Diduga Dialih fungsi, Hutin Dikrosscek

Diduga Dialih fungsi, Hutin Dikrosscek
Posted by:

 

 

PAGARALAM – Masih adanya areal hutan lindung yang disinyalir dialihfungsikan, Dinas Kehutanan Provinsi Sumsel akhirnya terjun ke lapangan, melihat lebih dekat areal yang saat ini sudah menjadi perkebunan sayur warga.

Bersama personel Polhut dan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Dempo X Pagaralam, kroscek areal di kawasan Gunung Dempo tak jauh dari kawasan Tugu Rimau.

Kondisinya, puluhan hektare di lokasi ini sudah menjadi lahan terbuka sebagai perkebunan sayur yang digarap belasan warga.  Kepala KPH Dempo X Pagaralam, Yurdan SHut, melalui Kasi Rehabilitasi Hutan Lindung, Lonedi SHut mengatakan lokasi yang dicek personel KPH bersama personel Polhut dan perwakilan Bidang Perlindungan dan Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekosistem Dishut Provinsi Sumsel menuju Tugu Rimau.

“Lokasi ini tak jauh dari aliran sungai Ayek Betung, namun masih masih wilayah Kelurahan Dempo Makmur,” kata dia.  Dijelaskannya, tim yang terjun langsung menemui sejumlah warga yang menggarap lahan sayur di sana. “Kita sekaligus mensosialisasikan kawasan (hutan lindung, red). Ada sekitar 25 hektar areal perkebunan sayur yang digarap sekitar 18 orang warga,” kata dia seraya mengatakan, menurut penuturan sejumlah warga bahwa mereka sudah lama bercocok tanam di sana.

Tujuan peninjauan lokasi tersebut sekaligus inventarisir hutan kawasan yang ada di wilayah Pagaralam. Lonedi menuturkan bahwa di lokasi ini dari data KPH bahwa dahulunya terdapat batas BW (Boswezen, red). Batas ini merupakan batas hutan lindung peninggalan Belanda. “Namun saat ini sudah tidak ada lagi (menghilang, Red),” kata dia.

Mengenai batas BW peninggalan Belanda ini, lanjut Lonedi, sudah dilakukan pengukuran titik ordinatnya pada tahun 2012 silam. “Kendati hilang, namun ada titik ordinatnya batas BW ini,” ujar dia menegaskan.

Ditambahkan Penyidik KPH Dempo Pagaralam, Harman SHut, didampingi Firman SHut, pengecekan yang dilakukan bersama pihak provinsi, pihaknya juga melakukan sosialisasi mengenai dampak kerusakan hutan jika dilakukan pembukaan lahan, terlebih lokasinya tak jauh dari aliran sungai.

“Di lokasi yang kita cek tersebut tak jauh dari aliran sungai Ayek Betung, kita khawatir ke depan jika tidak dilakukan antisipasi, pembukaan lahan akan semakin ke atas. Dengan kata lain di kawasan lindung. Ya, imbasnya, lambat laun mengancam ketersediaan sumber air di Pagaralam, padahal hutan Pagaralam sendiri merupakan paru-paru Sumsel,” singgungnya. (cw08)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses