Harus Punya Rekam Jejak Memimpin Daerah

Harus Punya Rekam Jejak Memimpin Daerah
Wapres Jusuf Kalla, memang sosok lelaki penyayang istri. Saat menerima potongan tumpeng pertama dari sang istri ibu Mufidah Jusuf Kalla yang berulang tahun, Jumat (12/02), Pak JK tak sungkan menyuapi ibu Mufidah, yang terlihat malu, namun bahagia, disaksikan tamu undangan.
Posted by:

JAKARTA – Wacana terhadap figur yang layak memimpin Partai Golkar jelang musyawarah nasional luar biasa (Munaslub), mengerucut kepada sosok tokoh muda. Pembahasan ini menjadi hangat karena Ketua Umum Golkar, Aburizal Bakrie memastikan tak mau dicalonkan lagi.
Jelang munaslub, setidaknya ada tujuh tokoh muda yang digadang-gadang. Mereka adalah Idrus Marham, Mahyudin, Setya Novanto, Fadel Muhammad, Azis Syamsuddin, Ade Komaruddin hingga Bupati Tangerang Zaki Iskandar.
Direktur Institute for Transformation Studies (INTRANS) Andi Saiful Haq yang dihubungi, Minggu (14/2) mengatakan kriteria calon ketua umum Golkar harus melihat tren politik sekarang.
Yaitu, tokoh muda, dicintai publik, punya rekam jejak memimpin daerah, komunikasi politik yang baik ke semua orang, namun tegas dalam penegakan hukum. “Golkar harus dipimpin oleh orang muda yang punya rekam jejak seperti itu, jangan lagi memilih tokoh yang murni pengusaha atau politisi. Tapi tidak pernah memimpin wilayah,” katanya.
Salah satu yang menarik perhatian adalah Zaki Iskandar yang juga ketua DPD Partai Golkar Tangerang. Zaki layak meramaikan bursa ketua umum Golkar karena punya keunggulan. Selain muda dan energik, Zaki juga memiliki catatan kepemimpinan yang cemerlang ketika menjadi kepala daerah.
“Zaki Iskandar saya rasa salah satu intan yang terpendam di Golkar. Dia tidak banyak bicara yang bukan urusannya. Dia fokus ketika menjadi bupati Tangerang. Gebrak Pakumis adalah salah satu catatan keberhasilan Zaki, tidak mudah memimpin di Tangerang dan Zaki menunjukkan dirinya mampu,” kata Saiful.
Peluang tokoh muda seperti Zaki dan calon lainnya memang terbuka lebar memimpin Golkar. Sebab Ical -sapaan akrab Aburizal Bakrie- yang tak mau mencalonkan lagi memberi restu kepada setia tokoh muda Golkar untuk maju.
Saiful lantas mengapresiasi Abdurizal Bakrie, yang memutuskan untuk tidak maju, dan mendorong para tokoh-tokoh muda. Apalagi, pria yang karib disapa Ical itu juga merestui semua yang berniat maju.
Sedangkan Pengamat politik dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Gun Gun Heryanto mengatakan, Partai Golkar membuka peluang untuk dipimpin oleh kaum muda.
Alasannya, Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) partai berlambang beringin itu dipastikan tidak lagi diramaikan Aburizal Bakrie alias Ical dalam perebutan ketua umum. “Seluruh kader yang berumur 40-60 tahun mempunyai peluang besar untuk menduduki ketua umum demi kemajuan partai ke depan,” ujar Gun Gun saat dihubungi, Sabtu (13/2).
Gun Gun menyebut, setidaknya ada tujuh tokoh muda yang punya peluang. Tokoh muda Golkar yang dimaksud adalah Idrus Marham, Mahyudin, Setya Novanto, Fadel Muhammad, Azis Syamsuddin, Ade Komaruddin hingga Bupati Tangerang Zaki Iskandar yang punya peluang sama besarnya.
Namun, peluang mereka yang menduduki pimpinan di organisasi sayap Golkar seperti, Kosgoro maupun Soksi seperti Azis Syamsuddin dan Ade Komaruddin sedikit lebih baik dibanding lainnya. Pasalnya, mereka mempunyai jejaring kader hingga bawah. “Tapi ini bukan jaminan mereka akan menang,” tegas dia.
Yang pasti, lanjut Gun Gun calon Ketum yang rajin turun ke daerah dan sering bertatap muka dengan pemilik suara yaitu pimpinan DPD I dan DPD II Golkar yang akan unggul. “Sekarang semua calon harus tebar pesona ke pemilik suara agar bisa memenangkan pertarungan,” sebut dia.
Sedangkan peluang Setya Novanto, kata Gun Gun cukup berat karena namanya terus dikait-kaitkan dengan kasus Papa minta saham. “Novanto harus bisa membersihkan namanya dan betul-betul tidak terkait dengan kasus tersebut bila ingin memenangkan pertarungan,” saran dia.
Bagaimana dengan Zaki Iskandar? Gun Gun melihat peluangnya juga cukup baik karena saat ini menjabat sebagai pemimpin daerah yaitu Bupati Tangerang. “Tapi afiliasi terhadap pemilik suara di DPD I dan DPD II masih kurang dan ini harus diperbaiki secepatnya bila ingin menang,” ujarnya.
Kendati demikian, dia masih sulit memprediksi siapa pemenangnya sebenarnya. Permasalahannya di Partai Golkar banyak sekali pemainnya dan tidak bisa diatur dengan mudah. Yang penting, dia berharap semua calon yang maju agar bertarung secara demokratis, obyektif dan fair. “Jangan sampai saling mengintimidasi antarcalon,” kata Gun Gun.
Soalnya Munaslub ini juga ajang islah antara kubu Agung Laksono dan kubu Ical. “Hindari perselisihan dalam Munaslub yang justru akan memperlebar jurang perpecahan,” pungkasnya. Sejumlah nama calon Ketua Umum Golkar memang sudah bermunculan.
Namun, sejauh ini yang sudah berterus terang menyatakan siap maju di antaranya Mahyuddin, Aziz Syamsuddin, Idrus Marham, dan Zaki Iskandar. Bahkan Zaki sudah meminta restu kepada Aburizal Bakrie dan siap mundur dari kursi bupati kalau terpilih menjadi pucuk pimpinan partai beringin tersebut.

#Bakal Muncul
Calon Perempuan
Sementara itu, seorang calon perempuan disebut-sebut siap maju meramaikan perebutan jabatan ketua umum pada Musyawarah Nasional (Munas) Partai Golkar nanti. Bahkan, ada yang mengklaim bahwa calon misterius itu adalah sosok pemimpin yang mampu membawa Golkar kembali ke masa kejayaan era Orde Baru (Orba).
“Kemungkinan besar akan ada dari kalangan perempuan yang akan tampil dalam bursa pencalonan ke Ketua Umum Golkar. Tidak menutup kemungkinan calon perempuan itu menjadi pemenangnya,” ungkap M Zaki Mubarak, pengamat politik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah kepada wartawan.
Namun, sambung Zaki, kemunculannya tidak dilakukan saat-saat ini, akan tetapi jelang detik-detik akhir. Hal itu adalah sebuah strategi membaca peta politik dalam pertarungan memperebutkan kursi ketua umum pada Munas Golkar nanti.
“Dalam politik segala kemungkinan bisa saja terjadi. Tapi yang berpeluang menang ialah pihak yang dapat membaca peta politik dan memiliki strategi yang matang. Baru ditunjang oleh finansial dan pengaruhnya di partai tersebut,” terang Zaki.
Zaki menuturkan, dirinya menganalisa bila calon perempuan itu nanti dapat menjadi sosok pemecah kebuntuan. Karena, dari kabar yang beredar, para calon laki-laki yang menyatakan siap untuk maju adalah muka lama.
“Selama ini para calon laki-laki itu saja banyak mengomentari soal konflik Golkar. Namun, faktanya sampai setahun lebih partai pohon beringin itu berseteru. Jadi menurut saya hanya dari seorang ibu Partai Golkar dapat bersatu untuk kembali,” tuturnya.
Diketahui hingga saat ini, sudah ada lima orang calon laki-laki yang mengaku siap maju sebagai ketua umum pada Munas Golkar. Mereka adalah Sekjen Golkar Idrus Marham, Ketua Fraksi Partai Golkar DPR RI Setya Novanto, Sekretaris Fraksi Partai Golkar DPR RI Aziz Syamsuddin, Wakil Ketua MPR Mahyudin dan politikus Partai Golkar Airlangga Hartanto.

#Ketum Bisa Rangkap
Jabatan Ketua DPR
Terpisah, politikus senior Golkar yang juga Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menyatakan, bahwa tidak ada aturan yang melarang ketua umum partainya merangkap jabatan di lembaga negara. Menurutnya, tidak ada aturan yang melarang ketua umum Golkar merangkap jabatan di lembaga negara.
JK -sapaannya- menyatakan hal itu saat ditanya wartawan tentang munculnya suara dari internal Golkar yang meminta Ade Komarudin tidak maju sebagai calon ketua umum pada musyawarah nasional (munas) yang akan datang. Sebab, Ade sudah menjadi ketua DPR sehingga tak semestinya merangkap posisi ketua umum partai berlambang beringin itu.
Namun, JK menegaskan bahwa Golkar pernah punya sejarah ketika dipimpin oleh ketua umum yang juga ketua DPR. Yakni ketika periode kepemimpinan Akbar Tanjung. “Dulu Akbar merangkap. Boleh, kan?,” katanya di Jakarta, Jumat (12/2).
Menurutnya, aturan internal Golkar memang tidak melarang rangkap jabatan di partai dengan di lembaga negara. Karenanya, dulu Akbar bisa menjadi ketua umum Golkar merangkap ketua DPR periode 1999-2004. “Saya juga ketua Golkar merangkap wakil presiden,” ujar ketua umum Golkar periode 2004-2009 itu.
JK bahkan mengatakan, Indonesia pernah punya presiden yang merangkap sebagai ketua umum partai. Yakni ketika Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menjadi Presiden RI periode 2001-2004. “SBY ketua umum (Partai Demokrat, red) juga presiden,” tegas JK yang pernah menjadi wakil presiden bagi SBY pada periode 2004-2009.
Seperti diketahui, di internal Golkar sudah muncul suara-suara yang meminta Akom -sapaan Ade- tidak maju sebagai calon ketua umum. Suara itu muncul antara lain dari Ridwan Bae selaku ketua Paguyuban DPD I Golkar.
Suara serupa juga datang dari politikus Golkar, Yorrys Raweyai. Menurutnya, Golkar sebagai partai besar membutuhkan ketua umum yang bisa benar-benar fokus mengurus partai berlambang beringin hitam itu.
Namun, Ketua Umum Golkar Aburizal Bakrie justru tak sependapat dengan wacana untuk melarang Akom maju. Menurutnya, justru Golkar perlu memberi kesempatan pada kader-kadernya untuk bersaing secara sehat. (aen/dil/jpnn)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses