Melihat Rumah Budaya Palembang Dayang Merindu (1)

Melihat Rumah Budaya Palembang Dayang Merindu (1)
Posted by:

Simpang Songket 2,5 Abad, Lestarikan Budaya Palembang

Siapa yang tidak kenal dengan Ana Komari. Seniman wanita terkenal Palembang ini, membangun satu rumah yang khusus mempromosikan kesenian serta kebudayaan Palembang. Rumah yang diberi nama Rumah Budaya Dayang Merindu ini, menyimpan sejumlah peninggalan seni khas Palembang.

ERIKA—PALEMBANG

Jari-jari Ana Komari terlihat masih lentik menarikan Tari Gending Sriwijaya. Usianya yang sudah memasuki 69 tahun, tidak menghalangi kakak artis Anwar Fuady ini untuk mengembangkan kesenian khas Palembang. Bahkan, ibu empat anak ini, masih sering menjadi instruktur tari di sanggar tari miliknya.
Kecintaan Ana kepada budaya dan seni Palembang, kini diwujudkan dalam Rumah Budaya Dayang Merindu. Rumah ini berlokasi di Jalan Naga Swidak Kelurahan 14 Ulu. Didalam rumah, terlihat kain-kain songket dengan berbagai motif yang disusun rapi. Ada juga kebaya dan  baju adat untuk pernikahan Palembang yang dipajang. Kemudian ada alat tenun, untuk menenun songket.
Rumah budaya ini menyimpan sejumlah peninggalan seni Palembang. Diantaranya, songket Limar Mentok yang berusia 250 tahun atau 2,5 abad. Kemudian, songket nago besaung, songket bungo cino, kenango makan ulet dan jando beraes. Ada juga kain prada Palembang yang dilukis dengan tinta emas. Kesemuanya sudah berusia ratusan tahun. Disini juga disimpan beragam keris khas Palembang.
Menurut Ana, rumah budaya ini sebenarnya sudah lama dia dirikan. Namun, selama ini rumahnya tidak representatif. Karena itu, setelah mendapat bantuan dari Dirjen Sejarah dan Nilai Tradisional Kemendikbud RI, Ana dan keluarga segera merehab rumah budaya miliknya.
“Alhamdulillah, pada 19 Januari lalu sudah diresmikan. Nantinya, disini kami akan buat beragam kegiatan. Seperti sanggar tari, pelatihan upacara adat, tempat menenun songket. Pokoknya, kesenian khas Palembang,” ungkap Ana yang pernah meraih juara Bintang Radio ini.
Diakui istri dari Alm H Haqi Alian ini, saat ini banyak kebudayaan Palembang yang sudah hilang. Banyak generasi muda sudah tidak tahu lagi, tentang adat istiadat Palembang.
“Kita sudah tidak pernah mendengar orang memakai Bahasa Palembang asli. Padahal, bahasanya sangat indah dan sangat santun. Ini harus dilestarikan, sangat disayangkan kalau nanti tidak ada yang tahu lagi kebudayaan Palembang,” beber perempuan kelahiran 10 November 1945 ini.
Keberadaan rumah budaya sendiri, lanjut dia, diharapkan dapat memotivasi semua pihak termasuk pemerintah untuk lebih memperhatikan kesenian dan kebudayaan Palembang. “Mudah-mudahan, ini bisa menjadi satu momentum agar kebudayaan Palembang bangkit lagi,” harapnya. (*)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses