Penghormatan Bagi Pengantin

Penghormatan Bagi Pengantin
Posted by:

*Tradisi Pantauan Bunting Usai Lebaran

PAGARALAM – Usai lebaran, banyak warga yang melangsungkan pernikahan. Di Pagaralam, ada satu tradisi yang ditujukan untuk menghormati para pengantin. Dalam bahasa besemah, pengantin disebut dengan ‘bunting’. Tradisi itu dinamakan ‘pantauan bunting’. Hingga kini, pantauan bunting masih terus dijalankan masyarakat Pagaralam.
Anggota Lembaga Adat Besemah, Satarudin Tjik Olah, menjelaskan, pantauan bunting, merupakan tradisi untuk menghormati pengantin. “Wadah untuk menjamu pengantin. Juga untuk mempererat tali kekeluargaan,” ucap Satar, dijumpai di kediaman pribadinya, di Simpang Dusun Petani.
Pantauan bunting kata Satar, digelar oleh sanak famili pengantin. Bisa juga digelar oleh warga di dusun tempat pengantin itu melangsungkan pernikahan. “Umumnya mantau bunting dilaksanakan saat hari ‘bemasak’. Sebab di hari itu pengantin belum terlalu repot. Kalau dilaksanakan pada hari H, tentu akan repot,” sambungnya.
Mereka yang menggelar pantauan bunting disebut mantau bunting. Orang yang mantau bunting lanjut Satar, biasanya harus mengajak pengantin untuk datang ke rumahnya. Di dalam rumah, pengantin dijamu dengan berbagai macam makanan. “Pengantin tidak datang sendiri. Mereka juga ditemani oleh bujang dan gadis ngantat,” imbuhnya.
Di dalam rumah, pengantin serta bujang dan gadis ngantat dipersilakan untuk mencicipi makanan yang disediakan oleh orang yang mantau bunting. Sembari makan, yang empunya rumah menyempatkan diri untuk berbincang dengan pengantin. “Makanya seperti yang saya bilang tadi. Dengan mantau bunting, seseorang bisa memperkenalkan diri sebagai bagian dari keluarga si pengantin. Nah, dari sini pengantin akan tahu bahwa rumah yang didatangi itu adalah keluarganya,” bebernya.
Tentu yang didatangi pengantin serta para pengiringnya bukan satu-dua rumah. Tapi sangat banyak. Menurut Satar, bila yang menggelar pantauan bunting jumlahnya banyak. Maka dipastikan pengantin akan kekenyangan. “Kadang karena sudah terlalu kenyang, pengantin tidak makan lagi. Tapi karena demi menghormati tuan rumah tetap saja mereka makan sedikit,” tutur Satar sembari tersenyum.
Satar memastikan, hingga kini, pantauan bunting masih terus diterapkan warga Pagaralam. Terutama kata dia di dusun-dusun yang mempertahankan tradisi besemah. “Berdasarkan pengamatan saya masih berlangsung. Sebab tradisi pantauan bunting sudah mengakar kuat di tengah masyarakat. Sulit untuk ditinggalkan,” ucapnya menegaskan.
Satar menyatakan pengantin wajib datang bila ada keluarga atau warga lain yang mengajaknya ke rumah dalam rangka pantauan bunting. “Hukumnya wajib. Pengantin harus datang ke rumah yang mantau bunting. Sebabnya kan pantauan bunting tujuannya untuk menghormati pengantin itu sendiri,” katanya. Bila tidak, maka ada konsekuensinya. “Bila tidak didatangi timbul upat manjang (fitnah). Jadi perbincangan orang-orang,” lanjut Satar.
Bagaimana kalau seandainya lupa? Satar menyatakan, wajib untuk diulangi. Kata dia, tidak ada alasan bagi pengantin untuk tak mendatangi pantauan bunting. “Makanya orangtua pengantin harus mengingatkan, bahwa semua rumah yang menggelar pantauan bunting harus didatangi satu per satu. Tidak boleh ditinggalkan,” jawabnya.Demikian pula dengan mantau bunting. Kata Satar, keluarga pengantin sangat dianjurkan untuk melaksanakan pantauan bunting. “Bila tidak juga akan jadi perbincangan orang,” sambungnya. (cw08)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses