Melihat Kegiatan Anggota Komunitas Cintai Mainan Palembang

Melihat Kegiatan Anggota Komunitas Cintai Mainan Palembang
Para anggota Komunitas Cintai Mainan Palembang dan sejumlah mainan koleksi data Kopdar dari bertukar informasi hingga bersilahturahmi. Foto:Poetra/Palembang Pos
Posted by:

MEMILIKI mainan yang diidam-idamkan sejak kecil memang mengasyikan. Kendati saat memilikinya sudah berusia dewasa namun hal itu tidak menyurutkan untuk terus mengoleksi mainan yang digemari.

Keasyikan mengoleksi mainan bagi pencinta mainan sering menjadi sebuah tantangan. Apalagi jika mainan yang ingin dikoleksi tidak dijual di semua toko, hanya toko tertentu yang menjualnya.

Maka upaya untuk bisa mendapatkan mainan yang ingin dikoleksi untuk menambah jumlah koleksi yang sudah ada, menjadi sebuah kegiatan yang mengasyikan bagi kolektor mainan.

“Terkadang mainan yang ingin kita koleksi hanya ada di toko tertentu, maka ketika ada kesempatan langsung membeli, bahkan tak jarang hingga luar negri” papar Ketua Komunitas Cintai Mainan Palembang (CMP), Giyandhi kepada Palembang Pos bersama anggota CMP lainnya, belum lama ini.

Demikian juga ketika mainan tersebut tidak dijual di toko di Indonesia, karena diproduksi secara terbatas, toko onlinepun menjadi sasaran. Kendati harga mainan tersebut cukup mahal, tidak menjadi alasan untuk mengurungkan niat membeli.

“Karena kita punya jargon, lebih baik nyesal beli, dari pada nyesal tidak beli,’ tutur Giyandi yang diamini anggota CMP yang lain, Harry, Eko Pramudiyanto, Devi, Bowo, Erwin, Arda, Ibrahim, Iksan, dan Eko Sutanto.
Mainan yang dikoleksi anggota Kolektor Mainan di Palembang, ada yang mirip dengan tokoh aslinya, seperti tokoh Bruce Lee dan tokoh laga lainnya.

Memang diakui dengan harga yang mahal ada yang menganggap mengoleksi mainan adalah pemborosan. Namun sebenarnya, menurut Harry, tidak semua mainan yang dikoleksi mahal.

“Karena anggota komunitas CMP itu bebas yang penting punya koleksi mainan. Entah itu mainan Action figure, robot, miniature mobil ataupun mainan jadul, seperti gambar umbul atau yoyo,” terangnya.

CMP memang berbeda dengan komunitas mainan lain yang hanya mengkhususkan pada jenis mainan tertentu. “Yang penting punya koleksi mainan, soal harga atau modelnya tidak jadi masalah. Sebab kami mengutamakan kebersamaan,” ungkap Yandhi yang diiyakan Erwin.

Selain ada yang menganggap mengoleksi mainan adalah pemborosan, menurut mereka, ada juga yang menilai apa yang dilakukan anggota CMP yang sebagian besar berusia dewasa, seperti anak kecil.

“Tidak perlu emosi menanggapi hal itu, karena mengoleksi mainan selain bentuk mengaggumi seni juga bisa melatih kreativitas pencinta mainan,” tuturnya. Hal itu diakui anggota CMP lainya Bowo yang senang mengoleksi mainan sejak masih SMA sekitar tahun 2007.

Menurutnya, saat membeli mainan robot Jepang, Evanglion dalam kondisi belum berbentuk robot.“Nah saat memisahkan perbagian kemudian merangkainya membentuk robot, jelas butuh kreativitas dan kesabaran. Termasuk saat mengecat ulang mainan robot milik kita,” ujar Bowo yang diiyakan Devi, kolektor robot Transformer. (vot)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses