Penyakit Lama Lapas Kita

Penyakit Lama Lapas Kita
Posted by:

 

*Kamar Khusus sampai Narkoba

 PALEMBANG

Satu per satu borok di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) kembali menyeruak ke permukaan. Sebelumnya, terbongkar kamar mewah napi korupsi, kini peredaran narkoba yang dilakukan napi dari dalam sel.

Hasil penelusuran Palembang Pos dari berbagai sumber terpercaya mengungkapkan, sebenarnya bukan borok baru tersebut merupakan ‘’penyakit’’ lama yang tak kunjung  tuntas diobati. Sudah bukan rahasia umum, napi korupsi atau yang memiliki banyak duit bisa menikmati fasilitas di lapas.

Sebut saja kamar khusus dan bebas menggunakan handphone. Mirisnya lagi, untuk napi berkantong tipis pun masih harus mengeluarkan uang untuk dapat kamar di lapas. Modus seperti ini, biasanya bagi napi yang masih dalam ruang karantina sebelum masuk ke kamar tahanan. Besaran uang yang harus dikeluarkan napi dari Rp1 juta sampai Rp3 juta, agar bisa cepat keluar dari kamar karantina.

‘’Sudah bukan rahasia umum lagi, Mas.  Bagi orang berduit bisa menikmati semua fasilitas seperti kamar dan handphone serta lainnya. Sangat jarang pihak Kementerian Hukum dan HAM atau pun kanwil melakukan sidak ke lapas. Lemahnya pengawasan inilah yang dimanfaatkan oknum di Lapas untuk mengeruk keuntungan pribadi,’’ kata sumber Palembang Pos di salah satu Lapas.

Menurut dia, semua napi korupsi seperti anggota DPRD yang ditahan, bahkan bisa pulang ke rumah malam hari. Untuk napi kasus narkoba, bisa dengan bebas menggunakan handphone sebagai sarana untuk mengendalikan ‘’bisnis’’ narkoba. Kamar mereka pun tidak seperti napi lainnya.

Pengungkapan sumber Palembang Pos ini ternyata benar. Sebagai bukti, Rizki (26) warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Merah Mata Palembang bisa mengendalikan oknum sipir bernama Adiman alias Adi (36) sebagai kurir untuk mengedarkan narkoba kepada pemesan.

Terungkapnya setelah jajaran Ditres Narkoba Polda Sumatera Selatan (Sumsel), Kamis (2/8/18) yang lalu, menangkap Adiman  di kawasan jalan Tanjunng Api-api Palembang tepatnya simpang Bandara SMB II. Saat petugas  melakukan pengeledahan mobil yang dikendarai Adi, berhasil mendapatkan uang tunai Rp120 juta. Adiman mengaku uang tersebut hasil penjualan narkoba. Kemudian, polisi menuju ke rumah pembeli, namun rumah sudah dalam keadaan kosong. Saat dilakukan penggeledahan, polisi mendapatkan barang bukti satu paket narkoba sabu-sabu seberat 209,56 gram

Kepala Kanwil Kemenkumham Sumsel Sudirman D Hury mengaku kecolongan dengan adanya oknum sipir yang menjadi kurir dari warga binaan Lapas Merah Mata Palembang.

“Saya marah, dan merasa tertampar dengan adanya kasus ini. Saya begitu intens untuk melakukan pembersihan di lapas rutan dan kita menyatakan perang terhadap narkoba,” kata Sudirman D Hury saat dibincangi Palembang Pos di ruang kerjanya, Selasa (7/8/18) sore.

Sambung Sudirman, adanya kasus oknum pegawai sipir lapas merah mata yang kedapatan menjadi kurir narkoba, pihaknya langsung bergerak cepat dengan membentuk tim gabungan untuk menangani permasalahan ini sampai dengan selesai.

“Saya sudah keluarkan surat perintah untuk melakukan pemeriksaan di LP Kelas 1 Merah Mata, timnya sudah saya bentuk dengan ketuanya kepala Divisi Kemasyarakatan. Tim ini gabungan terdiri  3 orang dari Divisi Kemasyarakatan, 2 orang dari Keadministrasian,” jelasnya.

Sudirman mengaku, saat ini pihaknya telah memberhentikan sementara oknum sipir Lapas Merah Mata. “Untuk sekarang kita berhentikan sementara. Masih menunggu keputusan berapa tahun dia (Adi) menerima hukuman. Apabila diatas 5 tahun maka akan kita pecat permanen, dan apabila putusan di bawah 5 tahun maka dipecat sementara dan tiga tahun pangkatnya saya turunkan,” tegasnya.

Ditanya apakah kesejahteraan sebagai petugas sipir dirasa kurang, Sudirman membantah kalau gaji sebagai sipir dirasa cukup. “Insetif vertikal daerah ini yang paling tinggi tunjangan kinerjanya Kemenkumhan 80 persen tunjungan kinerja kita, gaji itu standar karena ada ketentuannya sesuai golongannya, bagi saya itu sudah cukup,” katanya.

Lanjutnya, inilah upaya pemerintah untuk mensejahterahkan pegawai untuk menghindari upaya punggutan liar, korupsi. “Hanya saja tinggal gaya pola hidupnya seperti apa, seperti kasus ini dia (Adi) dibayar untuk menjadi kurir narkoba karena dia ingin punya gaya hidup yang hebat, pekerjaan yang paling gampang menjadi pengedar narkoba dan uangnya banyak. Akan tetapi kalau sudah tertangkap jangan coba-coba tiada ampun,” imbuhnya.

Masih dikatakannya, sebelum kejadian kasus ini, pihaknya sudah membentuk Satgas Keamanan Ketertiban Lapas dan Rutan. Dilanjutkannya ia juga membentuk Satgas P4GN bagaimana pihaknya memberantasan masalah peredaran gelap narkoba ini.

“Kita juga sudah melakukan razia secara waktu  ke waktu baik secara insedentil, akan tetapi masih saja kita temukan handphone dalam lapas,” ungkapnya.

Diakuinya, pihaknya sudah melakukan tes urine narkoba kepada pegawai-pegawainya. Apabila ada yang positif maka ia pun  tak segan-segan menjatuhkan hukum disiplin kepada petugasnya.

“Sudah banyak pegawai-pegawai lapas yang saya jatuhkan hukuman disiplin, paling rendah tiga tahun pangkatnya saya turunkan ada yang saya berhentikan sementara. Ini saya lakukan sebagai pelajaran dan sebagai efek jera bagi yang lain. Akan tetapi masih juga muncul dimana yang salah,” tanya Sudirman. (cw06)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses