Disidang Kode Etik Peradi

Disidang Kode Etik Peradi
Posted by:

Palembang – Advokat Defi Sepriadi SH alias Defi Iskandar SH, menjalani sidang kode etik oleh Dewan Kehormatan Daerah Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) Sumsel, Jumat (09/02/2018) sore. Sidang tersebut sebagai respon atas laporan H Dian Utama kepada Peradi.

Bertindak sebagai majelis hakim, Ketua Yustinus Joni SH, anggota Maramis SH MH, Ust Umar Said, Sobrian Midarsah SH, dan Masnun SH. Panitera Kepala Dewan Kehormatan Daerah Peradi Sumsel Sri Lestari Kadariah SH membenarkan adanya sidang kode etik tersebut.

“Benar ada sidang kode etik bagi advokat Defi Sepriadi SH karena aduan dari pak Dian Utama,” kata Sri Lestari.
Dijelaskannya, Dewan Kehormatan Daerah akan memeriksa seorang pengacara yang diduga melakukan pelanggaran kode etik Peradi. “Ini baru sidang kedua masuk pembuktian. Masih belum ada keputusan,” imbuh Sri Lestari.
Sementara Kuasa hukum pengadu, Lisa Merida SH membeberkan pelaporan masalah kode etik tersebut. Lisa menyebut Defi Iskandar patut diduga telah melakukan profesi dengan melebihi dan berlebihan.

Lisa menjelaskan, kejadian bermula ketika kliennya membuat kos-kosan sekitar 2016 silam. Diceritakan Lisa, kemudian tiba-tiba dipermasalahkan Defi pada 12 Februari 2017. “Kamu ini bangun kos-kosan ada izin lingkungan dak, ada IMB dak, ada izin tetangga dak. Kalau tidak ada, bangunan ini bisa dirobohkan. Kamu tau dak, pagar yang di samping rumah aku, itu aku yang merobohkannya,” kata Lisa menirukan ucapan Defi yang diceritakan oleh pengadu.
Tak lama kemudian, ada surat dari Ketua RT setempat untuk perdamaian dengan rincian biaya Rp 30 juta. Lantaran tidak ingin memperpanjang keributan, pengadu akhirnya menyerahkan uang Rp 30 juta kepada Hj Saniem (klien Defi Sepriadi) yang disaksikan sejumlah pihak.

Kemudian, dikatakan Lisa, ada permintaan lagi Rp 150 juta yang langsung ditolak oleh pengadu. Setelah ditolak, diungkapkan Lisa, banyak surat resmi yang dikeluarkan Defi Iskandar ke Walikota Palembang, Camat, Lurah, Sekolah, serta Tempat Kerja pengadu. Pihak Kecamatan kemudian mendatangi kos-kosan pengadu dan tiba-tiba Defi muncul dan kembali ada perbincangan.“Kau kurang ajar, aku beli perkara di pengadilan akan menyusahkan kehidupan kamu sampai kapanpun,” ucap Defi ditirukan Lisa.

Kalimat menyusahkan itu, dijelaskan Lisa sangatlah tidak pantas dilontarkan dan diduga melanggar kode etik. Setelahnya muncul 4 gugatan kepada Dian Utama dan dua diantaranya sudah ditolak pengadilan. “Kita ajukan kode etik bukan tanpa alasan. Kita juga sudah melaporkannya secara pidana dan statusnya tersangka di kepolisian dengan sangkaan pencemaran nama baik dan pemerasan. Dalam waktu dekat P21,” tegas Lisa.

Sementara Defi Sepriadi SH ketika dibincangi membantah atas semua tuduhan yang dilayangkan. “Katanya selaku kuasa hukum Hj Saniem ada maki-maki saudara Dian Utama. Saya jelaskan bahwa tidak pernah melaukan hal-hal yang dituduhkan. Saya bertindak dalam perkara klien. Saya sudah sampaikan ke Peradi untuk dihadirkan saksi-saksi, minta buktikan di sidang kode etik Peradi,” tegasnya.

Ditambahkan M Wisnu Oemar, selaku kuasa hukum Defi Iskandar, pengaduan tersebut menurutnya telah melebar ke hal-hal yang bukan etika profesi. “Jadi tidak masuk etik Peradi. Dari saksi saksi kami berikutnya, saudara Defi tidak pernah mengatakan demikian. Kami mohon hakim etik ini untuk berindak bijak dan adil, jangan terpengaruh dengan kata-kata yang diduga didramatisir pengadu yang bersumpah demi Allah dan Rasul,” pungkasnya. (kie)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses