Pro Kontra Naiknya Harga Rokok

Pro Kontra Naiknya Harga Rokok
Ilustrasi.
Posted by:

PALEMBANG- Asosiasi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI) dengan tegas menolak rencana Pemerintah Pusat yang akan menaikkan harga rokok hingga Rp 50 ribu per bungkusnya. Isu tersebut sangat meresahkan masyarakat, khususnya masyarakat sektor industri hasil tembakau.

“AMTI menolak dengan tegas kenaikan cukai yang eksesif, mengingat industri tembakau merupakan sumber utama penerimaan cukai negara dan merupakan industri padat karya yang melibatkan jutaan orang dari hulu hingga hilir,” tegas Ketua AMTI, Budidoyo, melalui Media Center AMTI, Tri Hananto Wibisono, dihubungi wartawan koran ini, kemarin.

AMTI percaya bahwa Pemerintah pasti akan mengkaji secara komprehensif terhadap rencana kenaikan cukai hasil tembakau. AMTI mendukung kebijakan cukai yang rasional, berimbang, serta mempertimbangkan kelangsungan industri hasil tembakau. Kenaikan cukai sebaiknya disesuaikan dengan kenaikan inflasi 4 persen.

“Bahkan pada tahun 2015, industri hasil tembakau membayarkan cukai, pajak daerah, dan PPN produk tembakau sebesar Rp 173,9 triliun atau setara 16,5 persen dari total penerimaan pajak Negara,” lanjut dia.

Rencana tarif cukai rokok tahun depan akan dinaikkan, seiring dengan dinaikkannya target penerimaan dari cukai hasil tembakau (CHT) menjadi Rp 149,88 triliun. Angka tersebut naik 5,78 persen dibandingkan target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2016 sebesar Rp 141,7 triliun.

Disisi lain, wacana harga rokok akan naik sampai Rp 50 ribu ternyata membuat para perokok ketar ketir. Sama halnya dengan isu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), yang ada aksi borong BBM, maka isu kenaikan harga rokok inipun juga membuat para perokok melakukan aksi borong rokok.

Ketakutan untuk tidak dapat menikmati rokokpun mulai terlihat, ketika para perokok mulai melakukan memborong rokok. Seperti yang dilakukan Kurniadi, warga Sukabangun ini, langsung membeli lebih dari lima slop rokok. Untuk diketahui, satu slop itu sama dengan 12 bungkus rokok.

“Stok saja, jika memang dinaikkan maka akan hemat untuk beberapa bulan ini,” paparnya, seraya berharap harga rokok tidak naik hingga Rp 50 ribuan perbungkusnya.

Hal serupa juga dilakukan Dedek, warga Kenten. Dedek yang biasa menghabiskan satu bungkus rokok setiap harinya memang membutuhkan stok rokok lebih, apabila harga rokok dipastikan naik hingga Rp 50 ribuan perbungkus.

“Saya niatnya mau beli satu ball, karena perhitungannya jika 1 slop isinya 10 bungkus. Dan 1 ball isinya 20 slop berarti saya akan lebih hemat lagi untuk beli rokok jika memang harganya jadi dinaikkan,” tutupnya.

Wacana kenaikan harga rokok yang mencapai Rp 50 ribu per bungkus, menuai pro dan kontra dikalangan masyarakat termasuk legislatif. Meskipun memberikan dukungan, namun kebijakan tersebut diyakini akan mempengaruhi anggaran pendapatan.(ety/ika)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses