Kabut Asap, ISPA Menyerang

Kabut Asap, ISPA Menyerang
Posted by:

SUMSEL – Kabut asap yang masih melanda Kota Palembang dalam sebulan terakhir, membuat jumlah penderita Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) di metropolis meningkat cukup signifikan. Dalam satu bulan, jumlah penderita ISPA di Palembang meningkat hingga 1.987 orang. Kepala Dinas Kesehatan Kota Palembang, dr Anton Suwindro melalui Kabid Pengendalian Masalah Kesehatan Dinkes Palembang, dr Afrimelda mengatakan, jumlah penderita ISPA di bulan September sudah mencapai 20.157 orang. Jumlah ini meningkat jika dibandingkan Agustus lalu dengan 18.170 orang penderita.
“Penderita ISPA dari berbagai usia. Mulai dari anak-anak berusia 1-5 tahun (balita), dengan jumlah 7.229 orang penderita. Sedangkan, untuk usia 5 tahun ke atas hingga usia lanjut mencapai 12.858 orang. Mungkin selintas yang di atas 5 tahun lebih banyak penderitanya, tetapi jika dilihat rentang usianya, maka untuk balita jauh lebih banyak,” jelasnya.
Data ini, lanjut dia, dihimpun dari 39 puskesmas yang tersebar di 16 kecamatan di Palembang pada September lalu. Sedangkan, data untuk bulan Oktober sendiri baru akan terkumpul di akhir bulan mendatang.
“Hingga saat ini belum ditemukan satu kasus pun kematian yang dialami penderita ISPA akibat terlambat penanganan. Tapi, kami akan terus memantau. Sedangkan jika yang dirawat di rumah sakit kami rasa cukup banyak juga, tetapi itu bukan ranah kami,” terangnya.
Afrimelda menjelaskan, akibat kondisi udara saat ini, masyarakat harus benar-benar waspada untuk menjaga kesehatan. Bahkan, untuk empat golongan yang lebih rentan terserang penyakit antisipasi yang dilakukan harus lebih maksimal. Keempat golongan tersebut, yakni bayi dan balita, ibu hamil, anak usia SD, serta orang lanjut usia (lansia).
“Kami sudah mengeluarkan edaran ke seluruh puskesmas di Palembang untuk melakukan sosialisasi terkait dampak serta upaya pencegahan agar tidak terserang penyakit ini. Selain itu, harus tetap mengatur pola makan, meliputi asupan makanan yang harus seimbang juga mengutamakan sayuran dan buah-buahan. Dan yang paling penting tetap diimbau mengenakan masker dan kacamata jika beraktivitas di luar rumah. Kalau memang tidak perlu, sebaiknya beraktifitas di dalam rumah saja,” pungkasnya.
Sebelumnya Kepala Dinkes Sumsel, Dra Lesti Nurainy Apt MKes mengatakan,  dampak yang ditimbulkan asap terhadap saluran pernapasan manusia, cukup berbahaya dan inilah yang harus diwaspadai masyarakat. Untuk itu, masyarakat harus mengenakan masker.
Berdasarkan data yang dimiliki Dinkes Sumsel pada 2012 lalu, terdapat 17.884 penduduk Sumsel terserang penyakit gangguan pernapasan yang disebabkan asap kebakaran hutan di wilayah Sumsel. Selain itu, penduduk juga rentan menderita iritasi mata. Parahnya, ISPA tahun lalu menyerang anak-anak, yakni ada 6.498 balita di bawah 5 tahun, dan 11.386 di atas 5 tahun.
“Bisa jadi akan sama jika kondisi asap akibat kebakaran semakin mengkhawatirkan. Bahkan apabila tidak ditanggulangi secara cepat dapat menyebabkan kematian,” lanjut wanita berkerudung ini.
Saat ini, Dinkes Sumsel tengah berkoordinasi dengan setiap Dinas Kesehatan yang berada di 17 kabupaten/kota di Sumsel untuk mengantisipasi hal tersebut. Dia menginginkan, setiap Dinkes kabupaten/kota agar membagikan masker kepada setiap masyarakat yang ada di wilayahnya.
“Masker itu penting untuk antisipasi asap, agar tak terhisap oleh individu. Karenanya, kami mengarahkan agar setiap Dinkes bisa membagikan masker ke berbagai titik rawan yang ada di Sumsel,” tutupnya.
Selain ISPA, sambung dia, penyakit diare juga cukup tinggi penderitanya.  Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Palembang, penderita diare dari Januari sampai September dari 39 puskesmas di 16 kecamatan tercatat 29.781 penderita. Bahkan terbanyak terdapat di Kecamatan SU I 3.959 penderita.
“Kemudian disusul Kecamatan Ilir Timur (IT) II yang mencapai 3.154, Makrayu 2.746, Sukarami 2.317 Kemuning 2.074, Ilir Barat (IB) I 2.004, ” terang Kepala Dinkes Kota Palembang, dr Anton Suwindro MKes, melalui Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Yudi Setiawan, kemarin.
Dilanjutkan Kertapati 1.950, Kalidoni 1.948, Sako 1.607, Gandus 1.603, IT I 1.052, Plaju 1.149, Bukit Kecil 972, Sematang Borang 854 dan Alang-alang Lebar 473.
Berbagai faktor yang menyebabkan penyakit diare ini. Misalnya kebersihan lingkungan dan tidak membiasakan untuk mencuci tangan sebelum makan ini bisa menjadi kendalanya. Untuk itu pihaknya terus mengajak petugas Puskesmas masing-masing untuk memberikan penyuluhan tersebut langsung kemasyarakat khususnya wilayah yang padat penduduk.
Untuk kondisi asap seperti saat ini sepertinya tidak mempengaruhi penyebaran diare. Hanya saja diimbau kepada seluruh masyarakat agar dapat menutup setiap makanan, sehingga lalat dan debu yang beterbangan tidak menginggapi makanan yang disajikan. (ika/ove)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses