Freddy Budiman, Sejak Kecil jadi Bandit

Freddy Budiman, Sejak Kecil jadi Bandit
Freddy alias Fredi Budiman.
Posted by:

SURABAYA – Gus Sholeh Marzuki, salah satu guru spiritual Freddy Budiman mengatakan sahabatnya itu sudah bertobat sejak terlibat kasus narkoba. Freddy juga rajin salat dan puasa sejak dipenjara dan mendapatkan hukuman eksekusi mati.

”Dia bilang minta maaf kepada seluruh warga Indonesia, dia menyesal atas apa yang sudah diperbuatnya,” ungkap pria gondrong itu. Namun, ada gambaran yang berbeda didapat Jawa Pos seusai menghadiri pemakaman Freddy kemarin. Salah seorang kerabat yang namanya tidak mau disebutkan mengatakan sejak remaja Freddy sudah dikenal sebagai bandit.

Artinya, dia sudah berbisnis copet dan jambret dengan kawan-kawannya. Terutama di pasar-pasar daerah Krembangan. Pria itu menyebut hal itu memang tidak ditunjukkan Freddy di lingkungannya. Freddy yang sudah tidak niat sekolah sejak SMP tidak ingin nama keluarganya tercoreng karena kelakuannya.

”Buktinya, adiknya sekarang juga di Nusakambangan. Bisnis haram yang dijalani itu tetangganya pasti tahu. Cuman diam saja karena sering diberi bantuan sama Freddy,” terang yang mengenakan topi hitam saat bertemu JPNN seusai pemakaman itu.

#Enam Keanehan Pengakuan Freddy

Sementara mantan Deputi Bidang Pemberantasan Badan Nasional Narkotika (BNN) Irjen (Purn) Benny Mamoto menilai, ada enam kejanggalan di balik cerita tereksekusi mati, Freddy Budiman. Menurut dia, tulisan berjudul Cerita Busuk dari Seorang Bandit yang diekspos oleh Koordinator KontraS, Haris Azhar itu, harus diuji kebenarannya.

Pertama, Benny memandang, mengapa tulisan Haris tersebut baru diekspos setelah sumber utamanya, Freddy Budiman dieksekusi mati. Haris menimbulkan polemik di tengah-tengah masyarakat, sedangkan polisi tidak bisa mencari tahu kebenarannya lantaran Freddy sudah tewas.

“Kenapa tidak sebelumnya diekspos. Dia (Haris) katanya tahu itu 2014, sementara sudah lama Freddy isunya dieksekusi mati?. Freddy itu sudah tidak bisa dikonfirmasi. Kalau Freddy masih hidup mungkin bisa diselidiki,” kata Benny.

Kedua, dalam tulisan Haris, dia mengaku, tidak bisa mencari pengacara Freddy dan tidak menemukan isi pledoi pengadilan. Menurut Benny, Haris seakan memudahkan hal yang tidak mungkin disembunyikan dalam pengadilan.

“Coba pelajari tulisannya di alinea-alinea terakhir. Itu tulisannya dia coba cari pledoi tidak dapat, coba cari lawyer tidak dapat. Nah sementara kalau di dalam PK (peninjauan kembali) ada lawyernya. Kalau benar si Freddy sudah mengucapkan pasti ada di dalam plaidoi. Masak sekelas KontraS, tidak bisa mencari pengacara. Kemudian kalau sudah dibacakan di dalam sidang itu pasti sudah geger media mem-blow up informasinya,” beber Haris.

Ketiga, kata dia, saat hendak dikonfirmasi kepada Haris terkait kebenaran tulisan tersebut, pihak Mabes Polri tidak menemukan jawaban yang tepat. Kapolri Jenderal Tito Karnavian sendiri mengutus Kadiv Humas Polri Irjen Boy Rafli untuk menyelami kebenaran tulisan Haris.

“Saya juga mengapresiasi Kapolri karena cepat tanggap dengan mengutus Pak Boy. Tapi jawabannya “Saya kan hanya menyampaikan pesan bahwa ada keterlibatan aparat”. Jadi kami harus bagaimana kalau sudah begini. Kami harus tanya mayat,” ujar Benny.

Keempat, Benny menilai, Polri tidak punya kewenangan dalam mengeksekusi mati seseorang. Sehingga, tulisan Haris yang menyatakan Polri membungkam Freddy tidak tepat. “Dibilangnya gara-gara hukuman mati malah dituduh Polri membungkam Freddy. Padahal dari dulu isunya Fredi sudah mau dihukum mati. Eksekutornya juga Kejagung. Kami tidak tahu apa-apa, dieksekusi karena keputusan Kejagung, tiba-tiba Polri dibilang membungkam,” terang dia.

Kelima, Benny memandang, ucapan seorang pengguna narkoba tidak bisa dipegang sepenuhnya. Apalagi, kata dia, Fredi merupakan pengguna kelas berat, yang fungsi otaknya tidak bekerja dengan baik.

“Jelas ngomongnya ngaco karena dia pemakai berat. Saya sudah memeriksa banyak orang dari sipil, kolonel, danlanal. Kalau diperiksa ya ngomongnya ngaco. Padahal kalau mungkin informasi tersebut terkuak saat Freddy hidup dan dia tidak pakai narkoba mungkin bobot kebenaran dari yang disebutkan tadi itu bisa diselidiki,” jelasnya.

Keenam, pria yang sering kali menangani sepak terjang Freddy ini, juga menampik bahwa BNN tidak pernah membawa Freddy ke Tiongkok. Dia mengklaim, otoritas Tiongkok tidak mungkin mengeluarkan izin kepada Freddy, mengingat yang bersangkutan kriminal.

“Yang terjadi faktanya penyidik dari Tiongkok datang ke Lapas Cipinang, Jakarta Timur, untuk kepentingan berkas perkara pemilik narkoba yang ada di Tiongkok. Mereka ini satu jaringan. Dia saat itu diperiksa sebagai saksi untuk berkas perkara mereka, karena pemasoknya, ditangkap. Masak dia berhalusinasi terbang ke Tiongkok. Yang benar aja,” tandas Benny.

#Warga Ramai Selfie

Di sisi lain, jenazah gembong narkoba Freddy Budiman langsung dimakamkan ke tempat pemakaman umum Kalianak setelah dibawa ke rumah duka sejenak. Jenazah Freddy ini dimakamkan di dekat makam keluarganya. Ribuan warga pun mengiringi kepergian mafia kelas kakap ini.

Setelah sempat disemayamkan di rumah duka, jenazah Freddy dibawa ke Masjid Nurul Islam, yang tak jauh dari kediamannya di Jalan Krembangan Baru Surabaya. Di masjid ini, jenazah Freddy disalati kerabat serta warga sekitar.

Teriakan dan iringan doa pun menggema di pemakaman umum Mbah Ratu tersebut. Bahkan, banyak warga yang antusias mengikuti pemakaman tak segan untuk mengabadikan momen tersebut lewat ponsel pribadi masing-masing.

Ditemui usai mengikuti prosesi pemakaman, Soleh Marzuki yang merupakan teman sepermainan Freddy, mewakili pihak keluarga, meminta maaf kepada warga Surabaya khususnya, dan masyarakat Indonesia.

Meski Freddy harus menerima konsekuensi dengan menjalani hukuman mati akibat terlibat kasus narkoba, Soleh tetap mengajak masyarakat yang masih melakukan bisnis narkoba, agar segera bertobat.

Harapannya, peristiwa yang menimpa Freddy tidak kembali terulang. Meski Freddy adalah bandar besar narkoba yang tewas akibat menjalani hukuman mati, tapi tak sedikit warga yang ber-selfie di makamnya usai prosesi pemakaman.

#Mabes Polri Sudah Ketemu Haris Azhar

Selain itu, Kapolri Jenderal Tito Karnavian menunjuk Kadiv Humas Polri Irjen Boy Rafli untuk bertemu Koordinator KontraS, Haris Azhar. Haris diketahui membuat tulisan tentang Cerita Busuk dari Seorang Bandit, yang kabarnya merupakan curahan hati tereksekusi mati, Fredi Budiman.

Boy mengatakan, sudah bertemu dan berbicara dengan Haris mengenai tulisannya itu. Namun, Boy mengaku tidak mendapatkan sesuatu yang dianggap penting. “Kami sudah ada pertemuan. Kalau konten tidak ada yang berbeda, dari konten yang ada di WhatsApp itu. Dia berbicara seperti suasana Pak Haris menerima informasi itu dari almarhum Fredi Budiman pada 2014, dua tahun yang silam. Intinya, informasi yang kami terima tidak jauh berbeda, dalam tulisan yang telah disebarkan,” kata Boy di Bandar Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Minggu (31/7).

Boy menerangkan, sangat sulit menguji kebenaran informasi tersebut, terlebih pemilik informasinya Fredi sudah meninggal. Namun demikian, karena kasus ini sudah menjadi konsumsi publik, pihaknya akan mencoba mengklarifikasi tulisan tersebut. “Jadi kami masih dihadapkan dengan kondisi-kondisi seperti itu. Tapi kita berdasarkan arahan Kapolri yang jelas prinsipnya akan terus didalami,” beber Boy.

Selain itu, Boy menyesalkan, Haris tidak punya data dan nama-nama oknum polisi maupun TNI yang mendapat cekokan dana dari Fredi. Karena tulisan itu, Haris menyimpulkan bahwa institusi Polri dan TNI semuanya kotor.

“Kalau kami lihat tulisannya itu sangat merugikan institusi. Jadi yang disampaikan Haris adalah ungkapan-ungkapan yang sifatnya informasi. Sangat-sangat perlu didalami, karena sumir. Sementara kalau kami mau konfirmasi, Pak Fredi sudah tidak ada,” tandas Boy. (mg4/rid/did/jpnn)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses