Kaki Tangan Sucai Terkepor

Kaki Tangan Sucai Terkepor
Posted by:

# Sindikat Aceh Angkut 20 Kg Sabu
Palembang –
Sedikitnya, 20 Kilogram sabu dibungkus plastik merek Guanyinwang disita Direktorat Reserse Narkoba Polda Sumsel dari Sindikat narkoba asal Aceh. Sejatinya narkoba berjumlah total Rp 26 Kilogram, artinya 6 kilogram telah lolos ke pasaran gelap di Sumsel. Disinyalir kuat sabu tersebut berasal dari pabriknya di Cina, lalu masuk ke Aceh dan diedarkan ke Palembang, Lampung dan Jakarta.
Salah satu bandarnya adalah tersangka Lukman Wahyudi (38), dengan barang bukti 18 kilogram di simpan dalam koper di rumahnya di Jalan Yaktapena I, Plaju, Palembang, Selasa (6/2/18) sekitar pukul 00.30 WIB, akibat berusaha melawan dan kabur, terpaksa terjangan timah panas mendarat di kakinya.
Rupaya Lukman tidak lain, residivis kasus penganiayaan yang mendekam selama 6 bulan tahun 1997. Lukma juga dulunya kaki tangan Widi Handoyo alias Sucai, bandar narkoba kelas kakap Palembang yang tewas di dalam sel tahanan pada 10 Juni 2014 lalu. Rencananya Lukman juga akan di upah Rp 100 juta dari tersangka Rahmat.
“Aku yang jemput Rahmat di SPBU Soekarno Hatta. Dia sudah bawa sabu itu dan dimasukkan ke dalam mobil saya. Barangnya dititipkan ke saya nanti saya diupah Rp100 juta. Kenal sama Rahmat dari paman yang dulu pernah di penjara di Rutan Pakjo,” ungkap Lukman keseharianya mengkau hanya tukang piara burung Murai Batu ini.
Lalu dua tersangka lagi, M Arif (48) warga Jalan Lettu Simanjuntak, Gang Serasan, Kecamatan Alang-alang Lebar, ia pengedar di Palembang. Dan tersangka Rahmat Hidayat (22), warga Sumatera Utara, ia kurir yang membawa sabu dari Aceh, tujuan Lampung menumpang bus AKAP namun urung ke Jakarta.
Ketiga tersangka disergap, setelah pihak kepolisian mendapatkan informasi peredaran narkoba sabu di kawasan Jalan Soekarno Hatta, Sukarame. Aparat pun melakukan penyamaran sebagai pembeli dengan tersangka Arif. Tersangka Arif ditangkap dan barang bukti 2 kilogram sabu di temukan di rumah kontrakannya di Jalan Lettu Simanjuntak, Gang Serasan.
Dari nyanyian Arif, ia mendapatkan sabu dari tersangka Lukman. Petugas bergegas memburu Lukman, hingga berhasil mendapatkan lokasi keberadaan Lukman. Pengakuan Lukman sabu itu di dapat, dari tersangka Rahmat dan disimpannya di rumah mertuanya di Jalan Tegal Binangun, Kecamatan Plaju Darat, Palembang. Di sana polisi menemukan 18 kilogram sabu masih dalam kemasan plastik di dalam koper besar berwarna biru.
Kapolda Sumsel Irjen Pol Zulkarnain Adinegara SIk menegaskan sindikat Aceh ini kait eratannya dengan bandar Palembang yakni Lukman yang tidak lain bekas kaki tangan Sucai sang bandar kelas kakap Palembang.
“Sindikat narkoba ini menggurita, saat satu kaki tangganya hilang, masih ada kaki tangan lainnya. Lukman salah satu bekas kaki tangan Sucai masih ada di Palembang, tetapi sudah mengembangkan jaringannya sendiri sehingga sulit dilacak. Barang sebanyak ini bisa masuk ke Palembang dikirim dari Aceh, sudah sampai ke Lampung lalu kembali lagi ke Palembang. mereka sangat licin dalam transaksinya,” jelasnya.
Mantan Kabid Humas Mabes Polri dan Metrojaya ini menegaskan, ketiga tersangka akan diancam pidana mati. “Kita akan usahkan kepada Jaksa dan Hakim untuk ketiganya diancam pidana mati. Yakni pasal 112 dan 114 KUHP dan UU No 35 tahun 2009 dengan tuntutan pidana mati atau seumur hidup,” tukasnya.
Diketahui kronologis penangkapan sindikat narkoba Aceh ini, berawal Kamis 1 Februari, Rahmat dijemput oleh Lukman di SPBU Musi II Palembang setelah mendapatkan rekomendasi dari AG. Lukman membawa mobil Honda CR-V hitam bernopol BG 86 LY untuk menjemput Rahmat dan membawa koper besar berisi sabu tersebut.
Lalu Jumat 2 Februari, Lukman dan Rahmat berhasil menjual 2,6 kilogram sabu kepada seorang pengedar dan tiga kilogram sabu lainnya yang dijual kepada pengedar lainnya yang belum diketahui identitasnya. Pada 5 Februari, Lukman dan Rahmat menjual sabu kepada Arif, sebelum akhirnya diringkus. (adi)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses