Hutan Lindung Digundul

Hutan Lindung Digundul
Anggota Polsek Kikim Selatan menemukan 95 batang balok jenis kayu tenam dan lagan dekat aliran Sungai Lingsing, Desa Pagar Jati. Foto rif/Palembang Pos
Posted by:

**Marak Illegal Longging
**Tindakan Hukum Lemah

 Hutan merupakan paru-paru dunia. Di tempat yang namanya hutan inilah, mahluk hidup menjalani kehidupannya. Manfaat hutan dianggap sebagai kebutuhan pokok dan sungguh tak ternilai hargan

Sayangnya, kondisi hutan banyak rusak bahkan beralih fungsi. Kini, luasan hutan terus berkurang.  
Misalnya, berdasarkan catatan Dinas Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Kabupaten Lahat 2015, luas hutan lindung di Kabupaten Lahat masih mencapai 55.848,57 hektare.

Sejak bidang kehutanan diambil alih Pemprov Sumsel, tak diketahui dengan pasti luas hutan lindung di Kabupaten Lahat setahun terakhir.
Bahkan pengawasan illegal logging dan perambahan hutan lindung pun makin diragukan.
 
Apalagi puluhan ribu hektare hutan lindung itu tersebar di beberapa kecamatan. Diantaranya, Kecamatan Jarai, Kikim Selatan, Kota Agung, Merapi Barat, Merapi Selatan, Sukamerindu, Tanjung Sakti Pumi.
Disusul, Kecamatan Tanjung Sakti Pumu, Gumay Talang, Gumay Ulu, Muara Payang dan beberapa kecamatan lain.
 
Ironisnya, kondisi hutan lindung saat ini makin sempit. Bahkan beberapa kawasan dengan status hutan lindung sudah dalam kondisi gundul.

Sayangnya, keadaan itu tidak seimbang dengan jumlah tindakan yang dilakukan aparat terkait. Sudah gundul, tapi tidak ada yang ditangkap, itukan tanda tanya.

‘’Apa iya, polisi hutan atau pihak terkait lain tidak ada yang menangkap pelaku illegal lloging,” ungkap Herman, warga Kecamatan Muara Payang.
 
Dirinya tak jarang menyaksikan langsung aksi illegal logging di wilayah perbatasan Kabupaten Lahat dengan Kabupaten Empat Lawang itu.
Namun, pelaku pengerusakan hutan ini terkesan sangat jarang dapat disentuh hukum. Padahal, ungkapnya, kayu hasil hutan sebagian besar dijual ke luar wilayah Kabupaten Lahat.
 
Contohnya, wilayah Gumay Ulu dan Gumay Talang terdapat gugusan Bukit Barisan, yang merupakan kawasan hutan lidung, saat ini dalam kondisi kritis. Kawasan tersebut sudah berubah menjadi perkebunan kopi.
Tak main-main, warga dari kabupaten tetangga, diantaranya Muara Enim, sengaja datang ke wilayah ini untuk membuka hutang lindung sebagai kebun kopi.
 
“Yang anehnya, orang dari luar daerah berbondong-bondong datang kesini (Gumay Ulu), untuk membuka lahan hutan lindung, tanpa ada tindakan,” ujar Sur, warga Gumay Ulu.

Sayangnya, belum ada tindakan nyata dari aparat terkait. Perambahan hutan menjadi perkebunan kopi tentu saja seiring dengan aksi illegal logging.
 
Belum lagi, ancaman aktivitas perusahaan yang beroperasi di sekitar hutan lindung, seperti Kecamatan Merapi Selatan.
Ancaman kerusakan hutan dari aktifitas penambangan batubara terus terjadi wilayah ini.
Bahkan, aktifitas persis berada di sekitar Bukit Serelo yang menjadi ikon Kabupaten Lahat.

Terbaru, Sabtu (03/12), anggota Polsek Kikim Selatan menemukan 95 batang balok jenis kayu tenam dan lagan, di dekat aliran Sungai Lingsing, Desa Pagar Jati, Kecamatan Kikim Selatan.

Kayu jenis tersebut hanya dapat ditemukan di kawasan hutan lindung. Walau identitas pemilik dan penebang kayu itu sudah dikantongi polisi, tapi tetap saja proses hukum berjalan lamban. Belum satu pun tersangka meski jelas kayu itu berasal dari hutan lindung. (rif)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses