Kutuk Kekerasan Oknum Polisi

Kutuk Kekerasan Oknum Polisi
Posted by:
BATURAJA – Replika yang dilakukan aparat Kepolisian Daerah Bengkulu saat membubarkan aksi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di depan Kantor DPRD Bengkulu, Selasa (18/09/18) lalu, menuai kutukan dan kecaman dari kader-kader hijau hitam di berbagai daerah.

Bahkan puluhan kader HMI Cabang Baturaja di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Selasa (25/9/18), sekitar pukul 13.00 WIB, turun ke jalan mengutuk tindak kekerasan oleh aparat kepolisian tersebut.

Mereka menggeruduk gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) setempat, dengan membawa bendera-bendera HMI dan spanduk lengkap berisi kecaman atas tindakan represif aparat Kepolisian. Kemampuan mengecek pemerintah yang tidak prorakyat.

Mereka langsung menyuarakan aksi di halaman gedung DPRD. Tampak, tiga anggota dewan, yaitu Yopi Sahrudin, Yudi Purna Nugraha dan Feri Rizky, menyimak orasi yang disampaikan para mahasiswa. Sekitar setengah jam berorasi, para mahasiswa pun diajak berdialog ke dalam gedung DPRD oleh anggota DPRD.

Ketua Demisioner HMI Cabang Baturaja, Mario Restu Prayogi, menuturkan bahwa unjuk rasa di Indonesia adalah salah satu sarana mengemukakan, dan itu dilindungi oleh undang-undang.

Nah, aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh KAHMI dan HMI Bengkulu adalah aksi yang damai dan tertib, tetapi kemudian menjadi gaduh akibat tindakan refresif aparat kepolisian. “Tidak selayaknya aparat kepolisian melakukan kekerasan pada kegiatan tersebut,” ujarnya.  Oleh karena itu lanjut dia, pihaknya juga mengutuk kerasnya aparat kepolisian yang menggunakan kekerasan dalam menangani demostrasi yang dilakukan HMI.

“Kami mendesak agar kepolisian melakukan pengusutan dan penindakan atas aksi kekerasan yang dilakukan anggotanya,” tegas dia.

HMI juga minta kepolisian untuk meminta maaf atas tindakan kekerasan itu. “Kami juga meminta Kap olri untuk mencopot Kapolda Bengkulu dari tahta yang saat ini didudukinya,” ujar Mario.

Selain itu, mereka juga mengecam berbagai kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat, seperti impor pangan yang merugikan petani. Nilai tukar rupiah yang anjlok terhadap dolar. Persoalan kenaikan BBM. Serta masalah bangsa yang sedang berlangsung saat ini. (len)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses