Pakai Formalin, Dua Pabrik Tahu Ditutup

Pakai Formalin, Dua Pabrik Tahu Ditutup
Wawako Palembang, Fitrianti Agustinda saat sidak pabrik tahu berformalin, kemarin.
Posted by:

PALEMBANG- Meski sudah dilarang, namun penggunaan formalin untuk tahu masih kerap dilakukan. Senin (12/6) tim dari Pemkot Palembang, yang dipimpin Wakil Wali Kota Palembang, Fitrianti Agustinda mendapati dua pabrik tahu yang positif menggunakan formalin. Dua pabrik yang berada di Jl Padang Selasa, Bukit Besar Palembang ini, langsung disegel oleh aparat kepolisian.

Wawako Palembang, Fitrianti Agustinda mengatakan, inspeksi mendadak (sidak) ini sendiri dilakukan Pemkot Palembang, sebagai upaya untuk menjaga kualitas makanan yang beredar dan dikonsumsi masyarakat. Alhasil, dari sidak dan tes sample yang dilakukan oleh pihak Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Palembang, ditemukan tahu siap jual yang positif mengandung formalin.

“Saya sangat menyesalkan masih adanya produksi makanan yang memakai zat berbahaya seperti ini. Formalin itu berbahaya untuk kesehatan, karena itu pengawet mayat bukan pengawet makanan. Kita sudah kasih peringatan untuk menghentikan operasional dulu. Masalah ini akan kita serahkan kepada pihak yang berwajib untuk pemberian sanksi dan menyusuri jejak penjual bahan kimia tersebut,” bebernya.

Bukan itu saja, lanjut Fitri, pihaknya juga akan menahan penerbitan surat izin bagi produsen tahu yang nakal. Sementara pemilik rumah produksi tahu di Jalan Padang Selasa Bukit Besar Palembang, Hasan mengatakan, memang ia mengetahui kalau bahan pengawet yang ia pakai adalah formalin dan hasil produksinya tersebut dijual di pasar Jakabaring. “Baru awal bulan puasa ini saya pakai supaya lebih awet,” kata Hasan.

Berbeda halnya dengan Agustina alias Betty. Produsen tahu ini mengaku, bahwa dirinya tidak tahu kalau bahan pengawet yang ia pakai ialah formalin. “Saya beli langsung, katanya cairan untuk mengawetkan tahu. Saya membeli satu jeriken yang berisi 20 liter larutan pengawet seharga Rp800 ribu untuk memproduksi 1500-2000 tahu. Setiap harinya untuk dijual di pasar Plaju dan Lemabang. Saya tidak tahu kalau itu formalin dan saya sudah empat tahunan memakainya. Saya tahunya itu air garam,” dalihnya.

Betty sendiri mengharapkan, agar pemerintah bisa memberikan solusi bagi pengusaha tahu seperti dirinya. “Kalau ada yang lebih aman dan tidak berbahaya untuk kesehatan kami mau. Tapi, memang harus ada bahan untuk mengawetkan tahu ini. Karena, kalau tidak pakai pengawet, tahu hanya tahan setengah hari. Saya pernah buang tahu sampai 100 ember, karena rusak. Apalagi, sekarang pembelian menurun drastis,” paparnya.

Sementara itu, produsen tahu yang dinyatakan bebas formalin Firyanto alias Ateng menambahkan, sejak 2000 an lalu ia membuka bisnis produksi tahunya tanpa memakai bahan pengawet yang berbahaya bagi tubuh. “Kalau saya pakai Biofresh dan Benzoat. Jadi, saya kasih pilihan ke konsumen. Produksi saya itu lebih dari 100 kilogram sehari, dan saya dari awal menegaskan kepada tujuh pegawai saya untuk tidak memakai bahan pengawet yang berbahaya,” ungkapnya.

Terpisah Kepala Dinkes Kota Palembang, Letizia menguraikan, berdasarkan hasil tes tersebut pihaknya mendapati dua rumah produsen tahu yang positif mengandung formalin dimana melebihi 1,5 mg/l dengan tingkat kekentalan yang sangat tinggi. Zat pengawet ini, jika dikonsumsi dalam jangka panjang, akan menimbulkan efek yang sangat buruk bagi tubuh. “Tadi setelah kita tes memakai formaldehyde test ternyata benar mengandung formalin. Jelas kalau ini dikonsumsi akan menimbulkan gejala kanker, gagal ginjal bahkan berujung kematian,” tukasnya. (ika)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses