Bukti Masih Lemahnya Pengawasan

Bukti Masih Lemahnya Pengawasan
Posted by:

PALEMBANG – Pabrik tahu potongan warna putih yang menggunakan pengawet formalin di Jalan Setunggal, Lorong Sekolahan, Kelurahan 8 Ilir, Kecamatan Ilir Timur (IT) III Palembang, digerebek pihak kepolisian Polda Sumsel Jumat (13/4/18), sekitar 07.00 WIB. Penggerebekan yang dilakukan bersama Tim dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Kota Palembang.
Dalam penggerebekan itu, polisi bersama Tim BPOM menyita barang bukti (BB) berupa 8000 potongan tahu warna putih yang telah dicampur pengawet formalin yang siap dipasarkan. Saat hendak disita, tahu tersusun rapi disimpan dalam ember bekas tempat cat. Bersama BB polisi mengamankan sang pemilik pabrik atas nama Ahong alias Sani ke kantor polisi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Dari pantauan Palembang Pos, kondisi lokasi pabrik tahu yang cukup besar itu terlihat kurang terjamin dan tak higienis (memenuhi standar kesehatan). Dimana dalam pabrik itu, ada mesin pengelola tahu, setumpuk papan kayu bekas untuk pembayaran yang terlihat lusuh. Menurut Wikipedia, formalin diperuntukan bagi pembersih lantai, kapal, gudang dan pakaian, . mengawetkan mayat atau bangkai. Sedangkan penggunaan salah, yakni diperuntukan bahan mengawetkan ikan segar, ayam potong, mie basah juga tahu.
Setelah membawa pemilik atas nama Ahong alias Sani bersama BB, polisi langsung memasang garis polisi di Tempat Kejadian Perkara (TKP). Sementara para karyawan pabrik tahu yang masih muda-muda dan berusia sekitar 20-25 tahun, hanya duduk-duduk menyaksikan sang bos ditahan. Dari pengakuan Ahong alias Sani, penggunaan bahan pengawet formalin sengaja dia lakukan agar tahu tahan lama serta tidak cepat pecah dan rusak.”Yaitu kalau gak pake formalin, tahu inikan cepat rusak. Kalau pakai ini jadi tahan lama. Saya lakukan baru 4 bulanan menggunakan pengawet. Mencampurkan zat formalin ketika tahu sudah siap dijual,” ungkapnya.
Ahong yang mengaku, telah memproduksi tahu selama 2 tahun membantah seluruh tahunya diberi pengawet mayat tersebut. “Kalau untuk pedagang keliling tidak dikasih, karena pedagang tidak mau. Kalau mau dijual keluar itu baru diberi (dicampur formalin,Red),” ujarnya. Dari penjual tahu setiap harinya Ahong menambahkan, dirinya berhasil meraup keuntungan hingga Rp 500 ribu. ]
“Tahu ini di jual ke Pasar Lemabang dan Pasar Perumnas. Bedanya dengan dicampuri formalin, tahu lebih tahanan lama, tidak mundah hancur. Untuk bahan formalin ada yang mengantar ke pabrik ini,” timpalnya.
Kapolda Sumsel, Irjen Pol Zulkarnain Adinegara SIk MH menegaskan, dalam setiap hari produksi tahu yang siap edar akan lebih dulu diberi pengawet supaya tahan lama, bisa sampai seminggu. “Barulah tahu ini diedarkan ke pasar tradisional sama pedagang disana. Sudah cukup lama juga dari pemeriksaan 4 tahun tempat ini berproduksi dengan tahu dicampur pengawet,” ungkapnya.
Dalam produksinya lanjut Zulkarnain, pelaku Ahong dapat menghasilkan 8000 tahu perhari. “Setiap satu ember ini isinya 100 potong tahu warna putih, seluruhnya ada 80 ember total 8000 tahu setiap harinya dibuat. Untuk 8000 tahu ini dibutuhkan 1,5 liter pengawet formalin. Tentu ini sangat membahayakan kesehatan masyarakat” jelasnya.
Mantan Kabid Humas Polda Metrojaya dan Mabes Polri ini menegaskan, penggerebekan pabrik tahu nakal ini menjadi peringatan bagi pembuat makanan lainnya yang dengan sengaja melakukan bahan pengawet berbahaya.”Tidak hanya tahu, mie basah juga janganlah ya dicampur pengawet seperti ini. Inikan bahaya sekali untuk kesehatan kita. Gimana coba, si tersangka ini mau gak makan tahu yang dicampur mie basah, kan tidak mau,” ujarnya.
Dengan nada geram Mantan Kapolda Riau ini mengatakan bila masih saja ada pengusaha bandel dan melawan, maka jangan salah bila akan ditahan di penjara. “Pelaku kita jerat dengan tiga pasa. Yakni UU Pangan, UU Perlindungan Konsumen, dan UU Kesehatan dengan pidana diatas 5 tahun,” jelasnya.
Sementera Anggota DPRD Sumsel Fraksi NasDem, Drs H Elianuddin meminta pelaku diberikan sanksi seberat-beratnya. Karena apa yang mereka lakukan bukan hanya merusak kesehatan bahkan membunuh satu atau dua orang saja, tetapi ribuan orang yang memakan zat berbahaya itu. ”Karena mengonsumsi formalin akan merusak kesehatan, bahkan bisa memicu timbulnya penyakit-penyakit mematikan seperti kanker, getah bening dan lainnya. Oleh sebab itu pelakunya harus diberi hukuman yang sangat berat,” tegas pria yang sudah 10 tahun ini tidak makan tahu lantaran banyak yang berformalin.
Terkait masalah ini, Elianuddin menilai, ini bukti masih lemahnya pengawasan pemerintah dan pihak terkait lainnya. ”Bayangkan pabrik itu sudah beroperasi selama 2 tahun koq baru sekarang ketahuan. Untuk itulah kami selaku dewan meminta pemerintah daerah melalui dinas terkait serta BPOM rutin turun ke lapangan mengecek apakah makanan yang beredar sudah memenuhi standar kesehatan atau belum. Selain itu BPOM juga harus transparan mengumumkan produk yang berbahaya itu kepada masyarakat. Jangan diam-diam seperti yang sering terjadi,” tukasnya.
Kalau memang tidak sanggup lanjut Elinuddin, dirinya mengimbau pemerintah membagikan alat deteksi formalin serta deteksi zat kimia berbahaya lainnya kepada masyarakat. ”Karena bila tidak, masa depan generasi muda bangsa ini akan semakin buruk. Kalau negara lain seperti Malaysia sangat bisa memprotek makanan yang dikonsumsi warganya, mengapa kita tidak bisa,” katanya. (adi/del)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses