Bidan Desa Salahkan Birokrat & Politikus Busuk

Bidan Desa Salahkan Birokrat & Politikus Busuk
Para bidan desa PTT (Pusat), yang ditopang Konfederasi KASBI, menggelar aksi unjuk rasa di depan Istana Negara, Jakarta, Selasa (20/9). Foto esy/jpnn.com
Posted by:

JAKARTA – Tertundanya pengumuman hasil seleksi CPNS bidan desa PTT pada 9 September lalu, dinilai Forum Bidan Desa (Forbides) PTT (Pusat) karena gangguan dari politikus dan birokrat busuk. Mereka menuding politikus busuk di DPR RI dan birokrat busuk melanggengkan sistem korup di Indonesia.

“Keberadaan politikus dan birokrat busuk ini sangat berpotensi turut menyuburkan mafia kepegawaian yang selama ini merasa terganggu kepentingannya akibat pengangkatan khusus CPNSD bidan desa PTT (Pusat). Sebab, bidan desa PTT sebagian besar telah menjadi mesin ATM selama ini, dan masuk dalam agenda politik ladang pungli yang dilakukan sejumlah birokrat busuk di Indonesia,” beber Ketum Forbides PTT (Pusat) Indonesia Lilik Dian Ekasari di sela-sela aksi, Selasa (20/9).

Itu sebabnya, Forbides dan Konfederasi KASBI menyerukan kepada pemerintah untuk tidak ragu-ragu membersihkan seluruh birokrat dan politikus busuk, yang merupakan jejaring mafia kepegawaian dari pusat hingga daerah.

Forbides juga berharap presiden segera memberikan hak kepastian kerja bagi bidan desa PTT (Pusat) sebagai tenaga fungsional yang selama ini mengabdi di seluruh pelosok desa di tanah air. “Kami berhadap presiden tidak terpengaruh dengan bisikan dari politikus dan birokrasi busuk. Kami yakin presiden paling tahu keberadaan bidan desa PTT,” tandasnya.

Di sisi lain, perjuangan bidan PTT untuk bertemu Presiden Joko Widodo tidak mengenal lelah. Dalam orasinya di tengah aksi unjuk rasa di Jakarta hari ini, ketua Forum Bidan Desa (Forbides) masing-masing daerah secara bergantian membeberkan bagaimana upayanya bertemu presiden di setiap kesempatan.

“Saat Festival Danau Toba, kami berupaya bertemu dengan presiden. Meski kami dihalang-halangi, kami tetap berupaya mendekati beliau. Bahkan dengan sepeda motor kami kejar-kejaran dengan patwal agar bisa bertemu presiden,” tutur salah seorang perwakilan bidan desa PTT Sumut dalam aksi unjuk rasa di depan Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (20/9).

Hal sama diungkapkan Nanik, bidan dari Banten. Ketika malam Iduladha, bidan desa di Banten bukannya menyiapkan hidangan lebaran, tapi justru mengadang presiden. “Kami tidak bisa bertemu di istana, makanya di manapun presiden melakukan kunker, di situ bidan desa PTT siap mengadang. Kami ingin menyampaikan langsung ke presiden dan beliau ternyata memang sudah tahu masalah bidan desa PTT,” beber Nanik.

Perwakilan bidan desa dari Kalimantan Utara juga demikian. Apapun akan dilakukan bidan desa agar bisa bertemu Jokowi setiap kunker ke daerah, guna menyampaikan tuntutan agar mereka segera diangkat menjadi CPNS.

“Kenapa kami selalu ada ketika presiden kunker? Karena hanya itu jalan satu-satunya untuk menyampaikan aspirasi. Meski kami dihalang-halangi paspampres, tapi kami tetap bisa bertemu presiden,” terangnya.

Dibalik itu, massa bidan desa PTT (Pusat) yang ikut dalam unjuk rasa kemarin (20/9), tidak sebanyak aksi 25-26 Agustus 2016. Jumlahnya hanya sekitar ratusan orang. Padahal, sebelumnya diklaim aksi hari ini akan mengerahkan 10 ribu massa.

Sejumlah bidan yang sempat diwawancara membenarkan kalau demo kali ini terbilang sepi. “Iya memang nggak banyak dibanding 25-26 Agustus. Soale keseringan demo sih,” kata salah satu bidan asal Jawa Tengah kepada JPNN, Selasa (20/9).

Demo yang digelar tidak sampai sebulan ini memang menyita waktu bidan. Apalagi demo kali ini berlangsung tiga hari. “Capek kalau demo terus. Tapi mau bagaimana lagi, daripada dinilai tidak berjuang mendingan ikut saja deh,” ujar bidan dengan logat jawanya yang kental.

Pantauan JPNN, lokasi demo depan Istana Negara memang tampak sepi. Para bidan yang tidak kuat dengan teriknya matahari, memilih menggunakan mukena untuk melindungi tubuhnya. Banyak juga yang memakai payung. Meski tidak kuat dengan panas, mereka tetap berada dalam arena.

Sementara Ketum Forum Bidan Desa (Forbides) PTT (Pusat) Indonesia Lilik Dian Ekasari mengungkapkan, gelombang massa masih berdatangan ke Jakarta. Apalagi demonya berlangsung tiga hari. “Jumlahnya nanti banyak kok, kan tiga hari demonya. Jadi rombongan bidan desa bertahap datang ke Jakarta. Kami tidak akan berhenti demo sebelum ada kepastian dari pemerintah,” tandasnya.

Selain itu, masalah hak kepastian kerja 42.245 orang Bidan Desa PTT (Pusat) tak kunjung selesai. Semakin lama semakin pelik. Padahal pemerintah sendiri telah mengakui bidan desa PTT (Pusat) sangat dibutuhkan di masyarakat pedesaan.

“Pengabdiannya sangat luar biasa di Republik kita ini. Namun kenapa pemerintah tidak cepat tanggap dalam menyelesaikan persoalanya,” kata Sekretaris Jendral Konfederasi Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI) Sunar.

Menurut Sunar, ini berbanding terbalik dengan kinerja bidan desa PTT. Profesi mereka dituntut untuk selalu disiplin, cepat, tanggap darurat, dan bertanggung jawab. Bahkan jam kerja para bidan desa PTT ini 24 jam standby. Sebab sewaktu-waktu mereka harus menangani proses persalinan ibu-ibu yang akan melahirkan bayinya.

“Mereka tidak mengeluh dan tidak merasa terganggu jika tengah malam, atau pagi buta ada yang memerlukan bantuanya menangani proses persalinan ibu melahirkan. Sebab sejak dari awal para bidan ini sudah tahu risiko bekerja menjadi seorang bidan desa,” ujarnya.

Dalam sekolah kebidanan juga sudah diajarkan tentang kedisiplinan, tentang sikap, dan juga tentang tanggung jawab profesi. Selain mengurus masalah persalinan, bidan desa juga bekerja membantu penyuluhan gizi, balita, imunisasi, penyuluhan kesehatan masyarakat.

Bahkan menolong dan membantu warga yang sakit. Terutama warga miskin, yang tidak sanggup berobat ke dokter atau rumah sakit. “Pertanyaanya, salahkah jika bidan desa PTT (Pusat) menuntut untuk diangkat sebagai PNS? Apakah tuntutannya berlebihan? Kan tidak! Karena pemerintah sadar, seharusnya orang yang bekerja untuk negara yang direkrut pemerintah itu layak menjadi PNS,” terangnya. (esy/sam/jpnn)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses