begitu deras setiap harinya, membuat beberapa kelas siswa menjadi kebanjiran. Setiap hujan pasti kelas di bawah tidak bisa dipakai, karena berdekatan dengan rawa dan tidak mempunyai aliran air tempat pembuangan, akhirnya kembali ke SDN 4. Memang belajar menjadi tidak maksimal, makanya itu kita meminta kepada pemerintah segera membangun kelas yang sudah diajukan dan ditambah,” harapnya.
Ditambahkan Armalini, kondisi tersebut sudah dijalani selama lebih dari 3 tahun. “Sebenarnya kami tidak ingin membuat siswa terganggu apalagi meliburkan. Maka dari itu inisiatif pihak sekolah kita gabungkan dengan sesuai perkelasnya,” ungkapnya.
Sedangkan, Siswa SD Negeri 4 Palembang, kelas IV B Zainal Roni, mengungkapkan kelas yang terkena yakni kelas IV B dan kelas IV C, setiap mau musim hujan dirinya akan mengungsi ke kelas IV A. “Soalnya kelas kami berada disamping rawa. Harapannya semoga kelas kami bisa dibangun lebih tinggi agar tidak terkena banjir lagi, soalnya tidak enak kalau kelas kami digabung terus,” ungkapnya.
Sedangkan Orang tua siswa, Dini mengatakan sudah beberapa bulan ini anaknya digabung dengan kelas lain, karena 2 kelas terendam banjir, mau tidak mau mereka pindah kelas. “Setelah pindah kelas mereka ini bukannya dapat kelas khusus mereka tapi mereka ini digabung dengan anak lain, sehingga konsentrasi anak-anak ini terganggu karena tidak efektif,” katanya.
Hal serupa dialami di SDN 10, pengajuan untuk segera diperbaiki akses jalan untuk ke sekolah namun belum ada realisasinya dari pihak Disdikpora, Kepala SDN 10 Sri Haslinawati melalui Wakil Kepala SDN 10 Palembang, Juniati mengatakan menjelang masa hujan dan musim pasang SDN 10 Palembang pasti sering banjir.
Soalnya lanjut Sri, SD Negeri 10 terletak terletak di atas rawa. Ditambah lagi jalan untuk masuk ke sekolah sangat sempit yang lebarnya hanya1 meter, “Kadang anak-anak sering terjatuh karena tidak bisa lihat mana batas jalan mana parit,” katanya.
Apalagi SDN 10 Palembang sambung Sri, terletak di tengah-tengah rawa yang sangat luas pastinya kelas siswa terutama bawah meja belajar anak-anak ada air. Jadi saat musim pasang ditambah lagi musim hujan deras, kelas menjadi terendam dan para siswanya pun harus terganggu.
“Walau hujan setiap harinya pihak guru sekolah tetap datang, mungkin ada beberapa anak yang tidak masuk. Kami sebagai guru harus tetap datang, disamping menjalankan kewajiban kita juga sebagai tenaga pendidik bagi siswa,” bebernya.
Sementara itu, salah satu siswa SDN 10, kelas V M David Romadon mengatakan saat hujan, dirinya dan teman-teman kadang harus melepaskan sepatu, karena jalan sekitar tergenang, “Harapannya sekolah kami dibagusi, biar kami lebih enak belajarnya. Kalau seperti kami tidak nyaman belajarnya,” pungkas David. (roi)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses