Dampak Meluasnya Perkebunan

Dampak Meluasnya Perkebunan
Posted by:

 

 

Habitat Buaya Punah

KORBAN keganasan buaya muara di Kabupaten Banyuasin terus bertambah hampir setiap tahun. Terbaru korbannya, Iwan Gumelar (31), warga

Desa Sri Tiga, Kecamatan Sumber Marga Telang, Kabupaten Banyuasin.

Iwan tewas diterkam buaya saat sedang memancing di Sungai Desa Sri Tiga, Sumber Marga Telang berbatasan dengan sungai arah Banyuasin II dan

Tanjung Lago, Sabtu  (28/07/18) yang lalu,sekitar pukul 22.00 WIB.   Saat ditemukan, tubuh Iwan tinggal separoh. Mirisnya, usus dan hatinya terburai di

sungai.

Mengapa buaya terus memangsa manusia? Salah satu faktor buaya kerap muncul di daratan karena keringnya beberapa sungai, sehingga konsumsi

makanan bagi hewan melata ini jadi berkurang.

‘’Menyempitnya sungai ini diakibatkan karena lahan perusahaan sawit di Kabupaten Banyuasin bertambah meluas,’’ kata  Surahman, Kepala Seksi

Wilayah I BKSDA Sumsel kepada koran ini, kemarin.

Menurutnya, masyarakat yang jadi korban keganasan buaya  akan terus terjadi.  Disebabkan habibat buaya muara yang semakin sempit, karena dijadikan

lahan Hak Guna Usaha (HGU) oleh perusahaan dan perkebunan oleh warga sekitar.

“Bisa saja terjadi keganasan buaya pada bulan – bulan berikutnya,” ujarnya lagi. Pihaknya menilai habibat buaya muara tiap tahun, semakin tergerus.

“Jadi buaya muara itu berpindah tempat, yang bersinggungan langsung dengan manusia,” tuturnya.

Sebagai contoh kejadian di Desa Sri Tiga, Kecamatan Sumber Marga Telang, Banyuasin, ada buaya menerkam warga sedang mancing. “Biasanya buaya

berada di rawa – rawa, tapi begitu dibuka serta tergerus oleh pembukaan lahan. Maka buayanya pindah ke pinggir-pinggir sungai,” tukasnya.

Selain di Sumber Marga Telang, Pulau Rimau, Talang Kelapa dan Sembawa juga seperti itu, karena pembukaan lahan. Kejadian seperti ini tidak hanya

terjadi di Banyuasin, tapi juga di kabupaten/kota lainnya seperti Muba. Jadi adanya perubahan cuaca musim kemarau yang mengakibatkan air asin

berpindah, kata Surahman, tidak ada dampak sama sekali terhadap buaya muara itu.

Tidak hanya itu saja, pakan buaya yang juga semakin menipis juga sangat mempengaruhi sekali. “Sehingga buaya mulai ganas, karena pakan

makanannya mulai menipis,” ungkapnya. Sementara itu, H Agus Sutikno SE MM MBA Anggota DPRD Sumsel Daerah Pilihan (Dapil)  Banyuasin

mengatakan, banyaknya warga yang meninggal ataupun cacat akibat diterkam buaya, jadi perhatian serius pihaknya.

Menurutnya, kian banyaknya buaya yang tinggal didekat pemukiman penduduk, adalah akibat dari habitat mereka yang telah dialih fungsikan menjadi

perkebunan dan lainnya. sehingga buaya-buaya ini mencari tempat baru yang kebetulan dekat pemukiman penduduk.

Kalau sekarang banyak warga yang menjadi korban buaya, menurut Agus itu adalah tanggung jawab pemerintah. ”Ini menjadi tanggung jawab pemerintah,

terutama mereka yang telah mengeluarkan ijin seenaknya kepada perkebunan untuk membuka lahan seluas-luasnya, tanpa memperhatikan dampak

lingkungan, serta satwa yang ada,” kata Agus.

Untuk itu, Agus meminta pemerintah menaggapi masalah ini dengan serius, karena ini adalah dosa pemerintah yang begitu gampang memberikan

izin, tanpa mempertimbangkan  memberikan perlindungan kepada msayarakat.

”Sudah lebih dari 15 tahun saya keluar masuk daerah Banyuasin maupun Muba, tetapi aman-aman saja dan tidak ada buaya. Namun akhir-akhir ini hewan

pemakan daging tersebut kian banyak, dan ini harus dicari penyebabnya dan ditangani dengan serius. Sehingga warga tidak resah,” tukasnya. (cw04/del)

 

 

 

 

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses