Blue Bird Bantah Dalangi Demo Anarkis

Blue Bird Bantah Dalangi Demo Anarkis
Sejumlah massa dari perusahaan angkutan umum, dan angkutan berbasis aplikasi online Nampak bersitegang, disela-sela unjuk rasa. Foto tmc Polda Metro Jaya.
Posted by:

JAKARTA – Blue Bird Group Holding membantah memobilisasi massa berunjuk rasa menolak kehadiran angkutan darat berbasis aplikasi online, Selasa (22/3). Bahkan, mereka membantah adanya isu membayar supir dengan sejumlah uang untuk berdemo.
Komisaris Blue Bird Group Holding Noni Purnomo menegaskan sangat tidak menganjurkan karyawan mereka demo. “Jadi, kami sudah mengimbau seluruh pengemudi untuk tidak ikut demo. Sudah sejak Minggu kami antisipasi,” ujar Noni dalam jumpa pers, Selasa (22/3) di Jakarta.
Dia menegaskan, sudah mengimbau dan meminta manajemen Blue Bird untuk turun ke lapangan membubarkan demo yang dilakukan supir mereka. Memang, kata dia, kondisi di lapangan ada beberapa kendaraan taksi Blue Bird yang masih terjebak di kerumunan massa, sehingga tak bisa meninggalkan lokasi. “Ada kendaraan yang tertutup. Mudah-mudahan bisa terselesaikan,” jelas Noni. Dia bahkan mendukung polisi untuk menindak tegas pendemo anarkis.
Di sisi lain, pihak Blue Bird Group Holding mengklaim tidak terganggu dengan kehadiran angkutan darat berbasis aplikasi online. “Ini bukan pertempuran konvensional dan online,” tegas Noni. “Kami sudah online sejak 2011,” imbuhnya.
Namun, kata dia, yang menjadi permasalahan adalah soal kesetaraan berbisnis dan aturan-aturan yang mesti ditaati. Misalnya, mulai dari izin pul, keamanan, maintenance, uji KIR berkala hingga rekrutmen pengemudi. “Jadi, banyak peraturannya,” katanya.
Noni mengatakan, Blue Bird sudah berdiri lebih dari 40 tahun. Selama ini jenis kompetisi berbeda-beda. Blue Bird berhasil melakukan inovasi dan adaptasi. “Blue Bird pertama kali menggunakan mobile application di dunia loh, bukan di Indonesia,” ujarnya.
Di sisi lain, kerusuhan yang terjadi akibat demo sopir taksi dan angkutan darat di Jakarta, Selasa (22/3), membuat layanan taksi online, seperti Grab Taksi, langsung bereaksi. Grab Taksi tetap melayani pemesanan, tapi ada tampilan beda di layar layanan aplikasi.
Tampilan itu berupa pesan saat pemesan taksi online akan masuk ke dalam layar pemesanan Grab Car, atau Grab Bike. Pesan itu berupa pemberitahuan bahwa masih ada unjuk rasa, dan peringatan terhadap pemesan grab car dan grab taksi.
“Kepada penumpang seluruh layanan Grab, unjuk rasa telah melumpuhkan lalu lintas di beberapa lokasi. Kami mengimbau seluruh penumpang dan Mitra pengemudi untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi. Pastikan keamanan dan keselamatan keluarga dan teman-teman terdekat,” bunyi pesan tersebut.
Terpisah, aksi demonstrasi para supir taxi konvensional di Jakarta pada Selasa (22/3), justru membawa berkah bagi para driver angkutan berbasis aplikasi online. Salah satunya Uber Taxi yang panen besar karena kebanjiran penumpang. Hal ini diungkapkan Budi, salah seorang pemilik mobil yang digunakan untuk usaha angkutan dengan sistem online.
Dia mengatakan, sejak pagi tadi, pesanan dari calon pengguna Uber, meningkat tajam. “Benar bos, justru peningkatan permintaan dari rider (istilah untuk calon penumpang-red) sangat tajam. Perkalian 490 saja diambil,” kata Budi, menjawab JPNN.com (Grup Palembang Pos), Selasa petang.
Yang dimaksud dengan perkalian 490 adalah terjadi kenaikan tarif dari biasanya. “Tarif naik 490 persen. Alhamdulillah, dua kali tarikan dapat Rp 500 ribu tadi pagi,” ungkapnya. Saat ditanya apakah ada pengendara Uber Taxi yang disweeping oleh taksi konvensional, Budi membantahnya. “Alhamdulillah enggak,” pungkasnya.

#Ahok Tanggapi Demo Sopir Taksi
Sedangkan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama menyatakan pemicu ribuan sopir taksi melangsungkan aksi mogok massal dan demo karena tarif yang berbeda antara Grab, Uber, dengan taksi konvensional.
Ahok, sapaan Basuki, menjelaskan, tarif taksi konvensional lebih mahal karena ada komponen biaya di antaranya untuk uji kelayakan kendaraan, perawatan rutin, bayar asuransi penumpang, gaji pengemudi, dan keuntungan operator. “Mereka biaya lebih mahal, sementara taksi yang menggunakan daring (Uber dan Grab) ini murah,” kata Basuki di Kenari, Senen, Jakarta, Selasa (22/3).
Mantan Bupati Belitung Timur itu mengatakan, perbedaan tarif antara layanan transportasi berbasis aplikasi dengan taksi konvensional mencapai setengah harga. Sebab, Uber dan Grab tidak mempunyai kewajiban untuk menyediakan pool taksi.
Hal senada disampaikan pengamat Transportasi Unika Soegijapranata Joko Triyono. Ia mengatakan, Uber dan Grab harua mengajukan izin perusahaan kendaraan umum. Kemudian, Joko menambahkan, pengemudinya juga harus memiliki kualifikasi dan waktu jam kerja.
Hal ini untuk menunjang keselamatan penumpang. “Jika masih tidak memiliki izin usaha operasi angkutan umum, polisi berhak menilang sesuai UU Nomor 22 Tahun 2009,” ungkap Joko.
Sementara Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat meminta taksi konvensional melakukan pembenahan sehingga bisa bersaing dengan layanan transportasi berbasis aplikasi.
Menurut Djarot, sudah saatnya perusahaan taksi konvensional mengantisipasi perubahan model layanan transportasi yang ada di masyarakat. Sebab, masyarakat ingin transportasi yang mudah, murah, cepat, nyaman dan aman.
“Jangan takut dengan perubahan ini, makanya harus betul-betul diantisipasi oleh para pengusaha transportasi di Indonesia. Sama seperti kemarin dengan ojek aplikasi,” kata Djarot di Balai Kota, Jakarta, Selasa (22/3).
Meski demikian, mantan Wali Kota Blitar ini meminta layanan transportasi berbasis aplikasi beroperasi sesuai aturan. Dalam Undang-Undang (UU) Nomor 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, perusahaan angkutan umum harus melengkapi tujuh syarat. Di antaranya, harus berbadan hukum, memiliki jumlah armada minimal lima unit, memiliki pool, dan uji KIR.
“Kami sudah ajak ngomong, sebaiknya semua harus ikut aturan main lah. Aturan mainnya seperti apa. Supaya persaingannya fair dan seimbang, karena terkait aturan main yang sama,” ungkap Djarot.

#Bakal Kena Sanksi Tegas
Di sisi lain, Blue Bird Group Holding akan menindak tegas jika ada sopir taksi armadanya, yang berbuat anarkis saat berunjuk rasa hari ini, Selasa (22/3). Komisaris Blue Bird Noni Purnomo mengatakan, pihaknya tengah melakukan investigasi untuk memastikan apakah ada atau tidak sopir yang bertindak anarkis.
Kalaupun ada bukti atau saksi yang melihat, dia menyilakan melapor kepada mereka. “Kami juga ada prosedur investigasi dan kami minta bantu pihak kepolisian,” ujar Noni didampingi Direktur Utama Blue Bird Adrianto Djokosoetono di Jakarta.
Dia menegaskan, kalau ada pelaku anarkis yang berasal dari Blue Bird maka akan diberikan sanksi paling tegas. Sanksi itu, kata dia, mulai dari pemecatan hingga memproses ke jalur hukum. “Tergantung jenis pelanggarannya,” seru Noni.
Ia mengklaim, Blue Bird sejak Minggu (20/3) kemarin sudah berkomitmen tak mendukung adanya demonstrasi. Karenanya, lanjut Noni, jika ada supir taksi Blue Bird yang bertindak anarkis akan disanksi tegas. Sepengetahuan dia, sejauh ini belum ada sopir taksi Blue Bird yang diamankan polisi. “Kami akan serahkan ke pihak kepolisian kalau sudah melakukan pidana. Mudah-mudahan tidak ada,” harap Noni.
Sementara itu, polisi akan mengusut pendemo-pendemo rusuh yang tertangkap kamera dan diunggah di media sosial. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes M Iqbal mengatakan, video atau foto di media sosial itu sudah menjadi bukti digital untuk polisi melakukan penegakan hukum.
“Bagi yang sudah terlihat anarkis di media sosial, itu kami akan melakukan penyelidikan dan penegakan hukum. Kami akan lakukan upaya paksa, dan itu sudah menjadi bukti digital buat kami,” ujar Iqbal di komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (22/3).
Saat ini, tim dari Direktorat Kriminal Khusus dan Umum Polda Metro Jaya sudah melakukan penyelidikan. “Tim kami sudah bekerja,” katanya. Selain itu, Kapolda Metro Jaya Irjen Moechgiyarto sudah memerintahkan semua jajaran apabila ada perbuatan pidana harus ditindak. “Ini negara hukum,” tegas Iqbal.

#Ojek Online Sweeping Taksi di Kota Kasablanca
Terpisah, driver ojek online membalas sejumlah aksi sopir taksi konvensional pada Selasa (22/3). Balas dendam ini dilakukan dengan aksi pemukulan sopir taksi di Kota Kasablanka, Tebet, Jakarta Selatan.
Sopir Pusaka Blue Bird Group, Abdul Rahman, 29, mengatakan, peristiwa itu terjadi sekitar pukul 11.30 WIB. Saat itu, dia tengah mengantarkan dua penumpang dari arah Jakarta Pusat menuju Kota Kasablanca. Namun, baru saja sampai di depan Kota Kasablanca, dia dicegat pengemudi ojek online berseragam hijau.
“Baru mau turun penumpang, tiba-tiba sekitar 12 orang menghadang saya. Saya diteriakin, kamu bawa sajam? Saya bilang tidak, saya sedang antar penumpang. Saya lalu disuruh keluar, penumpang saya juga,” ucap dia di Polsek Tebet, Selasa (22/3).
Dia mengklaim bahwa sejumlah driver ojek online menuduhnya membawa senjata tajam dan terlibat untuk melakukan sweeping. “Lalu, mereka merusak spion kanan mobil. Kap mesin mobil dirusak pakai besi, dashboar mobil diacak-acak, dan bagasi mobil dirusak juga,” jelasnya.
Abdul mengaku hanya membawa peralatan kunci untuk keperluan mobilnya apabila mogok di jalanan. Namun, mereka justru ingin memukulinya. Begitu juga dengan penumpang yang nyaris dipukuli lantaran membelanya. “Mereka saya hadang saat mau memukuli itu. Saya lalu ke Polsek (Tebet) untuk laporin kejadian ini,” tuturnya.
Sementara itu, Kanit Reskrim Polsek Tebet Iptu Mudiran menyatakan, pihaknya akan memproses semua laporan yang masuk hari ini. Saat ini, mobil taksi yang dirusak pengemudi ojek online itu sudah dikandangkan sebagai bukti atas tindak anarkis para pelaku itu. “Sopir taksi sedang diperiksa. Sedang mobil taksinya ada di Polsek Tebet dijadikan bukti. Kejadiannya itu tadi tepat dekat mal Kokas. Para pelaku sedang kami selidiki,” tandas Mudiran. (Mg4/boy/jpnn)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses