Rupiah di Bawah Rp 12.000

Rupiah di Bawah Rp 12.000
Posted by:

Per 1 USD, Respons Current Account

JAKARTA – Sentimen positif sedang menaungi rupiah. Membaiknya defisit neraca berjalan (current account deficit/CAD) dan surplusnya neraca pembayaran indonesia (NPI) menjadi obat mujarab untuk menguatkan rupiah.
Menteri Keuangan Chatib Basri mengatakan, penguatan rupiah didorong oleh perbaikan NPI maupun CAD. Padahal, sebelumnya pasar sudah pesimistis Indonesia mampu memperbaiki dua hal fundamental tersebut. ”Mereka tidak percaya policy (kebijakan) kita akan efektif, tapi ternyata bisa,” ujarnya kemarin (14/2).
Sebagaimana diketahui, data yang dirilis Bank Indonesia (BI) menunjukkan NPI pada triwulan IV 2013 lalu mencatat surplus USD 4,4 miliar setelah selama tiga triwulan terakhir mengalami defisit. Perbaikan ini ditopang oleh CAD yang menurun cukup tajam menjadi USD 4,0 miliar atau 1,98 persen dari produk domestik bruto (PDB), dari sebelumnya USD 8,5 miliar atau 3,85 persen PDB.
Rilis data itulah yang langsung direspon pasar. Data Jakarta Interbank Offered Rate (JIBOR) yang dirilis BI mencatat rupiah kemarin menguat signifikan 187 poin dari 12.073 per USD menjadi 11.886 per USD. Ini adalah level terkuat rupiah sejak 3 Desember 2013. Ketika itu, rupiah ditutup di level 11.830 per USD.
Di pasar spot, penguatan rupiah terlihat lebih tajam. Data kompilasi Reuters menunjukkan, rupiah kemarin ditutup di level 11.820. Sementara itu, data kompilasi Bloomberg menunjukkan nilai tukar rupiah ada di level 11.831 per USD, menguat 149 poin atau 1,24 persen dibanding penutupan sebelumnya. Penguatan tersebut adalah yang terbesar dibanding seluruh mata uang dunia lainnya.
Menurut Chatib, pasar memang harus lebih sabar dan tenang menghadapi gejolak ekonomi global maupun domestik. Khusus untuk Indonesia, berbagai paket kebijakan pemerintah maupun BI yang diarahkan untuk mendorong ekspor dan mengerem impor, membutuhkan waktu untuk menunjukkan hasilnya. ”Trennya jelas, kalau ekonomi slow down, CAD pasti membaik,” katanya.
Ekonom yang juga mantan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) ini mengakui, sebenarnya dirinyapun tidak menduga bahwa perbaikan CAD bisa terjadi dalam nilai yang signifikan. Awalnya, dia menduga CAD masih akan di atas 2 persen. ”Hal ini pula (perbaikan di atas ekspektasi) yang membuat penguatan rupiah cukup tajam,” terang mantan staf khusus Sri Mulyani ketika menjadi menteri keuangan itu.
Chatib menambahkan, penguatan rupiah juga terdorong oleh sentimen global pelemahan USD terhadap sebagian besar mata uang dunia. ”Di banyak (negara) emerging market, (mata uangnya) juga menunjukkan penguatan,” katannya.
Sebagai gambaran, di kawasan Asia Pasifik, hampir semua mata uang menunjukkan penguatan terhadap USD. Hanya tiga mata uang yang justru melemah, yakni Yuan Tiongkok (CNY), dolar Australia (AUD), dan dolar New Zealand (NZD). (owi)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses