Polemik ‘’Sang Legenda’’ Pasar Cinde

Polemik ‘’Sang Legenda’’ Pasar Cinde
Lapak sementara untuk merelokasi pedagang Pasar Cinde
Posted by:

RENOVASI Pasar Cinde mendapat tanggapan beragam dari kelompok masyarakat. Sebagai bangunan cagar budaya, Pasar Cinde menjadi polemik diharapkan tetap dipertahankan sebagai legenda hidup.

Salah satunya, Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) menyesalkan pembongkaran Pasar Cinde. “Pengurus Nasional IAI menyatakan, menolak pembongkaran Pasar Cinde Palembang. Karena obyek tersebut telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya,” ujar Aditya W Fitrianto, Ketua Badan Pelestarian Arsitektur IAI, dalam siaran persnya.

Pasar Cinde sebelumnya ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Wali Kota Palembang berdasarkan Surat Keputusan Nomor 179a/KPTS/DISBUD/2017. Selain melanggar keputusan Wali Kota Palembang, pembongkaran juga telah melanggar Undang-undang No 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

Untuk itu, IAI mendesak agar kegiatan pembongkaran Pasar Cinde menaati rekomendasi Tim Kajian Pelestarian.
Selain itu, Pemprov dan pengembang mengubah strategi pengembangan pasar dan fasilitas baru dalam kerangka revitalisasi Pasar Cinde terpadu, dengan mempertahankan salah satu aset sejarah Kota Palembang.

“IAI melarang seluruh anggotanya untuk terlibat. Baik langsung maupun tidak langsung. Dalam proses pembongkaran Pasar Cinde, Palembang, perancangan dan pembangunan bangunan baru di lokasi tersebut,” tandasnya.

Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) mendesak Pemerintah Kota Palembang untuk segera menghentikan proses pembongkaran Pasar Cinde di Kota Palembang, yang akan dibangun menjadi pasar modern.

Penghentian pembongkaran harus dilakukan karena Pasar Cinde merupakan bangunan cagar budaya. IAAI juga meminta penjelasan kepada Walikota Palembang dan PT Magna Beatum selaku pihak pengembang.

Dasar hukum dan alasan atas dilakukannya pembongkaran Bangunan Cagar Budaya Pasar Cinde tanpa memperhatikan rekomendasi dari tim kajian dan mengindahkan ketentuan dalam UU No. 11 Tahun 1010.

Setelah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya, pembongkaran bangunan pasar yang dilakukan oleh PT. Magna Beatum bertentangan dengan ketentuan Pasal 66 dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang larangan merusak cagar budaya.

Demikian tertera dalam surat pernyataan sikap IAAI yang ditandatangani oleh W Djuwita S. Ramelan, selaku ketua umum.
Pasar Cinde didirikan pada 1958, didesain dan dibangun oleh Abikusno Tjokroseojoso –salah satu arsitek pertama Indonesia, mantan Menteri Pekerjaan Umum, dan adik HOS Tjokroaminoto.

Sejak 31 Maret 2017, Pasar Cinde telah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya sesuai dengan Surat Keputusan Walikota Palembang Nomor 179a/KTPS/DISBUD/2017.

Selain itu, Pasar Cinde juga telah terdaftar dalam Objek Registrasi Nasional Cagar Budaya dengan Nomor ID Pendaftaran Objek PO2016063000005 tanggal 30 Juni 2016.

“Arsitektur Pasar Cinde merupakan bangunan dengan struktur tiang penyangga berbentuk cendawan yang unik rancangannya dan sekarang hanya satu-satunya di Indonesia setelah terbakarnya Pasar Johar di Kota Semarang, Jawa Tengah,” ujar Djuwita.
Protes atas pembongkaran Pasar Cinde tak hanya datang dari IAAI. Sejak Mei 2016, masyarakat yang diwakili oleh kelompok pelestari budaya, misalnya SaveCinde dan asosiasi profesi Ikatan Arsitek Indonesia, juga telah melayangkan keberatan dan penolakan terhadap proses pembongkaran pasar tradisional ikonik di Palembang tersebut.

Tunggu Hasil Kajian

Sementara itu, Direktur Utama PT Magna Aldiron Hero Grup Aldiron, M Fajar Tarigan didampingi Kepala Cabang Aldiron Palembang, Raimar Yousnaidi memastikan pembangunan pasar cinde akan menunggu hasil kajian dari tim cagar budaya keluar. Tarigan mengatakan, pembangunan Pasar Cinde menjadi Aldiron Plaza Cinde, saat ini masih menunggu proses pembongkaran yang dilakukan perusahaan yang ditunjuk oleh PD Pasar Palembang Jaya selesai.

“Berdasarkan kesepakatan kontrak kerjsama dengan Pemprov Sumsel, kita sebagai pengembang menerima lahan dalam bentuk lahan kosong atau telah land clearing,” ujarnya.

Saat ini, proses pembongkaran yang dilakukan terhadap bangunan lama tengah dihentikan sementara waktu sambil menunggu hasil kajian dari tim cagar budaya yang dibentuk melalui SK Walikota Palembang.

“Mungkin dua minggu lagi ini sudah selesai. Hasil rekomendasi tersebut akan disampaikan oleh ketua tim,” ujar Tarigan.
Tarigan menjelaskan, pihaknya ditargetkan oleh Gubernur Sumsel agar pasar tersebut selesai sebelum Asian Games.

Namun karena rentetan permasalahan terjadi, maka target tersebut otomatis berubah. “Pembangunan ini ditargetkan 24 bulan selesai. Dipastikan sebelum Asian Games tidak akan selesai. Permintaan gubernur saat Asian Games berlangsung, sekitar pembangunan agar bersih dan rapi, ini pasti akan kita atur,” jelasnya.

Diungkapkannya, meski pasar tersebut berubah menjadi pasar yang Modern, namun tidak akan menghilangkan barang dagangan yang selama ini sudah dijual di Pasar Cinde.

Di antaranya ikan, daging, sayur dan lain sebagainya. Ya, meski nanti batik songket khas Palembang itu menjadi icon di Aldiron Plaza Cinde tapi pedagang ikan tetap ada.

‘’Hanya saja pedagang kita berikan training selama dua hari untuk diajarkan bagaimana cara menjaga kebersihan, pemeliharaan tempat dan lain sebagainya sehingga pasar selalu bersih,” ungkap Tarigan.

Sementara, Kepala Cabang Aldiron Palembang, Raimar Yousnaidi menambahkan, terkait pedagang lama sebanyak 598 orang dipastikan tetap mendapatkan tempat di pasar tersebut.

“Untuk pedagang lama kita prioritaskan mendapatkan tempat dan membayar tempatnya sesuai dengan Surat Keputusan (SK) Gubernur yaitu dengan harga Rp 10-20 ribu per hari per unit,” katanya.

Sedangkan, untuk pedagang baru yang ingin menempati kios di Aldiron Plaza Cinde ini mencapai Rp 30-60 juta per meter dengan sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB).

“Kalau mau kredit juga ada melalui Bank SumselBabel dan juga sewa untuk keperluan tertentu,” ujar Raimar.

Raimar mengungkapkan, Aldiron Plaza Cinde yang direncanakan memiliki 15 lantai tersebut akan tersedia 870 kios. Dari 870 kios tersebut sudah sekitar 25 persen yang terjual kepada konsumen tanpa ada promosi, bahkan sudah ada yang memesan sejak maret yang lalu.

“Jadi meskipun pasar belum jadi, sudah mulai banyak yang memesan karena takut kehilangan momen. Nah saat groundbreaking nanti saya yakin penjualan akan naik signifikan,” ungkapnya. (cw05/cw06)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses