Di Mana KONI Sumsel?

Di Mana KONI Sumsel?
Posted by:

 

PALEMBANG –  Di tengah prestasi yang telah diraih dan telah mengharumkan nama Sumsel, dua atlet Muay Thai berprestasi Sumsel Ega Saputra dan M Rizky Fitriansyah justru menelan kekecawaan. Pasalnya, latihan yang sudah dilakukan jauh hari sebelum kegiatan kejuraan Nasional Muay Thay tidak dapat diikuti karena biaya transpotasi yang tidak dimiliki para atlit.

Pertanyaannya, dimanakah KONI Sumsel yang selama ini mengurus berbagai kebutuhan atlet dari persiapan atlet, memfasilitasi hingga memberangkatkan mengikuti berbagai kejuaraan baik nasional maupun internasional? Apalagi masalah yang menimpa atlet Muay Thai ternyata juga menimpa atlet-atlet di cabang lainnya walaupun dalam kondisi berbeda.

Ahmad Yani, pengurus cabor Wushu mengungkapkan,  selama ini cabang olahraga (cabor) Wushu selalu mendanai sendiri semua kebutuhan untuk pertandingan mereka, mulai dari dana transport, dana makan para atlet, hingga perlengkapan yang dibutuhkan atlet pada saat pertandingan.

“Memang selama ini, dari pihak KONI sendiri tidak memberikan bantuan pendanaan dari awal atau bahkan sebelum pertandingan, jadi kami dulu yang menanggung semua biaya pertandingan lalu kemudian pihak KONI akan menggantinya,” katanya.

Kepada Palembang Pos, Ahmad Yani juga mengatakan jika pada dasarnya cabor wushu juga diperlakukan sama seperti cabor-cabor yang lain. “Sama saja, untuk sarana dan prasarana belum begitu memadai. Kami dari Wushu ini belum memiliki tempat latihan yang layak pakai, untuk peralatan yang menunjang latihan juga menggunakan alat yang seadanya,” tambahnya.

Saat disinggung terkait perhatian KONI sendiri, Ahmad Yani mengungkapkan rasa kekecewaannya. “Sebenarnya kita para penggiat olahraga ini sangat berharap kepada KONI, karena mereka seperti sumber penghidupan bagi cabang-cabang olahraga di Sumsel ini. Tapi sebenarnya untuk perhatian ke cabor yang ada di Sumsel, mereka sudah memiliki perhatian itu, hanya saja perhatian tersebut tidak dimaksimalkan sehingga masih ada pihak yang merasa dipersulit dengan kinerja KONI yang seperti ini,” ujarnya.

Hal senada dikatakan Ketua Pengprov Ikatan Sepeda Sport Indonesia (ISSI) Sumatera Selatan (Sumsel), Dodi Sohe. Dia mengatakan, untuk mengadakan atau menggelar baik itu Kejuaraan Daerah (Kejurda), Kejuaraan Nasional (Kejurnas) dan akan mengikuti Pekan Olahraga Nasional (PON) pihaknya selalu mengajukan bantuan dana ke Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sumsel.

“Ya, kita tahun ini akan menggelar kejurda, nah untuk menggelar kejurda ini kita mengajukan bantuan dana ke KONI Sumsel,” katanya. pihaknya mengajukan bantuan dana ke KONI Sumsel tersebut dikarenakan pihaknya mendengar bahwa pihak KONI memang mengalokasikan bantuan dana kepada Pengprov yang akan menggelar atau mengikuti sesuatu. “Karena mendengar hal itulah, kenapa tidak kita coba untuk mengajukan bantuan. Dan berdasarkan pengalaman selama ini berjalan lancar saja,” ujar Dodi.

Dodi mengungkapkan, untuk besaran bantuan yang akan diberikan KONI Sumsel kepada pihaknya. dirinya tidak mengetahuinya karena itu kewenangan dari pihak KONI Sumsel. “Kalau untuk besaran dana yang akan dibantu oleh KONI Sumsel kita tidak tahu. Namun yang jelas kita akan tetap mengadakan Kejurda, artinya berapapun yang diberikan KONI Sumsel kita tetap akan menggelar Kejurda ini,” ungkapnya.

Selanjutnya  Ketua Umum Woodball Sumsel, Sunnah NBU mengatakan, sejauh ini untuk olahraga Woodball masih lebih banyak berjuang sendiri. Bahkan untuk kejuaraan nasional (Kejurnas) di Kaltim pada 16-20 November lalu, juga menggunakan biaya pribadi.

“Kita sudah mengajukan bantuan ke KONI tapi belum cair sampai hari ini karena memang prosedurnya panjang,” kata Sunnah. Untuk mendapatkan bantuan, lanjut Sunnah, memang ada syarat dan ketentuannya. “Kalau untuk Kejurnas Koni hanya menyetujui 4 atlet putra-putri, satu pelatih. Sedangkan kami yang berangkat ada 25 orang terdiri dari Manager, Official, Pelatih, Atlet single, mix double dan tim,” bebernya.

Selain itu, lanjut Sunnah, pihaknya juga sudah meminta bantuan perlengkapan untuk atlet. Namun, juga sampai saat ini belum ada. “Bahkan ada saat Kejurnas, atlet membawa peralatan sendiri,” ungkapnya.

Ke depan, lanjut Sunnah, pihaknya berharap birokrasi di KONI dipangkas, sehingga pengajuan bantuan dana bisa ada percepatan. Kemudian, kiranya bantuan yang diberikan bisa ditingkatkan sesuai dengan prestasi cabang olahraga yang mengajukan.

“Kami juga berharap, untuk Porprov Tahun 2019 yang akan datang di Prabumulih Woodball sudah dipertandingkan karena persyaratan terbentuknya di kabupaten/kota terpenuhi. Dan Woodball sudah dimasukkan dalam Program Sriwijaya 2020, karena Woodball dipertandingkan di PON Papua 2020. Selain itu, untuk atlet-atlet Woodball berprestasi bisa diberikan uang pembinaan seperti cabang olahraga lainnya,” harapnya. (cw05/ika/str)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses