Cagub Kian Gencar Lobi Pusat

Cagub Kian Gencar Lobi Pusat
hasil survei calon gubernur Sumsel
Posted by:

Palembang
Semakin mendekati pendaftaran, bakal calon gubernur-wakil gubernur Sumsel kian gencar melakukan lobi-lobi ditingkat pusat, untuk mendapatkan tiket untuk maju pilkada. Sebagai bahan pertimbangan, DPP melihat hasil survei dari masing-masing kandidat balon gubernur Sumsel.

Direktur Stratakindo, Octarina Soebardjo mengatakan, saat ini balon gub lagi gencar-gencarnya melobi pusat untuk mendapatkan dukungan. Namun partai politik justru meminta data perkembangan dukungan di lapangan, hal itu wajar karena dalam pemilihan langsung, keterpilihan calon kepala daerah tergantung pada seberapa ia dikenal, disukai dan dipilih.

Pada akhirnya kunci keberhasilan dan kemenangan kandidat dalam Pilkada ditentukan oleh pemilih. Partai hanya mengantar, partai menjadi kendaraan politik, pemilih yang memutuskan. ”Dalam pemilihan langsung suara setiap pemilih mempunyai nilai yang sama. Karena itu, kuantitas pemilih menjadi faktor penting dalam Pilkada. Karakteristik demografis, kondisi psikologis dan kecenderungan perilaku pemilih penting untuk diketahui. Pemahaman mengenai peta pemilih secara objektif pasti diperlukan partai politik dan stakeholder pilkada, demikian juga pengetahuan terhadap aspirasi publik,” bebernya.

Karena itulah Stratakindo Research and Consulting menggelar survei opini publik pilkada Sumsel 2018 untuk yang ketiga kalinya. Octarina menyatakan, publik boleh-boleh saja mengetahui peta kekuatan para kandidat yang akan maju dalam Pilkada, dan melalui survei akan diketahui seberapa tinggi kandidat yang muncul dikenal, disukai, dan seberapa banyak mereka diinginkan oleh pemilih untuk menjadi kepala daerah.

Dari hasil survei ketiga Pilkada Sumsel yang dilakukan Stratakindo dilaksanakan dari 5 – 10 September 2017, populasi survei adalah seluruh masyarakat sumsel yang sudah berumur 17 tahun atau lebih, atau sudah menikah. Jumlah sampel yang ditetapkan sebanyak 820, dengan margin of error sebesar ± 3,5% pada tingkat kepercayaan 95%. Responden terpilih diwawancarai secara tatap muka oleh pewawancara terlatih.

Selanjutnya peneliti Stratakindo lainnya, Hasan Asy’ari memaparkan, temuan pokok dari survei lembaganya yaitu terjadinya kenaikan elektabilitas dari beberapa kandidat. Pada survei 2 – 10 Juni 2017 elektabilitas 14 nama secara tertutup, Syahrial Oesman berada di angka 20,7 persen, pada survei 5 – 10 September 2017 bergerak sedikit ke angka 21,7 persen. Herman Deru bergerak naik lebih banyak, dari angka 17,8 persen naik ke angka 19,2 persen. Sementara Dodi Reza Alex memecahkan rekor, naik dari 8,8 persen naik ke 14,6 persen, artinya naik sebanyak 5,8 persen. Ishak Mekki dari 11,7 naik ke 12,2 persen kemudian Aswari Riva’i merangkak dari angka 5,8 persen ke 6,3 persen namun dua tokoh PDI Perjuangan dalam dua survei berurutan diketahui tidak mengalami perubahan elektabilitas secara signifikan, Edy Santana Putra berada di angka 3,3 persen dan Giri Ramanda Kiemas di angka 2,2 persen.

Hasan Asy’ari juga memaparkan temuan popularitas dan kesukaan responden terhadap kandidat. Lima besarnya adalah Syahrial Oesman dikenal oleh 82,1 persen dan disukai oleh 79,8 persen, Herman Deru dikenal 78,2 persen, disukai 80,2 persen, Ishak Mekki dikenal 66,4 persen dan disukai oleh 73,8 persen, Dodi Reza Alex Noerdin dikenal olej 58,8 persen dan disukai 51,6 persen, kemudian Edi Santana Putra dikenal oleh 55,6 persen dan disukai 52,2 persen.

Ditambahkan oleh Octarina Soebardjo, tiga besar hasil survei kali ini adalah Syahrial Oesman dengan capaian elektabilitas sebesar 21,70 persen yang 12,70 persennya adalah pemilih militan. Posisi kedua diduduki Herman Deru dengan elektabilitas 19,20 dan pemilih militan 8,2 persen kemudian posisi ketiga ditempati Dodi Reza Alex Noerdin meraih nilai elektabilitas 14,60 persen dengan pemilih militan sebanyak 7,4 persen.

Octarina menyatakan peta masih mungkin berubah karena militansi pemilih semuanya masih rendah. Dari empat kandidat yang memiliki elektabilitas teratas punya potensi untuk bertempur satu sama lain. Bisa jadi ada yang dapat kendaraan bisa juga ada yang tidak, bergantung pada kemampuan masing-masing pihak menganalisis dan membaca peluang.(del)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses