Dewan Akan Panggil Manajemen PT PGE

Dewan Akan Panggil Manajemen PT PGE
Dua warga yang tewas
Posted by:

MUARA ENIM – Project Manager PT Pertamina Geothermal Energy (PT PGE), Febri, mengaku akan diapanggil DPRD Muara Enim terkait kasus tewasnya tiga orang warga Desa Muara Dua, Kecamatan Semende Darat Laut (SDL), di lokasi pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi (Geothermal) di Desa Penindaian, Kecamatan Semende Darat Laut, Muara Enim, yang terjadi beberapa hari lalu.

“Tanggal 10 nanti atau hari Senin mendatang kita dipanggil DPRD dan akan kita jelaskan kronologis kejadian itu ,” jelas Febri, yang berhasil dihubungi melalui ponselnya, Kamis (6/9).

Menurutnya, korban yang meninggal tersebut bukan disebabkan dari gas panas panas bumi. Melainkan disebabkan dari gas buang mesin genset yang digunakan untuk penerangan listrik di lokasi sumur klaster 9.

“Dua yang meninggal itu bekerja sebagai scurity pada PT KJS untuk mengamankan pekerjaan proyek yang dilaksanakan PT IKPT. Karena pembangunan pembangkit listrik itu dilakukan perusahaan kontraktor PT IKPT bekerjasama dengan PT KJS,” jelas Febri.

Pada malam itu kondisi cuaca sedang hujan. Kedua korban yang bekerja sebagai scurity bertugas di pos jaga sumur klaster 9 dengan penerangan menggunakan mesin genset. Lokasi pos jaga itu jaraknya sekitar 30 meter dari sumur klaster 9.

Selama ini mesin genset itu diletakkan cukup jauh dari pos penjagaan tersebut. Tetapi, karena pada malam itu kondisi cuaca hujan, sehingga mesin genset tersebut dipindahkan di dekat pintu pos penjagaan. Sehingga gas buang mesin genset atau CO (Karbon Monoksida) masuk ke dalam pos tersebut. Diduga kedua korban meninggal akibat gas buang mesin genset tersebut.

Kemudian, lanjutnya, yang satu lagi, juga bekerja sebagai scurity bertugas di pos penjagaan depan kantor besar dan cukup jauh dari lokasi sumur.

Pada pagi itu, lanjutnya, dia (korban-red) merasa sakit dada dan sempat diperiksa oleh dokter. Dia selama ini mengalami gejala sakit darah tiggi, namun tidak rutin meminum obat.

Karena kondisinya sakit, lanjutnya, maka disuruh berobat kerumah sakit. Kemudian pihak perusahaan telah menghubungi istri nya memberitahukan bahwa suaminya sakit.

Selanjutnya yang bersangkutan dibawa menggunakan mobil menuju rumah sakit PT BA Tanjung Enim. Ketika dalam perjalanan, bertemu dengan istrinya yang tengah mengarah menuju tempat korban bekerja.

Lantas istrinya ikut bersama mobil tersebut untuk membawa yang bersangkutan ke rumah sakit. Karena kondisi jalan rusak, lantas itrinya menyarankan melalui jalan dari Pulau Panggung, supaya lebih cepat. Namun ketika dalam perjalanan, tiba tiba yang bersangkutan mengalami kejang kejang hingga meninggal dunia.

“Jadi yang bersangkutan meninggal dunia tidak ada hubungannya dengan sumur maupun dengan mesin genset tersebut. Tetapi memang dia riwayatnya selama ini mengidap sakit darah tunggi dan tidak rutin meminum obat,” jelasnya.

Diberitakan sebelumnya, warga Desa Muara Dua, Kecamatan Semende Darat Laut (SDL) Muara Enim menjadi gempar dan ketakutan. Soalnya tiga orang warga desa itu yang bekerja sebagai scurity di proyek pembangunan pembangkit listrik geothemal (panas bumi) Lumut Balai, dilaksanakan PT Pertamina Geother Energy (PGE) di Desa Penindaian, Kecamatan Semende Darat Laut, Muara Enim, tewas secara mengenaskan.

Belum diketahui secara pasti penyebab tewasnya ketiga warga tersebut. Namun berdasarkan informasi yang beredar, ketiganya diduga tewas akibat keracunan gas Geothermal (panas bumi).

Ketiga warga itu tewas selama dua hari berturut turut mulai Senin-Selasa (3/4/9) ketika bertugas melakukan pengamanan di lokasi proyek nasional tersebut. Dari ketiga korban yang tewas, dua diantaranya tewas secara bersamaan pada hari Senin (3/9) malam hari.

Kedua korban diketahui bernama Agung (28) dan Norwijayadi (26), keduanya warga Desa Muara Dua, Kecamatan Semende Darat Laut. Kemudian korban ketiga tewas pada Selasa (4/9) sekitar pukul 08.00 WIB bernama Arumin (38), warga desa yang sama.

Arumin tewas dengan mengalami sesak napas ketika melaksanakan tugas penjagaan di lokasi proyek tersebut. Korban sempat dilarikan ke Puskesmas setempat, namun nyawanya tidak terotolong lagi.

Sedangkan Agung dan Norwijayadi, juga mengalami sesak napas dan tubuhnya langsung menjadi lemas diduga tewas di lokasi proyek tersebut.

Informasi yang diperoleh, ketika korban bekerja sebagai scuroty di proyek pembangunan listrik panas bumi. Mereka sudah bekerja cukup lama di proyek tersebut. Malam itu korban Agung (28) dan Norwijayadi (26) bertugas melakukan pengamananan pada malam hari.

Mereka melakukan penjagaan di pos pengamanan yang telah disiapkan manajemen proyek. Kondisi cuaca tengah hujan, sehingga mereka berada di dalam pos penjagaan. Ketika berada di dalam pos tersebut, tiba tiba napas mereka menjadi sesak dan tubuhnya langsung dan tewas.

Pihak perusahaan sempat membawa kedua korban ke Puskesmas setempat, namun nyawa kedua korban sudah tak tertolong lagi. Kejadian serupa juga dialami Arimin (38) yang bertugas pada malam Selasa. Tiba tiba napasnya menjadi sesak. Tetapi dia sempat dilarikan ke Puskesmas setempat, namun nyawanya tidak tertolong lagi.

“Ketika korban meninggal diduga akibat keracunan gas. Kita minta supaya permasalahan ini diselesaikan sampai tuntas oleh manajemen PT PGE. Karena kami tidak ingin terjadi lagi korban berikutnya,” jelas kerabat korban yang juga Ketua Karang Taruna Muara Enim, Ludy Jhansi, Selasa (4/9).

Kapolres Muara Enim, AKBP Afner Juwono melalui Kabag Opsnya, Kompol Indra Andeta, ketika dikonfirmasi membenarkan adanya kejadian tersebut. “Laporan yang kami terima dua orang yang meninggal, saya belum tahu kalau hari ini (kemarin-Red) ada satu lagi korban yang meninggal. Kita masih melakukan penyelidiki untuk mendalami kasus ini. Apakah ada kelalaiannya atau tidak,” jelas Irwan yang berhasil dijumpai di ruang kerjanya, Selasa (4/9).

Menurutnya, tim dari Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) bersama tim identifikasi Polres Muara Enim, sudah melakukan penyelidikan ke lokasi proyek Geothermal tersebut. Dalam penyelidikan tersebut, tim mengukur kadar gas dari masing masing sumur pembangkit panas bumi menggunakan alat khusus.

Kemudian tim juga mengukur gas beracun mesin genset yang digunakan sebagai penerangan listrik di lokasi proyek yang letaknya berdekatan dengan pos penjagaan tempat para korban bertugas.

“Dari hasil pemeriksaan sementara, korban diduga tewas akibat keracunan gas monoksida. Bukan keracuna gas panas bumi (geothermal),” jelasnya.

Karena, lanjutnya, penerangan malam hari di lokasi proyek tersebut masih menggunakan mesin genset, bukan listrik PLN. Mesin genset tersebut letaknya berdekatan dengan pos penjagaan tempat korban beristirahat.

Diduga asap mesin genset tersebut masuk ke dalam pos, sehingga korban keracunan gas asap mesin genset. Meski demikian, lanjutnya, pihaknya masih terus melakukan penyelidikan kasus tersebut. (luk)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses