Putri Rafaeh, Penyelamat Kerajaan Barbari dari Kehancuran

Putri Rafaeh, Penyelamat Kerajaan Barbari dari Kehancuran
Posted by:


Palembang
-Hikayat Sultan Abdul Muluk karangan Raja Ali Haji, disuguhkan dalam pementasan teater di Graha Budaya Jakabaring. Gagasan besarnya menitik beratkan hirarki kaum hawa, dikala itu bukan hal tabu, bila raja-raja pada umumnya memiliki permaisuri dengan banyak selir.

Tetapi ada raja baik bersikukuh tidak mau melakoni praktik tersebut, dimana peran kaum hawa tidak hanya sebagai penghias sebuah kerajaan, justru memiliki pengaruh besar dalam perang dan nasib suatu negeri. Itulah sekelumit kisah yang disuguhkan dalam pementasan teater Sultan Abdul Muluk, pada Rabu (23/11) pukul 13.00 WIB kemarin.

Sambutan acara dibuka oleh pimpinan produksi Lily Fadila Lubis, mengucapkan banyak terimakasih atas dukungan dari semua pihak hingga acara bisa berjalan sebagaimana diharapkan bersama.
“Kami dari mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia angkatan 2014, semester 5 kampus Palembang, menyuguhkan pementasan sebaik mungkin, sebagai pemenuhan tugas mata kuliah sanggar sastra. Bila ada kekurangan disana-sini mohon kritik dan pemaklumannya” ungkap Lili disambut tepuk riuh penonton yang ramai membludak gedung pertunjukan.

Profesor Dr Nurhayati MPd didampingi Supriyadi MPd sebagai dosen pengasuh, mengatakan pihak akademis mengusahankan, dalam setahun akan menggelar dua pementasan, hari ini (Rabu, 24 November) salah satu agendanya.

“Ada dua pementasan tradisional dan moderen, akan kita adakan dalam setahun. Pada waktunya kami di bulan berdekatan akan mengadakan di gedung ini juga” tanggapnya.

Supriyadi juga mengakui sebuah pertunjukan yang bagus tanpa dukungan atau kehadiran penonton akan terasa hambar. “Suatu tontonan yang bagus, tapi tidak ada penontonnya juga tidak bagus, malah  seperti bunuh diri” ujarnya.

Kepada audience, Supriyadi juga mempersilahkan untuk melakukan penilaian terhadap Dulmuluk dengan lakon Sultan Abdul Muluk oleh mahasiswa yang diasuhnya. “Kita akan melihat bagaimana Dulmuluk dibawakan selama ini, dengan yang hari ini, tentu kita sangat membutuhkan masukan dan kritikan membangunnya” timpal Supriyadi.

Babak pembuka, diawali dengan suasana kehidupan pagi pasar tradisional di sekitar negeri Barbari. Keramaian pasar bertambah jadi, ketika keributan terjadi ketika salah satu dayang kerajaan membeli kain songket dari salah satu pedagang, pasalnya telah ditipu.

Namun peran dayang disini mampu mengubah kekakuan cerita, menjadi segar dan dialog-dialog komedian. Perkara kecil tersebut pun sampai ketelinga raja, Sultan Abdul Hamid, dikenal arif lagi bijaksana, kain songkat dibeli mahal sang dayang, ternyata robek dan luntur, pedagang nakal tersebut langsung ditangkap dan dikurung.

Babak kedua, Sultan Abdul Hamid dan istri, berencana akan menjodohkan putranya Abdul Muluk telah beranjak dewasa dengan Siti Sara. Setelah bertahun lamanya, Sultan Abdul Hamid dikisahkan disini telah tua, kemudian meninggal karena sakit, tahtanya diwariskan kepada putranya Sultan Abdul Muluk.

Babak ketiga, pasca kematian ayahandanya, serta dihadapkan setumpuk urusan negara. Sultan Abdul Muluk bermaksud untuk melakukan kunjungan ke negeri tetangga. Saat itu dikenalkan oleh Sultan Arabi dengan putrinya Siti Rafeah, singkat cerita tumbuh bunga-bunga asmara diantara keduanya.

Kisah cinta itu, berakhir dengan pesta perkawinan, Sultan Abdul Muluk mempersunting Siti Rafeah sebagai istri keduanya. Hingga pesta perkawinan itu sampai ke telinga Sultan Sahabudin merupakan musuh bebuyutan kerajaan Barbari.

Babak keempat, Selagi meriah segenap penjuru negeri melangsungkan perkawinan Abdul Muluk dengan putri Siti Rafeah putri dari Sultan Arabi. Kesempatan tersebut, digunakan musuh atau Raja Sahabudin, untuk balas dendam, atas kematian pamannya, tak kala Abdul Muluk menikah di negeri Arabia.

Perang pun berakhir dengan kekalahan kerajaan Barbari, ketika Abdul Muluk berusaha pulang sesampainya disana justru tertangkap dan dipenjara. Ditengah keputus asaan Sultan Abdul Muluk meluapkan segala kegundahan hati kepada istrinya.

Babak penutup, ternyata datanglah pertolongan dari sejumlah tentara bercadar. Meski pasukan berkadar hitam ini banyak yang tewas menghadapai pasukan jahat Sultan Sahabudin, akhirnya bisa memenangkan pertarungan, bahkan Sultan Sahabudin yang jumawa pintu dan tewas.

Sultan Abdul Muluk yang merasa berhutan budi terhadap pasukan hitam bercadar, dibuat penasaran siapa gerangan telah menyelamatkan nyawa danbkerajaanya itu. Beta terkejutnya sultan Abdul Muluk saat mengetahui pimpinan pasukan bercadar hitam yang mengalahkan musuh, adalah putri Rafeah istri kedua dari kerajaan Arabia.

Pertujukan tersebut disutradarai Sekar Arum WK, astradra Dewi Puspitasari, para aktor Agung, Habibi, Septi, Selly, Erisna, Apri, Ema. Lalu Emi, Gita, Rizqi, Desti, Devi, Desty, Elis, dan Ketty. Lantas Arum, Yusuf, Ferli, Reski, Maranti, Nada Ira, Vika, dan Karina. Selanjutnya Ajeng, Desi, Ayu, Usi, Ninung, Atika, Linda, Indah serta Ani. Penata music, Moni, Raden, Yelisa, Septina, Wahyu, Ganda dan Nurfitri, serta penata make up, Nova dan Nabela.

“Sangat-sangat terhibur dan kita bisa tahu sejarah kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara, khususnya Sumsel. Saat itu bisa berjaya, dengan pengaruh budaya Islam dan Melayu yang cukup kental,” ungkap Feni, mahasiswi Unsri Indralaya yang sampai tuntas menonton pertunjukan.
Tanggapan Febri Alitani, selaku budayawan Sumsel dan perwakilan Dewan Kesenian Sumsel atau DKSS Sumsel, mengatakan pertunjukan Sultan Abdul Muluk menjadi pencerahan bagi penyaksi semua.

“Artinya apa, Dulmuluk bisa dikembangkan. Dimana kisah Abdul Muluk pertama di terima dalam syair, saat itu sambutannya sangat baik. Dari membaca syair lalu ditanggap, berkembang, jadi teater arena, dari bentuk sastra bermetamorfosisi, dan yang milik sumsel adalah bentuk teater Dulmuluk” terangnya.

Pria kerap tampil dengan group musik Rejung Pesirah ini mengatakan kembali, Syair abdul muluk merupakan karangan Raja Ali Haji dari Riau, adalah karya sastra  dipengaruhi budaya Islam dan Melayu.

“Berbeda dengan pertunjukan tradisional dulmuluk sebelumnya. Apa yang dipentaskan adik-adik mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia 2014 kampus Palembang, Ini teater moderen yang mencoba menafsirkan atau memainkan abdul muluk, namun kita tetap menghargai dengan kerja keras”cetus Febri. (adi)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses