Melanggar, Terancam Ditutup

Melanggar, Terancam Ditutup
Posted by:

SAAT memasuki bulan puasa, pemerintah baik pusat maupun daerah memberlakukan kebijakan untuk menutup semua usaha hiburan malam. Tak terkecuali di Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang, dimana kebijakan rutin (penutupan hiburan malam,Red) akan diterapkan selama bulan puasa. Namun terkadang di tengah kebijakan tersebut, masih ada yang ‘nakal’ dengan diam-diam masih membuka usaha hiburan malamnya. Kondisi tersebut, terkadang terpantau oleh pemerintah atau instansi yang memiliki otoritas lainnya, namun juga ada tak terpantau.
Jika masih ada tempat usaha  yang masih bisa  bermain-main membuka tempat hiburan tersebut, tentunya akan sangat menganggu kekhusyukan umat yang sedang melakukan ibadah puasa.
Gumai, salah seorang warga Sukarami meminta agar pemerintah tegas bersama aparat kepolisian dalam melakukan razia tempat hiburan malam selama Ramadhan. “Jangan ada ruang sedikitpun untuk melanggar. Karena kita harus saling menghormati hak beribadah bagi umat satu sama lain. Jadi pengusaha tempat hiburan harus mematuhi ketentuan yang telah dikeluarkan pemerintah,” tandasnya.
Senada dengan itu, Iwan, warga Plaju juga meminta agar pemerintah dan instansi terkait lainnya hendaknya benar-benar menerapkan aturan yang sudah yakni Perda dan Perwali terkait pengaturan usaha hiburan selama bulan puasa.
“Kita selaku warga tentu mendukung kebijakan pemerintah agar usaha hiburan dapat ditutup selama puasa. Ini untuk kebaikan bersama namun juga pengusaha tempat hiburan malam juga harus memperhatikan karyawannya dengan memberikan hak walaupun diliburkan,” tandasnya.           
Sementara itu, menjelang bulan Ramadhan , Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Palembang mulai mengintensifkan razia ke tempat hiburan. Semua tempat hiburan wajib tutup pada H-1 Ramadan.
Kabid Perlindungan Masyarakat (Linmas) Satpol PP Kota Palembang, Dedi Harapan mengatakan, pihaknya akan makin intensif melakukan razia di tempat hiburan malam selama Ramadan.
Sedangkan untuk tempat karaoke keluarga dan pijat refleksi masih diberikan toleransinya. Namun, tetap dalam pengawasan petugas agar tempat tersebut tidak disalahgunakan.
“Kita minta juga pemilik dan pengelola rumah makan agar dapat menghormati orang yang berpuasa dengan memasang tabir penutup pada bagian yang dapat terlihat oleh masyarakat umum pada siang hari. Jika masih membandel dan tidak dapat ditegur maka petugas dapat menutup paksa. Sedangkan kalau tempat hiburan yang membandel terancam ditutup,” ucapnya.
Sedangkan untuk itu, maka pemilik atau pengelola klub malam, bar, diskotek, cafe, serta panti pijat di Kota Palembang, lanjut dia, diharapkan untuk stop operasional. Sehingga dapat mematuhi dan menghormati umat Islam yang menjalani ibadah puasanya.
“Untuk tempat hiburan malam yang satu paket dalam hotel tidak boleh menyediakan wanita penghibur. Bila kedapatan jelas akan kita tindak tegas,” kata  dia.
Mengenai sweeping yang dilakukan masyarakay, Dedi mengimbau, agar elemen masyarakat dapat menahan diri dengan tidak melakukan sweeping. Karena pihaknya siap bertindak tegas bagi tempat hiburan yang membandel.
“Kita jamin akan memberikan tindakan tegas bagi tempat hiburan malam yang melanggar. Dan kita harap tidak ada kelompok masyarakat yang melakukan sweeping sendiri, tetapi bisa berkoordinasi dengan petugas gabungan,” pungkasnya.
Sementara salah seorang pemilik tempat hiburan malam di kawasan R Sokemato, Juanda Willy mengatakan, siap mendukung dan siap menjalankan kebijakan pemerintah terkait kebijakan penutupan  temnpat hiburan malam.
“Kita selaku pengusaha hiburan juga telah menyiapkan hak karyawan karyawati jika tempat hiburan ditutup dan saya yakin para pengusaha hiburan di Kota Palembang akan menghormati dan menjalankan kebijakan pemerintah,” ujarnya. (rob/ika)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses