Ojol Tuntut Keadilan

Ojol Tuntut Keadilan
Posted by:

PALEMBANG – Aksi demo besar-besaran yang dilakukan para pengemudi ojek online (Ojol) di Istana Merdeka, beberapa waku lalu yang salah satunya menutut kenaikan tarif, ternyata tidak berbuah manis. Kondisi itu membuat para Ojol kembali melakukan aksi. Kali tak hanya di Jakarta namun juga di daerah di Kota Palembang. Dimana ratusan Ojol Go-jek plus Grab melakukan demo ke Kantor DPRD Sumsel.
Kedatangan mereka tidak lain untuk menuntut agar aplikator Ojol mengembalikan perhitungan performa menjadi 40 persen dan menetapkan tarif dasar yang sesuai. Aksi demo yang datang ke gedung wakil rakyat sekitar pukul 10.00 WIB, para Ojol membawa sepanduk dan kertas karton bertuliskan protes kepada kebijakan yang dibuat aplikator. Selanjutnya ratusan pengunjuk rasa yang menamakan dirinya aksi 234 tersebut mereka meminta dewan membantu mereka dalam menyelesaikan masalah yang tengah mereka dihadapi.
Dalam orasinya Koordintor Aksi (Korak), Rusdi mengatakan, pihaknya mendesak pihak aplikator untuk menghentikan persaingan tidak sehat, antar aplikator yang dapat merugikan para mitra yang pada akhirnya akan memicu gejolak sosial. ”Kami menuntut aplikator mengembalikan perhitungan performa menjadi 40 persen dan menetapkan tarif dasar yang sesuai,” tandasnya.
Menurut Rusdi, aplikator harus membuat sistem yang matang dan berorientasi pada mensejahterakan dan meningkatkan taraf hidup yang layak bagi mitranya. “Aplikator juga wajib memberlakukan tarif per kilometer sebesar Rp 3.000 hingga Rp 5.000 perkilometer. Kemudian tidak membuat dan memberlakukan kebijakan yang merugikan mitranya, mulai dari poin, performa serta melakukan suspend sepihak. Jangan mensuspend kami karena melakukan aksi 234 ini,” tandasnya.
Pernyataan yang sama dikatakan Koordinator lapangan (Korlap), Budi Satria. Menurutnya, aksi 234 ini dilakukan untuk meminta bantuan pemerintah terutama anggota DPRD Sumsel, sebagai wakil rakyat, untuk menjadi mediasi antara driver Ojol dengan aplikator. “Kami minta pemerintah menindak tegas aplikator nakal, yang ingin menghancurkan perekonomian mitranya, yaitu masyarakat Indonesia. Mengusir aplikator luar negeri yang ingin menghancurkan perekonomian dan sosial mitra, serta mendorong dan membantu aplikator karya anak bangsa dalam membangun NKRI,” tandasnya.
Ketua Asosiasi Driver Gojek se-Kota Palembang (KKDOP), Aan membenarkan, kalau demo 234 terjadi karena seluruh driver resah atas kebijakan yang dibuat pihak Go-jek dan Grab lantaran, pihak aplikasi kerap menurunkan tarif seenaknya, saja ditambah lagi dengan penilaian performa yang tinggi, membuat pihaknya para driver sulit mencapai bonus poin maksimal.”Kebijakan secara sepihak ini membuat kami sangat gusar. Kami menuntut keadilan, kami akan bangkit untuk melawan. Jika tidak, maka kami akan terus ditindas,” ujarnya. Aksi 234 Go-jek ini sendiri lanjutnya, merupakan aksi serentak para driver ojol Gojek yang dilakukan diberbagai kota termasuk Jakarta, Lampung dan berbagai kota lainnya untuk menuntut naiknya harga tarif.
Igun, salah seorang driver Go-jek mengaku, sengaja datang demo untuk menyuarakan tuntutan yang ia dan rekan-rekan driver inginkan. Karena menurutnya, kenaikan tarif harga yang diberlakukan saat ini dari Rp 1500 perkilometer menjadi Rp 2.500 perkilometer masih terlalu kecil, sehingga membuat para driver kesulitan. Apalagi perolehan point juga semakin sulit didapat akibat peraturan baru. “Belum lagi ada beberapa driver yang kena suspend akibat peraturan Go-jek. Sehingga banyak kendala yang harus diderita pengemudi,” ujarnya. Igun menambahkan, dalam aksi tersebut, pihaknya menuntut penyamarataan tarif ojek online diharga Rp 3.000 sampai Rp 3.500 perkilometer serta kepastian hukum dari ojek online. (del)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses