OKI Bantah KLB, Lubuk Linggau Aktifkan Fooging

OKI Bantah KLB, Lubuk Linggau Aktifkan Fooging
Wali Kota Lubuk Linggau langsung turun untuk fooging ke rumah masyarakat guna mencegah meluasnya DBD. foto : maryati/palembang pos
Posted by:

KAYU AGUNG- Meskipun kondisi Wabah penyakit demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) terus menyerang warga dan berpotensi terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB), namun Dinas Kesehatan Kabupaten OKI menyatakan DBD belum berstatus kejadian luar biasa (KLB), karena jumlah penderitanya masih sedikit. Hingga akhir Januari 2016, Dinas Kesehatan Kabupaten OKI mencatat ada 181 warga yang dirawat akibat penyakit tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan OKI, HM Lubis SKM didampingi Kabid Yankes, Ubaidilah SKM mengaku penderita DBD di OKI masih dalam jumlah normal jika dibandingkan tahun sebelumnya. “Untuk penetapan status KLB, ada beberapa faktor yang harus terpenuhi. Salah satunya yakni jumlah kasus yang terjadi meningkat 100 persen dari tahun sebelumnya. Tahun 2015, jumlah kasus DBD di OKI sebanyak 365 orang, sementara hingga akhir Januari 2016, ada 181 pasien yang terjangkit DBD,” ungkap Lubis.

Untuk menanggulangi penyebaran wabah DBD ini, kata Lubis, pihaknya intens melakukan fogging ke daerah-daerah endemis, serta membagikan bubuk Abate ke wilayah yang belum terserang wabah penyakit menular ini. “Memang ada pasien yang meninggal dunia akibat DBD, oleh sebab itu kita bertindak cepat dengan melakukan foging masal dan membagikan bubuk Abate ke lokasi yang merupakan rawan serangan DBD,” kata Lubis.

Warga yang terserang DBD, menurut Lubis, sudah ditangani tim medis dengan dilakukan perawatan. Pihaknya juga mengimbau masyarakat berperan aktif dalam mencegah dan menanggulangi penyebaran jentik-jentik nyamuk penyebab penyakit DBD.

“Fogging ini hanya memberantas nyamuk-nyamuk dewasa, namun tidak untuk jentik-jentik nyamuk. Upaya yang efektif yakni melakukan 3M, yakni menguras, menutup dan mengubur serta membiasakan untuk menggunakan kelambu di saat tidur dan memakai lotion anti nyamuk,” terangnya seraya mengharapkan upaya pembersihan lingkungan agar dilakukan secara massal yang melibatkan Camat dan Kepala Desa.

Lubis juga mengatakan, Dinkes OKI berupaya semaksimal mungkin dalam mencegah meluasnya wabah penyakit mematikan ini. “Jumlah penderita yang kita rawat di RSUD Kayuagung itu juga sebagian warga dari Kabupaten Ogan Ilir. Artinya tidak semua warga OKI yang kita rawat. Kami berupaya untuk meminimalkan penyebaran virus penyakit DBD, peran masyarakat ataupun kepala desa diharapkan mampu mencegah meluasnya penyakit berbahaya ini,” tandasnya.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Lubuklinggau, Nawawi Akib, melalui Kepala Bidang (Kabid) Pengkajian dan Pengendalian Dampak Lingkungan (P2DL), Yeti Sumiati menjelaskan, berdasarkan data yang masuk ke Dinkes Lubuklinggau hingga Kamis (4/2), sedikitnya ada 227 korban DBD termasuk 3 orang yang meninggal dunia. Dari jumlah itu, Kecamatan Lubuklinggau Utara II dan Kecamatan Lubuklinggau Barat II, tercatat sebagai kasus DBD tertinggi dibandingkan 6 kecamatan lainnya.

“Di Utara II tercatat ada 64 penderita DBD, Barat II 38 penderita DBD, sisanya tersebar di 6 kecamatan lainnya,” ujar Yeti.

Tingginya angka penderita DBD tersebut, dikatakan Yeti, membuat Dinkes meningkatkan status DBD menjadi  KLB (Kejadian Luar Biasa). Sehingga langkah-langkah antisipasi untuk pencegahan DBD terus dilakukan. Mulai dari pembagian bubuk abate, fogging masal, hingga melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).

“Kita juga mengimbau kepada seluruh sekolah agar melaksanakan PSN, sementara untuk fogging sebenarnya sudah dilakukan jauh hari sebelumnya bahkan sudah dimulai pasca terjadinya kabut asap atau memasuki musim penghujan,” jelas Yeti.

Yeti menambahkan, PSN dilakukan serentak di seluruh kecamatan dan kelurahan. “Hari ini kegiatan PSN dipimpin langsung bapak wali kota,” pungkas Yeti. (jem/yat)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses