Kudeta Turki, 161 Orang Mati Syahid [2.839 Tentara Ditangkap, Diborgol, dan Ditelanjangi]

Kudeta Turki, 161 Orang Mati Syahid [2.839 Tentara Ditangkap, Diborgol, dan Ditelanjangi]
Oknum militer Turki diamankan usai melakukan kudeta. Foto aksam/net
Posted by:

ANKARA – Perdana Menteri Turki Binali Yildirim mengultimatum kelompok yang masih berusaha untuk mengudeta pemerintah Turki. Yildirim menegaskan, demokrasi di Turki tidak perlu diuji lagi seperti ini. Pihak yang berani coba-coba, bakal merasakan akibat buruk.

“Mereka yang berusaha melakukan kudeta seharusnya memahami, gairah demokrasi orang Turki tidak perlu diuji. Rakyat Turki kuat. Jangan berani lagi,” ujarnya dalam sebuah konferensi pers yang dilansir oleh media Turki, Yeni Safak.

PM juga memberikan apresiasi tinggi kepada masyarakat yang begitu berani memainkan peran penting atas kegagalan kudeta yang dilakukan sekelompok militer pada Jumat (15/7) malam waktu setempat.

“Bangsa ini pemberani. Kami juga harus mengucapkan selamat kepada semua komandan dan perwira yang masih mencintai negara ini, yang berjuang bersama menggagalkan kudeta,” tandas Yildirim.

Namun dengan nada suara yang pelan dan penuh duka, Yildirim juga menghaturkan perasaan duka atas ratusan korban tewas. “161 orang mati syahid, 1440 lainnya luka-luka. Kami tidak akan lupa mengenang orang-orang yang syahid melawan kelompok kudeta,” tegasnya.

Usai kegagalan kudeta itu, setidaknya 2.839 tentara ditahan. Sejumlah laporan menyebutkan, tentara yang ditahan itu ditangkap dari sejumlah tempat. Mereka diborgol dan beberapa di antaranya ditelanjangi. Terkait penahahan ribuan oknum militer ini, Yildirim juga meminta semua pihak untuk bersabar dengan keputusan vonis yang akan diberikan.

“Tahap pertama adalah menonaktifkan mereka. Sekarang vonis ada di tangan pengadilan. Para tahanan termasuk prajurit biasa dan perwira tinggi adalah pengkhianat. Hukuman mati tidak ada dalam konstitusi, tetapi Turki akan mempertimbangkan perubahan hukum untuk memastikan hal ini tidak terjadi lagi,” ujar Yildirim.

Sementara itu, di tengah usaha kudeta militer di Turki, Sabtu (16/7) kemarin, beragam aksi heroik muncul di tengah perseteruan kubu, antikudeta dengan yang pro kudeta. Seorang tentara Turki yang tampaknya dari kubu pro kudeta terjebak di dalam tank, di tengah kerumunan massa yang marah, mengamuk, melempari tank dan menendang si prajurit.

Tentara itu tampak kewalahan. Apalagi, dia dan tank-nya dilempari granat asap. Dia semakin kewalahan. Sepertinya, napasnya juga mulai sesak, batuk-batuk..pusing. Nyawanya di ujung tanduk.

Namun tiba-tiba, seorang petugas, sepertinya polisi dari kubu pro pemerintah alias antikudeta, melakukan aksi penyelamatan. Dengan mengenakan masker, dia naik ke atas tank, menarik dan memeluk tentara tadi. Dia mencoba meredakan kemarahan massa.

#Erdogan Masih Kuat, dan Dicintai Rakyatnya

Anggota Komisi I DPR Tantowi Yahya menilai kegagalan upaya kudeta oleh kelompok kecil militer Turki terhadap pemerintah sebagai bukti bahwa Presiden Recep Tayyip Erdogan pemimpin yang dicintai rakyatnya.

“Kalau saya bisa menarik kesimpulan, bahwa Presiden Erdogan itu masih kuat dan dicintai serta didukung oleh rakyatnya, sehingga kecintaan rakyat terhadap dia, itu bisa menggagalkan usaha kudeta,” kata Tantowi, Minggu (17/7).

Bila Erdogan tidak kuat dan tak dicintai dan didukung rakyatnya, lanjut politikus Golkar itu, maka Erdogan tentu tidak bisa mengendalikan rakyat. Politikus Golkar itu juga meyakini kudeta lanjutan tidak akan terjadi dalam posisi sekarang.

Sebab, akan sulit bagi sebagian kelompok militer yang mengudeta menghadapi kekuatan masyarakat Turki. “Kalau misalnya militer berhadapan dengan kelompok pemerintah kemungkinan suksesnya agak besar. Tetapi kalau berhadapan dengan rakyat yang sudah nenolak usaha kudeta itu sendiri mana mungkin dia bisa maju,” tandasnya.

Sedangkan Ketua MPR RI Zulkifli Hasan mengecam penggunaan senjata dalam merebut kekuasaan. “Mengecam kudeta sekelompok faksi militer di Turki. Penggunaan senjata untuk merebut kekuasaan demokratis tidak dibenarkan dengan dalih apapun,” ujar Zulkifli seperti disampaikan dalam akun Twitter pribadinya @ZUL_Hasan, Sabtu (16/7).

Zulkifli menilai perlawanan rakyat Turki terhadap kudeta menegaskan satu hal penting, yakni dalam demokrasi, kekuasaan tertinggi berada di tangan rakyat. Oleh karena itu, prinsip dalam menjalankan negara berdemokrasi harus didasari kepentingan rakyat demi terwujudnya kesejahteraan.

Zulkifli juga menyampaikan rasa syukurnya mendengar tidak ada WNI di Turki yang menjadi korban. Zulkifli berpesan kepada seluruh WNI yang berada di sana untuk berhati-hati. Zulkifli pun mengajak kepada seluruh masyarakat di Indonesia untuk tetap menjaga solidaritas guna memelihara demokrasi.

Sebab demokrasi merupakan tonggak dari Pancasila. “Mari terus merawat dan perbaiki demokrasi sebagai jalan untuk mewujudkan janji kebangsaan kita, yaitu Indonesia tanpa kesenjangan,” ujar Zulkifli.

#Warna Bendera Indonesia Bedakan Tentara Pro Turki

Di sisi lain, kecamuk kudeta di Turki pelan dan pasti mereda. Ribuan tentara sudah ditangkap. Upaya kudeta yang berlangsung jelang Sabtu (16/7) dini hari waktu setempat itu dilakukan oleh faksi militer, yang motif pastinya hingga kini masih bias.

Rakyat Turki, polisi dan militer yang setia kepada pemerintah bahu membahu menggagalkan jatuhnya pemerintahan. Nah, saat dan setelah kudeta, bagaimana caranya membedakan antara militer yang melakukan kudeta dengan yang antikudeta?.

Ternyata cukup mudah dan mengejutkan. Media Turki, Aksam melansir, tentara, polisi dan semua aparat keamanan yang tidak mendukung aksi kudeta diberi komando untuk melilitkan pita merah putih di lengan mereka.

Ya, warna bendera Indonesia melingkar di lengan mereka. Ini terbukti efektif. Di lapangan, ‘pasukan pita merah putih’ dengan mudah mengenal satu sama lain dan bisa dengan cepat mementahkan kudeta. (fat/adk/sam/jpnn)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses