Ditahan, Jessica Belum Dijenguk Keluarga

Ditahan, Jessica Belum Dijenguk Keluarga
Posted by:

JAKARTA – Jessica Kumala Wongso ditahan Polda Metro Jaya pada Sabtu (30/1) malam. Namun, pihak keluarga belum akan mengunjungi tersangka kasus pembunuhan terhadap Wayan Mirna Salihin itu.

“Belum ada jenguk untuk hari ini karena terbentur jadwal. Keluarga juga akan belum datang hari ini,” kata pengacara Jessica, Yudi Wibowo saat dihubungi, Minggu (31/1). Yudi belum memastikan kapan pihak keluarga akan mengunjungi Jessica. “Belum ada rencana, kami masih sibuk mengurusi berkas,” ucapnya.

Meski penahanan sudah dilakukan terhadap kliennya, Yudi mengatakan, hingga saat ini pihaknya juga belum menerima berita acara pemeriksaan (BAP). “Sampai hari ini belum,” ungkapnya.

Seperti diberitakan, Jessica merupakan tersangka pembunuhan Wayan Mirna Salihin yang meninggal setelah minum kopi bercampur sianida. Penyidik Polda Metro Jaya menjerat Jessica dengan Pasal 340 KUH Pidana tentang pembunuhan berencana. Ancamannya hukuman mati atau pidana penjara seumur hidup atau paling lama 20 tahun.

#Kompolnas: Di CCTV Ada Gerakan Pindahkan Gelas
Sementara itu, kasus pembunuhan Wayan Mirna, yang semakin menggema usai Polda Metro Jaya menetapkan tersangka, menjadi perhatian serius Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas). Sabtu (30/1) malam, Kompolnas yang diwakili oleh Edi Hasibuan mendatangi markas polda untuk melihat pemeriksaan tersangka, J alias Jessica Kumala Wongso.

Kedatangan Edi, selain untuk memastikan prosedur penahanan Jessica, juga untuk menanyakan perihal CCTV ke kepolisian. Edi mengatakan, rekaman CCTV di kafe tempat Mirna tewas bisa menjadi petunjuk utama polisi. “Di CCTV terlihat gelas diangkat, ada gerakan memindahkan gelas, tapi lokasinya sangat jauh dari CCTV. Paling tidak itu bisa jadi petunjuk polisi,” katanya.

Dia mengingatkan, jika memang petunjuk CCTV tersebut digunakan, maka polisi harus bisa membuktikan ada kaitan Jessica di dalamnya. Tapi menurut Edi, hal tersebut merupakan kewenangan polisi untuk menjelaskan. “Saya lihat penyidik memiliki kesimpulan bahwa mereka yakin betul Jessica itu tersangka, dan tentunya kami minta polisi jika sudah yakin maka penyidik harus siap,” ujarnya.

Terpisah, penjaga rumah keluarga Mirna, Subur menuturkan bahwa pihak keluarga sudah mengetahui bahwa Jessica Kumala ditangkap setelah ditetapkan sebagai tersangka kasus pembunuhan Wayan Mirna. Ibunda Mirna, Santi, mengetahuinya saat pagi hari menonton televisi.

“Saat itu, saya sempet dengar ibunya histeris dan menangis. Mungkin teringat anaknya,” tuturnya ditemui kemarin di rumah mirna, Jalan Sunter Garden Blok D3. Setelah mengetahui Jessica ditangkap, sang ibu memberitahukan pada suaminya atau ayah Mirna, Darmawan Salihin.

“Saat itu pukul 09.00, sang suami pergi. Saya gak tahu kemana, apakah ke kantor atau ke polda,” tuturnya. Ibunda Mirna, lanjutnya, masih enggan untuk berkomentar. Hal itu tentunya dikarenakan masih sedih ditinggal anaknya. “Ibu Santi masih didalam, dia tidak mau keluar,” ujarnya.

#Jika Praperadilan, Perang Intelektual

Di sisi lain, Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes M. Iqbal mengatakan, pihaknya siap apabila kubu Jessica Kumala Wongso mengajukan praperadilan. “Kalau kami sudah sampai proses penyidikan, kami harus antisipasi (praperadilan),” kata Iqbal saat dihubungi, Minggu (31/1).

Iqbal mengatakan, praperadilan merupakan hak tersangka. Sehingga, ia tidak mempermasalahkan apabila kubu Jessica mengajukan praperadilan. “Kita perang intelektual, makanya teori pembuktian yang dimiliki penyidik Polri itu harus kuat, scientific,” ujar Iqbal.

Kepolisian pun terus memperkuat alat bukti terkait kasus yang menjerat Jessica. “Alat buktinya bukan hanya dalam proses penetapan dan penahanan tetapi dalam proses pemberkasan perkara,” ucap Iqbal.

Pernyataan Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes M Iqbal mengatakan, pernyataan itu disampaikan menanggapi permintaan pengacara Jessica, Yudi Wibowo, agar polisi memperlihatkan rekaman CCTV di Cafe Olivier, tempat kejadian perkara.

“Enggak ada urusan CCTV minta dibuka pengacara, itu kan alat bukti. Alat bukti enggak perlu dibuka,” kata Iqbal saat dihubungi, Minggu (31/1). Iqbal menjelaskan, alat bukti terkait kasus Mirna akan dibuka pada saat proses persidangan. Alat bukti itu termasuk CCTV. “Nanti aja di pengadilan. Pengacara tugasnya mendampingi saja,” ucap Iqbal.

Ada yang Menyusun Pembunuhan Mirna
Jessica Kumala Wongso ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan berencana Wayan Mirna Salihin. Namun, Psikolog Forensik Reza Indragiri Amriel tetap berkeyakinan bukan Jessica yang membunuh Mirna.

Lalu apa yang membuat Reza begitu yakin bahwa bukan Jessica yang membunuh Mirna? Berikut petikan wawancara reporter JPNN.com (Grup Palembang Pos), Yessy Artada (Y), dengan Reza Indragiri Amriel (R) di Cikini, Jakarta, Sabtu (30/1).

Y: Jessica sudah ditetapkan menjadi tersangka pembunuh Mirna, tanggapan Anda?
R: Ini situasi seperti mimpi buruk. Yang kita lihat, ketika teman-teman di Polda mengalami kekikukan, itu terasa. Yang muncul adalah sanksi sosial, intimidasi dari masyarakat. Itu justru menjadi penyiksaan bagi Jessica.

Y: Apa yang membuat Anda yakin bukan Jessica pembunuh Mirna?
R: Kita lupa bahwa alat instrumen di sana itu racun. Kalau cerurit, badik, pistol dan sebagainya itu mengharuskan pelaku berhadapan langsung dengan pelakunya. Nah, karena si pelaku ini sengaja ingin mengambil jarak dengan si korban dan dia nggak ingin perbuatannya ditangkap oleh kamera, nggak ingin orang banyak ketahui. Dari situlah saya berpendapat, walaupun korban dan lokasinya di situ, tapi pelaku nggak ada di situ.
Ini seperti teori klasik, sebuah teori usang. Namanya teori usang segitiga kejahatan. Kejahatan itu bisa terjadi kalau ada tiga unsur yaitu ada korban, ada lokasi dan ada pelaku. Polisi memanfaatkan teori ini, karena korban, lokasi ada di situ, maka pelaku ada di situ juga.

Y: Apa yang Anda lihat dari kasus pembunuhan Mirna ini?
R: Saya sampai detik ini nggak yakin (Jessica pembunuh Mirna). Ini adalah mengincar pembunuh yang tidak sebenarnya. Saya masih menduga ini salah sasaran. Ini kacau balau penataannya, kasus racun tapi salah sasaran. Pembunuhan salah sasaran.

Y: Mengapa Anda melihat ini salah sasaran? Racun itu kan jelas-jelas ada di kopi Vietnamese yang Mirna minum dan yang pesan Jessica?
R: Pelaku kejahatan punya kalkulasi. Tapi dalam kasus ini instrumen kejahatan yang digunakan tidak sebanding dengan kejahatannya.

Y: Maksudnya?
R: Alat kejahatannya racun sianida, itu bukan tergolong racun yang dijual bebas di swalayan atau bisa dibeli di toko-toko pinggir jalan. Siandia nggak bisa didapatkan oleh sembarang orang. Itu (sianida) hanya bisa dibeli lewat saluran khusus, melalui online karena si calon pelaku harus masuk ke resensi tertentu lebih dulu. Isi data-data dulu, termasuk untuk apa dia akan menggunakan racun itu. Kalau ternyata data nggak singkron, maka akan ditolak dan nggak bisa beli sianida.
Kemudian, takarannya juga gila-gilaan 15 gram. Padahal dengan takaran yang sedikit saja sudah mematikan. Nah sianida ini digunakan oleh seseorang untuk membunuh Mirna, yang dia nggak terlibat skandal, nggak simpan rahasia negara dan sebagainya. Jadi sangat nggak sebanding dengan korban yang kehilangan nyawa ini.

Y: Niat pelaku menggunakan sianida 15 gram?
R: Orang ini pengin sungguh-sungguh si korban nggak mau dievakuasi sama sekali. Jadi benar-benar dibuat mati. Jadi pelaku ini sungguh-sungguh memboroskan, sungguh-sungguh mahal, sungguh-sungguh menyusahkan diri sendiri. Seharusnya, korbannya harus setara dengan nilainya.

Y: Tapi beberapa pakar ekspresi wajah, pakar hypnoterapi melihat bahwa Jessica berkata tidak jujur dan ada fakta yang dia sembunyikan dalam kasus tewasnya Mirna?
R: Imajinasi saya dikatakan berlebihan, analisis saya musnah total hanya dengan seseorang melihat gerak tubuh orang. Selama 5 menit sudah dikatakan Anda bersalah. Mendeteksi mata, gerak gerik tubuh itu bukan jadi acuan apakah orang itu salah atau benar.
Di Amerika dari sekian banyak hanya tersisa 4-5 pakai lie detector, sisanya menganggap (lie detector) itu sampah. Di sana nggak memperbolehkan lie detector dipergunakan sebagai instrumen alat. Jadi bukan kalau matanya berkedip-kedip, itu tanda-tanda kecemasan, itulah Indonesia ini perlu kami cerdaskan.

Y: Kalau bukan Jessica, siapa kira-kira pembunuh Mirna?
R: Saya bilang matang dalam persiapan, tapi kacau balau pada pelaksanaannya. Orang yang terlibat pembunuhan itu hanya satu orang. Ada yang menyusun pembunuhan itu. Tentunya itu tugas polisi untuk mengungkap.

Y: Dengan ditetapkannya Jessica sebagai tersangka, apa Anda yakin modus pembunuhan Mirna akan terungkap?
R: Saya nggak yakin kasus ini bisa terungkap meski Jessica sudah ditangkap. (gil/gun/idr/ano/ril/jpnn)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses