Jaga Ekosistem Sungai

Jaga Ekosistem Sungai
Posted by:

 

LAHAT – Bupati cinta lingkungan. Tak berlebihan jika julukan ini disematkan masyarakat kepada  H Aswari Riva’i SE.

Bagaimana tidak, meski persoalan menangkap ikan dengan cara dilarang masih saja dilakukan oknum masyarakat. Tekat Bupati Lahat ke 17 itu menjaga kelestarian ikan di sungai di Kabupaten Lahat, tak gentar.

Dalam sepekan saja, Kak Wari, begitu Aswari akrab disapa masyarakat Kabupaten Lahat, memiliki jadwal melepas minimal 2.000 ekor bibit berbagai jenis ikan.

Namun, upaya Kak Wari yang tidak kenal lelah itu tidak akan berhasil, tanpa kesadaran masyarakat melestarikan ekosistem sungai.

Kak Wari mengimbau camat dan kades dapat meniruh masyarakat di wilayah Kikim dalam menjaga sungai di wilayah masing-masing.

Di Kikim masyarakat menerapkan lubuk larangan di aliran sungai, yang ternyata sangat efektif menjaga kelestarian berbagai jenis ikan. “Belajarla dari Kikim, buatlah lubuk larangan, tidak perlu panjang-panjang, cukup dua kilometer saja,” imbau Kak Wari.

Dia sangat bangga dengan kearifan lokal yang tetap dijaga di wilayah Kikim. Dimana dalam satu desa atau kelompok masyarakat, menetapkan satu kawasan di aliran sungai sebagai kawasan yang dilarang menangkap ikan dengan cara apapun, dalam jangka waktu tertentu.

“Aku bangga dengan Kikim, lubuk larangan itu berhasil, Sungai bersih, ikan didapat ukurannya besar,” ungkapnya.

Sedangkan di sepanjang aliran Sungai Lematang, Kak Wari tidak memungkiri sudah sangat susah mendapatkan ikan.

Keadaan ini sangat drastis berubah bila dibandingkan puluhan tahun silam. Sebab dimasa kecilnya, bersama orang tuanya Kak Wari kerap membeli ikan hasil tangkapan masyarakat di kawasan Merapi.

“Apa yang mau dijepit (ikan salai dijepit bambu), ikannya sudah tidak ada,” kata Kak Wari.

Masa kecil Kak Wari, ada jenis ikan dalum, dan ikan sema masih mudah didapat. Namun, saat ini kedua ikan itu sangat jarang ditemukan di sepanjang aliran Sungai Lematang.

“Ikan dalum, ikan sema tidak ada lagi, karena sungai sudah diracun, disetrum. Habis disetrum, badan ikan itu bengkang, bagaimana mau besar,” beber Kak Wari.

Kedepan, tegas Kak Wari, pentingnya menjaga sungai harus disadari masyarakat. Sebab dari zaman nenek moyang, sungai sudah menjadi sumber penghidupan, dan sudah dijaga.

“Mari kita sama-sama menjaga sungai. Tinggalkan cara-cara yang tidak bersahabat itu,” ajaknya. (rif/prw)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses