Empat Napi Dulu, Sisanya Tunggu Giliran

Empat Napi Dulu, Sisanya Tunggu Giliran
Freddy alias Fredi Budiman.
Posted by:

JAKARTA – Kejaksaan Agung (Kejagung) akhirnya mengeksekusi hukuman mati atas gembong narkoba Jumat (29/7) dini hari di Pulau Nusakambangan. Namun, dari 14 gembong narkoba yang masuk daftar eksekusi, hanya empat yang dihadapkan ke regu tembak.

Empat terpidana mati yang akhirnya dieksekusi adalah Freddy alias Fredi Budiman, Seck Osmone, Michael Titur, serta Humprey Ejike. “Eksekusi sudah dilakukan pukul 00.45 terhadap empat orang masing-masing Fredi, Humprey alias Doktor, Seck Osmane dan Michael Titus,” kata Jaksa Agung Muda Pidana Umum Kejaksaan Agung Noor Rachmad menjawab JPNN, Jumat (29/7) dini hari.

Fredi Budiman alias Freddy alias Budi bin Nanang Hidayat merupakan gembong narkoba kelas kakap di Indonesia. Ia terbukti bersalah karena menyelundupkan 1,4 juta butir ekstasi ke Indonesia. Ia divonis mati Pengadilan Negeri Jakarta Barat. Putusan pertama itu dikuatkan di tingkat banding Pengadilan Tinggi DKI Jakarta dan Kasasi Mahkamah Agung.

Upaya Fredi lolos dari hukuman mati lewat peninjauan kembali (PK) pun kandas. MA pada 20 Juli lalu menolak upaya PK yang diajuk Fredi. Sedangkan Seck Osmane merupakan gembong narkoba Nigeria berpaspor Senegal. Dia ditangkap karena memiliki 2,4 kilogram heroin di Jakarta Selatan dan divonis mati PN Jaksel 2004.

Kemudian ada Michael Titus asal Nigeria. Dia ditangkap 22 Agustus 2002 di BSD Tangerang, karena kedapatan memiliki tiga kilogram heroin siap edar. Titus divonis mati oleh PN Tangerang pada Oktober 2003.

Berikutnya adalah Humprey Ejike alias Doktor asal Nigeria. Dia ditangkap karena kedapatan menyimpan 1,7 kilogram heroin 2 Agustus 2003 di sebuah restoran Tanah Abang, Jakarta Pusat. Doktor divonis mati pada 2004 di PN Jakpus.

Eksekusi kali ini hanya dilakukan terhadap empat terpidana meski sebelumnya beredar 14 nama yang masuk daftar untuk didor. Namun, sepuluh terpidana mati lainnya tinggal menunggu giliran. Menurut Noor, eksekusi akan dilakukan pada periode berikutnya. “Tentu di periode yang akan datang dikaji kembali,” ujar Noor saat jumpa pers di Cilacap.

Informasi yang dihimpun, jenazah Fredi Budiman akan dibawa Surabaya, Jawa Timur. Ia akan dikubur di Makam Bharatu Sedayu, Jalan Krembangan Baru VII nomor 6 A, Surabaya. Sedangkan Seck Osmane akan dibawa ke Rumah Sakit Santo Carolus, Jakarta Pusat, adapun Michael Titus akan dibawa ke RS Cikini. Yang terakhir adalah Humprey akan dibawa ke Krematarium, Banyumas, Jawa Tengah.

Sejak 2015, Kejaksaan Agung sudah tiga kali mengeksekusi terpidana mati perkara narkotika. Eksekusi jilid pertama digelar Januari 2015. Saat itu, ada enam terpidana mati yang meregang nyawa di tangan tim eksekutor. Yakni, Marco Archer Cardoso Mareira (Brazil), Daniel Enemua (Nigeria), Ang Kim Soe (Belanda), Namaona Dennis (Malawi), dan Rani Andriani atau Melisa Aprilia (Indonesia).

Lima napi itu dieksekusi di Lapas Nusakambangan. Sedangkan satu napi lainnya, Tran Thi Hanh (Vietnam) dieksekusi di Boyolali, Jawa Tengah. Eksekusi jilid dua digelar April 2015. Delapan narapidana ditembak mati.

Kedelapan terpidana mati yang dieksekusi adalah Myuran Sukumaran dan Andrew Chan (Australia), Martin Anderson, Raheem A Salami, Sylvester Obiekwe, dan Okwudili Oyatanze (Nigeria), Rodrigo Gularte (Brasil); serta Zainal Abidin (Indonesia). Total sudah 18 narapidana yang dieksekusi.

#Sudah Sebut Permintaan Terakhir, Batal Dieksekusi

Sementara itu, Merry Utami tidak termasuk dalam terpidana mati yang sudah dieksekusi di Nusakambangan, Jawa Tengah, Jumat (29/7) dinihari. Meski demikian, menurut Kuasa hukum Merry dari LBH Masyarakat, Arinta Dea, kliennya sudah sempat mengajukan permintaan terakhir. Yakni minta dikunjungi dua cucunya yang berusia 3 bulan dan 4 bulan.

Wanita yang memilih latar belakang buruh migran ini, menurut Arinta, tetap tegar menghadapi kabar eksekusi mati yang akan dihadapinya. Justru Merry menguatkan jiwa anaknya yang berusia 24 tahun yang justru khawatir dengan nasib ibunya.

Selain bertemu dengan cucunya, Merry juga menyampaikan permintaan terakhir agar jasadnya dimakamkan di kampung halamannya. “Dia meminta dimakamkan di Magetan,” kata Arinta Dea yang pada Selasa tak bisa ikut masuk ke Lapas Nusakambangan mendampingi keluarga Merry karena terganjal persoalan administratif.

Di sisi lain, terpidana mati asal Nigeria, Michael Titus Igweh, termasuk salah satu dari empat gembong narkoba yang sudah didor di Nusakambangan, Jumat (29/7) dinihari. Saat dikunjungi terakhir kali oleh kakak iparnya, Nila, di Lapas Batu Rabu (27/7), Titus dalam kondisi menyedihkan.

Tubuhnya kurus, tidak memiliki nafsu makan. Titus juga marah-marah, merasa eksekusi mati yang ditanggungnya wujud dari ketidakadilan. “Pada saya Titus berpesan minta keadilan. Ia meminta saya memperjuangkan dirinya lepas dari eksekusi mati,” kata Nila yang gagal menemui Titus di Lapas Nusakambangan Kamis (28/7) kemarin karena terganjal administasi perizinan.

Nila juga menegaskan, permintaan kliennya untuk bertemu istri dan empat anaknya belum dipenuhi. Kamis pagi kemarin, istri Titus, Felicia, sedang menuju Indonesia dari Afrika Barat. Jika Titus dieksekusi sebelum bertemu istrinya, dia menyatakan akan protes keras ke Presiden Jokowi. (boy/mg4/sam/jpnn)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses