Masih Was-was Soal Listrik

Masih Was-was Soal Listrik
Posted by:

WALAUPUN Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) telah diprogramkan sejak 3 tahun lalu, namun dalam hal penerapannya dapat dikatakan efektif selama satu tahun belakangan. Dimana dalam penerapannya, belum bisa dilaksanakan semua sekolah namun masih diberlakukan bagi sekolah-sekolah yang benar-benar telah siap.
Penerapan UNBK yang belum menyeluruh tersebut lantaran karena kendala yang dihadapi sekolah yang belum menerapkan UNBK tersebut. Kendala itu, diantaranya soal kesiapan siswa dalam menjalankan metode UNBK, lalu kesiapan sekolah menyiapkan komputer dan teknis pelaksanaannya.
Selain itu, kekuatan dan pengadaan listrik secara kontinyue. Itu semua menjadi kendala yang membuat sejumlah sekolah belum bisa melaksanakan UNBK. Persoalan ini terjadi secara nasional tak terkecuali Sumsel khususnya di Kota Palembang.
Di Palembang, UNBK SMA sederajat akan dilaksanakan mulai 4 hingga 12 April 2016 mendatang. Pengamat Pendidikan asal Universitas Sriwijaya (Unsri), Slamet Widodo mendukung penuh penyelenggaraan UNBK.
“Saya kira ini sangat bagus, karena yang menjadi persoalan selama ini adalah ketidakjujuran. Dengan adanya Computer Based Test (CBT), aspek ketidakjujuran ini dapat ditanggulangi,” tegasnya. Menurutnya, masyarakat Indonesia harus diubah oleh sistem.
Karena sistem yang bagus akan meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di Indonesia. Adanya computer based ini akan memaksa orang untuk jujur. “Saya tidak memikirkan efisiensi. Yang saya utamakan adalah objektivitasnya. Mau efisien, mau mahal tidak masalah asalkan jujur,” tegas Slamet.
Dia menambahkan, kemungkinan besar ujian dengan sistem komputer seperti ini, akan diberlakukan pada Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2016 nanti.
Sedangkan pihak sekolah yang baru pertama kali menggelar UNBK diselimuti rasa kekhawatiran akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti misalnya, listrik mati saat berlangsungnya UNBK, akses jaringan internet antara puspendik dan sekolah terganggu.
Kepala SMAN 6, Hj Maryati SPd MM mengatakan mengenai masalah sarana ini pihaknya sudah siap, cuma yang menjadi kekhawtirannya akses pengirimanan data ujian kepuspendik.Soalnya kata Maryati, simulasi kedua yang telah dilaksanakan pihaknya sedikit terhambat.
Persoalan lain lanjutnya, daya hidup listrik. “Takutnya pas anak-anak mau ngerjain soal UN komputernya padam, solusi pemadaman memang sudah dipersiapkan pakai genset, akan tetapi dampaknya, siswa pasti tidak terlalu optimal dalam mengerjain soal ujian,” ujarnya.
Terkait hal itu kata Maryati, pihaknya sudah mengirimkan surat ke PLN kota agar dihimbau jangan mematikan listrik saat UNBK berlangsung di sekolahnya. “Dan untuk masalah puspendik kedepannya mudah-mudahan permasalahan puspendik tidak ada lagi, SMAN 6 ada 312 siswa peserta UNBK, dengan sarana komputer 116 unit,” harapnya.
Selanjutnya Kepala SMAN 5 Palembang, Drs H Budiono Marihan mengatakan, terkait UNBK, persoalan yang ditakutkan pihaknya menyangkut daya listrik pada saat hari pergelaran mendadak padam. “Jangan sampai mengandalkan mesin genset, soalnya UNBK ini kebijakan nasional atau kebijakan Pemerintah. Tentunya kebijakan ini jangan sampai terjadi kendala-kendala terutama saat menjelang UNBK,” jelasnya.
Seyogiyahnya lanjut Budiono, sebelum menggelar UNBK, pemerintah harusnya bermediasi antara PLN, agar meminta khusus pada jadwal UNBK jangan sampai terjadi pemadaman listrik sehingga pelaksanaan UNBK bisa lancar dan tenang sehingga siswa bisa khusyuk mengerjakan soal.
“Untuk siswa yang khusus UNBK, di sekolah kita ada 249 pelajar. Selanjutnya untuk komputer sendiri ada 90 unit, masing-masing dibagi menjadi 3 shift pagi, siang dan sore,” katanya.
Sementara salah satu peserta UNBK bernama Atiani, , siswi SMAN 14 Palembang kelas 12 IPA 3 mengatakan, ujian dengan metode UNBK lebih enak dan simple (mudah). “Ujian dengan UNBK tidak terlalu ribet. Artinya efektif dan efisien dan lebih muda. Nggak ribet kayak UN tertulis yang harus menyiapkan pensil, rautan, penghapus dan lainnya,” terangnya.
Untuk menghadapi UNBK tersebut lanjut Atiani, dirinya tetap melaksanakan persiapan seperti biasa yakni belajar, setelah teknisnya ujiannya juga dipelajari dan dihafalin. “Pokoknya harus dibawa enjoy dan rileks jangan sampai tegang,” tandasnya.
Senada dikatakansalah seorang peserta UNBK dari SMAN 8 Palembang yang enggan menyebutkan namanya. Dirinya mengaku, UNBK sudah harus mulai dipersiapkan dengan mengikuti kursus tambahan sejak kelas 10 lalu. Maka dari itu, diri tak khawatir atapun cemas dalam mengerjakan UNBK.
“Walaupun sedikit berbeda dengan ujian tertulis, namun kita sendiri khususnya di pelajar kelas 12 yang mau tamat dapat menguasai keadaan, caranya berfikir jernih, rileks dan jaga kesehatan,” katanya.(rio/ety)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses