Harus Tegas Berantas Premanisme

Harus Tegas Berantas Premanisme
Polda Sumsel terus melakukan penertiban preman. Dalam dua minggu terakhir sejumlah oknum preman sudah diberikan pembinaan. Foto : koer/Palembang pos.
Posted by:

MARAKNYA aksi preman di wilayah Sumsel, khususnya di Kota Palembang ternyata membuat sebahagian masyarakat gerah dan resah. Salah satu aksi yang kerab dilakukan preman yakni pungutan liar (Pungli).
Di Kota Palembang misalnya terdapat beberapa titik ruas jalan yang menjadi tempat ‘mangkalnya’ aksi preman dalam melakukan pungli. Dari memungut uang pada sopir truk hingga petugas parkir liar yang jelas-jelas uangnya tak disetorkan ke instansi terkait.

Kondisi ini, tentunya membawa keresahan bagi masyarakat, terutama yang tiap hari bersentuhan langsung dengan para pelaku Pungli. ”Sebenarnya kami risih pak, tapi mau bagaimana lagi, kalau tidak dikasih takutnya kita di apa-apakan, sementara kita tiap hari lewat jalan itu,” ujar Mahdi (39), salah seorang sopir truk yang kerap melintas di kawasan Musi 2 Kota Palembang.

Mahdi yang sudah 4 tahun menjadi sopir truk dengan angkutan pasir ini, mengaku, sangat rugi lantaran sebagian penghasilannya harus disisikan paling tidak Rp 5 hingga Rp.10 ribu sekali melintas kawasan tersebut. ”Kalau dikasih kurang dari 5 ribu biasanya ada saja perkataan mereka yang tak mengenakan hati, bahkan tak jarang pengancaman,” ujarnya.

Orang yang meminta-minta tersebut lanjut Mahdi, berganti-ganti dan tidak tentu. “Makanya kita melapor disuruh nunjukkan orangnya tapi kita tidak tahu yang mana,” terangnya.
Senada dengan Mahdi, Alfian (35), seorang sopir mobil boks yang kerap mangkal di Pasar Kertapati juga mengakui, kerap menjadi korban aksi pungli oleh preman. ”Di pasar ini kalau keluar masuk harus bayar, bukan hanya pada petugas saja, melainkan pada preman di sana,” jelasnya.

Bapak lima anak ini juga menuturkan, tak hanya sopir mobil sepertinya saja yang kerap di mintai uang keamanan alias pungli, melainkan para pedagang yang ada di pasar tersebut. ”Bukan kami saja yang dipintai uang keamanan tapi para pedagang juga tak luput dari mereka, kami sangat berharap sekali dengan tindakan aparat untuk lebih aktif memberantas hal semacam ini, karena jelas ini pungli dan tergolong aksi premanisme,” tandasnya.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polresta Palembang, Kompol Marulli Pardede SIK mengaku, kerap kali mengamankan orang-orang yang disebut preman ini. Bahkan tak jarang ada yang diproses lantaran terbukti memeras.
Namun hal itu tentunya dibutuhkan bukti yang kongkrit atas tindakan mereka, apalagi korban pungli atau aksi premanisme biasanya enggan melapor dan memilih bungkam. ”Kalau merasa dipaksa apalagi di ancam segera saja laporkan karena jelas perbuatan mereka itu, sudah termasuk tindak pidana pemerasan, masyarakat jangan sungkan, premanisme harus diberantas jangan dibiarkan merajalela,” terangnya.
Maruli melanjutkan, saat ini pihak kepolisian di Sumsel khususnya di Kota Palembang sedang menggalakkan aksi pemberantasan premanisme, terutama aksi pungli hingga kejahatan lainnya yang bersifat premanisme. ”Kita telah membentuk tim khusus pemburu preman. Jadi kalau masyarakat khawatir dan merasa resah atas tindakan oknum-oknum yang disebut preman, jangan sungkan untuk melapor karena melapor adalah bentuk kerjasama masyarakat dengan polisi,” ucapnya.
Sementara itu Kriminolog Kota Palembang, Sri Sulastri SH MH mengatakan, premanisme saat ini sudah meresahkan masyarakat dan memang sangat sulit dihapus atau dihilangkan. Hal itu karena aksi premanisme seolah-olah sudah menjadi bagian dari budaya kehidupan itu sendiri.
“Free Man” yang jika diartikan sebagai lelaki bebas, atau orang yang tak dikekang aturan nampaknya bukan barang baru dimanapun daerahnya. Bahkan tak hanya di Indonesia di seluruh dunia aksi premanisme beragam jenisnya.
”Premanisme itu budaya, tentunya sangat sulit di hilangkan, meskipun kita menyadari kalau tindak premanisme itu jelas melanggar aturan,” terangnya. Menurut Sri, preman itu beragam jenisnya, karena ada disemua lapisan masyarakat.
”Ada preman yang dijalanan bahkan ada juga yang berdasi, semua kalangan pasti dirasuki budaya premanisme ini,”jelasnya. Faktornya lanjut Sri, kebanyakan dan cenderung karena faktor ekonomi, hingga membuat para preman terpaksa melanggar aturan untuk meempertahankan hidup mereka dengan beragam cara yang melanggar hukum, mulai dari pemalakan, pemerasan hingga tindakan lainnya.
”Kalau dibrantas itu (premanisme, Red) sangat sulit, namun untuk mengurangi itu dapat dilakukan meskipun butuh perhatian ektra,” jelasnya. Sri menuturkan, kebanyakan masyarakat tidak menyadari jika disekeliling mereka terdapat tindak kriminal berupa premanisme, dari pemalakan, pemerasan hingga pungli yang dilakukan oknum-oknum tak bertanggung jawab.
”Di sekeliling kita, tentunya dapat dilihat dan di saksikan beragam tindakan premanisme. Bahkan sampai ada yang terorganisir dan tumbuh subur, di lingkungan kita,” terang Sri. Terkait hal tersebut lanjut Sri, dia ia berharap masyarakat sadar akan hal-hal berbau premanisme perbuatan jahat dan melanggar.
”Masyarakat harus sadar, bahkan harus lebih aktif berperan dalam memberantas penyakit masyarakat ini. Budaya yang sakit ini, dapat segera dilenyapkan dengan dukungan dari semua unsur, baik pemerintah dengan menyediakan lapangan pekerjaan, dan infrastruktur yang menonjol agar mengurangi angka pengangguran dan mencegah jumlah preman meningkat,” ujarnya.
Sedangkan untuk pihak kepolisian dalam hal ini masih kata Sri, jangan pernah lelah untuk terus memberantas aksi premanisme dalam bentuk apapun. Bila perlu tindak tegas para preman yang kerap memeras masyarakat hingga ke akar-akarnya.
”Polisi Jika mau aman, harus tegas dan lebih aktif untuk meringkus para preman-preman ini, jangan hanya yang di lapangan saja, tapi preman-preman berdasi yang main dibelakang layar, juga harus diberantas,” pungkasnya. (vot)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses