Dangdut Koplo Sampai House Music

Dangdut Koplo Sampai House Music
Posted by:

Palembang, Palembang Pos.-
Rekaman video CD  yang berisikan lagu-lagu live show dari beberapa  pemilik organ tunggal (OT) yang sedang manggung di berbagai daerah tampaknya lebih diminati oleh masyarakat ketimbang CD maupun VCD  Original yang diproduksi oleh studio rekaman.
Rekaman yang berisikan lagu-lagu remix dan house music yang dimainkan oleh pemain organ tunggal ini sangat diminati oleh masyarakat. Disamping irama music yang dimainkan memang cukup bagus dan kualitas rekaman yang cukup baik, terkadang CD OT ini menyajikan penampilan vulgar dari para biduanitanya.
Fenomena penjualan CD lagu dangdut bernuansa koplo dan house musik  yang diduga diproduksi oleh pemilik  organ tunggal dan orkes melayu di pasaran, memang bukan hal baru dalam dunia hiburan di tanah air. Bahkan  di beberapa tempat hal tersebut sudah dianggap lumrah oleh kalangan masyarakat di Indonesia.
Dalam CD, tak jarang mempertontonkan kemolekan tubuh sang biduanita saat bernyayi dan bergoyang hingga gerakan-gerakan yang mengumbar syahwat. Ini menjadi modal utama dalam bisnis tersebut. Tak jarang pula dalam pembuatan video, pemilik OT maupun orkes melayu melakukan syuting saat acara hajatan di rumah warga tempat mereka di sewa
Deni (bukan nama sebenarnya, red) warga Puncak Sekuning, sekaligus pemilik  salah satu Organ Tunggal yang cukup ternama di kota Palembang, mengaku sudah 3 tahun menggeluti usaha yang disebutnya sampingan itu. Bahkan dirinya juga secara blak-blakan mengakui bahwa produksi kepingan kaset tersebut tak memakai izin alias Ilegal
“Itu sebenarnya cuma bisnis sampingan, mengisi kekosongan di saat job manggung sepi, kita produksi sendiri dengan cara  membakar video yang sudah direkam melalui handycam saat manggung di hajatan warga. Untuk izin sepertinya tidak perlu karena kita juga produksinya  hanya sedikit, paling banyak hanya 100 keping CD perbulannya,” ungkapnya kepada Palembang Pos
Dikatakan Deni, usai diproduksi, ratusan keping CD  tersebut biasanya langsung diborong oleh penampung dengan harga per keping berkisar Rp 3.000 – Rp 4.500. Kemudian disalurkannya pada kios – kios penjualan kaset kaki lima  di beberapa tempat pusat perbelanjaan dan pasar tradisional di kota  Palembang. “Biasanya ada yang nampung, kemudian disalurkan ke pedagang kaset CD  di pasar “ terangnya
Sementara Yusuf Setiawan (36) juga pengusaha organ tunggal, mengaku mengetahui adanya fenomena tersebut, namun dirinya tak pernah memproduksi kepingan CD semacam itu.
“Saya sering dengar dan lihat CD seperti itu, tapi kita dak pernah ikut-ikutan produksi, usaha OT saja sudah cukup, apa lagi materi dalam kaset tersebut tak jarang mem pertonton kan wanita-wanita dengan goyangan yang terbilang erotis dan berbau pornografi, kalau CD semacam ini terus di produksi di pastikan moralitas bangsa ini akan bobrok,” jelasnya.
Sementara di Kayu Agung, CD jenis ini juga menjadi incaran pembeli. Menurut Yan (30) salah seorang penjual VCD di Pasar Kayuagung mengatakan, hingga saat ini setidaknya lebih dari  4 nama Organ tunggal yang rekamannya sudah beredar dipasaran dalam bentuk VCD, rekaman ini banyak dicari oleh masyarakat terlebih lagi jika lokasi tempat manggungnya adalah didalam kecamatan Kota Kayuagung.
“Rekaman VCD Organ Tunggal cukup diminati, seperti OT Pesona, STS, AKA dan Innova,  selain lagunya bagus ada video shootingnya,” katanya.
Menurutnya, penjualan VCD rekaman organ tunggal ini akan meningkat drastis ketika lokasi mainnya tidak jauh dari dalam kecamatan kota Kayuagung atau sekitarnya. Banyak warga yang mencari jualan rekaman tersebut terutama yang kebetulan ikut menyaksikan secara langsung hiburan OT diwilayah tersebut.
“Seperti beberapa waktu yang lalu, salah satu organ tunggal itu main didaerah kijang ulu kecamatan kayuagung, banyak warga yang mencari rekaman VCD nya dipasar,” jelas Yan.
Rekaman yang dijual kepasaran tersebut, menurutnya, bukanlah illegal akan tetapi memang berasal dari pemilik orgen tunggal yang selanjutnya diperbanyak oleh masing-masing pengusaha VCD rekaman organ tunggal.
“Rekaman itu satu set diserahkan ke warga yang memiliki hajata, sementara masternya dijual kepada pengusaha VCD seharga Rp 50 ribu per satu master  rekaman, setelah dapat masternya kita perbanyak itu dijakarta,” cetusnya.
Untuk setiap penjualan satu keping VCD rekaman ini dijual kepada masyarakat sebesar  Rp. 5.000 per kepingnya.
“Saya jual Rp. 5 ribu per keping, kadang ada yang menawar,” katanya, seraya mengatakan hingga saat ini belum ada warga mengaku keberatan jika rekaman VCD itu beredar luas.
Sementara itu menurut warga Kayuagung, Doyok (28)  dirinya lebih senang membeli VCD yang berisikan rekaman house music atau remik dari organ tunggal, disamping lagunya bagus-bagus juga rekaman videonya terdapat beberapa orang yang dikenali. 
“Saya setuju saja pak dengan VCD rekaman organ, harganya lebih murah dan music serta rekamannya bagus dan tidak sama dengan rekaman yang lain,” katanya.
Hal serupa juga terjadi  Baturaja, Ogan Komering Ulu (OKU). Pantauan di lapangan, Sabtu (15/2), setidaknya ada lebih dari lima orang penjual khusus VCD bajakan di Pasar Atas dan Pasar Baru Baturaja.
Para pedagang itu secara terang-terangan mengedarkan VCD bajakan, khususnya VCD OT maupun house music dengan harga bervariasi antara Rp5.000-Rp7.000 perkeping.
Dila (19), salah seorang penjual CD bajakan di sekitar Stasiun Kereta Api Baturaja mengaku, peminat musik OT saat ini sangat banyak. “Rata-rata yang membeli VCD OT bajakan di sini adalah anak muda,” ungkapnya.
Adapun jenis OT yang paling laris dijual adalah OT Inova, Pesona dan STS. Baru yang terakhir paling diminati adalah VCD house music. “Entah kenapa sekarang musik OT lebih diminati ketimbang house musik,” katanya.
Menurut dia, dalam sehari bisa menjual 2-5 keping VCD OT bajakan. “Satu keping VCD saya dapat untung Rp1.000. Barang ini kami biasanya pesan dari Pasar Cinde Palembang,” ungkapnya.
Sementara pantauan di sejumlah acara hajatan di OKU, ternyata memang saat ini sudah sangat jarang menyajikan orkes dandut. “Sekarang orang-orang yang punya hajat lebih suka menyewa Orgen Tunggal ketimbang okestra. Meski sewanya lumayan mahal yakni dikisaran Rp2 juta-Rp4 juta untuk sekali tampil. Namun antusias penonton yang hadir sangat tinggi,” ungkap Dori (25), warga Baturaja.
Kendati demikian lanjut Dori, meskipun yang punya hajat suka mengabadikan acaranya di video, namun hanya untuk konsumsi pribadi. “VCD OT bajakan yang banyak beredar saat ini adalah dari Ogan Ilir dan Palembang. Adapun nama OT yang banyak VCD nya adalah Inova, Pesona dan STS,” pungkas Dori. (vot/cr04/len)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses