Rusuh Tanjungbalai, 9 Orang Diamankan

Rusuh Tanjungbalai, 9 Orang Diamankan
Sisa-sisa bekas kerusuhan di Tanjungbalai, Sumatera Utara, Sabtu (30/7). Foto: Gatha Ginting/Sumut Pos
Posted by:

JAKARTA – Aparat Polda Sumatera Utara mengamankan sembilan warga yang dianggap bertanggung jawab atas kerusuhan dan perusakan di Tanjungbalai, Sumatera Utara, pada Jumat (29/7).

“Situasi sudah terkendali. Kemudian ada sembilan orang yang diamankan,” kata Kapolri Jenderal Tito Karnavian di Bandar Udara Halim Perdanakusuma, Cawang, Jakarta Timur, Minggu (31/7). Tito menjelaskan, di antara sembilan warga yang diamankan, tujuh merupakan pelaku tindak perusakan. Sementara dua lainnya, terekam CCTV melakukan tindak pidana kekerasan.

“Tujuh diduga melakukan penjarahan, dua orang terekam CCTV saat melakukan kekerasan pada saat peristiwa terjadi,” kata dia. Mantan Kepala Badan Nasional Terorisme (BNPT) ini menegaskan, pihaknya masih melakukan penyelidikan terkait siapa pelaku provokasi melalui media sosial Facebook.

Selain itu, guna mengantisipasi adanya provokasi lanjutan, ia sudah membentuk tim cyber crime untuk melakukan penindakan. “Kami juga mengirimkan tim untuk melacak, kalau ada mereka melakukan isu provokatif,” tandas Tito.

Tito mengklaim, dua lokasi kericuhan di Sumatera Utara, yakni Tanjungbalai dan Tanah Karo sudah kondusif. Hal ini diungkapkan, setelah dirinya meninjau dua lokasi tersebut. “Saya baru saja kembali dari Sumatera Utara, tatanan situasi sudah aman dan kondusif, baik di Tanjung Balai maupun Tanah Karo,” kata Tito.

Tito melanjutkan, saat ini aparat Polri dan TNI tengah ditempatkan di titik-titik rawan konflik agar meredam situasi memanas. Selain itu, ia juga sudah mempertemukan pihak yang bermasalah untuk mencari solusi.

Tito menerangkan, untuk kerusuhan di Tanah Karo, ia menilai ada warga yang menolak relokasi pengungsi di wilayahnya. Karenanya, pihaknya telah melakukan dialog bersama Kapolda, Dandim, Bupati hingga Wali Kota setempat. “Dialog sudah dilakukan melibatkan Wakapolda, Dandim, Kapolres, Bupati, DPR dan lainnya. Intinya warga menghendaki relokasi itu dibicarakan kembali yang di Desa Lingga,” ucap dia.

Tidak jauh berbeda, pada lokasi Tanjungbalai juga dilakukan upaya demikian. Penebalan pasukan baik TNI dan Polri dilakukan. Bahkan, pihaknya melakukan upaya penindakan dengan mengamankan sembilan pelaku tindak pengrusakan.

“Penebalan pasukan sudah dilakukan dari Polri maupun TNI. Kami lokalisir masalahnya. Pertemuan masyarakat, tokoh-tokoh masyarakat sudah, dan mereka membuat kesepakatan utk menjaga ketertiban di Tanjungbalai,” kata Tito.

Seperti diketahui, puncak kerusuhan di Tanah Karo, Sumatera Utara berujung kerusuhan antar aparat dengan masyarakat, pada Jum’at (29/7). Satu warga, Abdi Purba tewas dalam kerusuhan tersebut, sedangkan satu lainnya, Ganepo Tarigan, kritis dan harus dirawat di rumah sakit setempat.

Sementara tidak jauh berbeda, kerusuhan terjadi di daetah Tanjungbalai, Sumatera Utara. Masalah berawal dari kesalahan komunikasi antar tetangga. Kemudian dipicu dengan pesan bernada provokasi melalui media sosial. Akibatnya, lima rumah ibadah hangus terbakar, begitu juga dengan beberapa unit mobil.

#Cara Provokator Rusuh Tanjungbalai Beraksi

Di sisi lain, aparat kepolisian tengah memburu pelaku provokatif yang menyebabkan pecahnya aksi intoleran di Tanjungbalai, Sumatera Utara, Jumat (29/7). Pelaku provokatif itu, diketahui memicu massa untuk bertindak anarkis, saat polisi menengahi masalah yang berujung terbakarnya lima vihara dan sejumlah kendaraan.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan, saat itu sebenarnya polisi sudah mencoba menengahi perkara. Tito menerangkan, asal mula kasus berawal dari salah komunikasi antartetangga di sana.

“Karena kurang komunikasi. Ada kata-kata dari warga lainnya yang kurang pas ketika ada suara pengeras suara dari masjid. Sehingga ada warga keturunan yang berbicara agak keras. Ini sebenarnya sudah diselesaikan di tingkat ketua lingkungan. Tapi kemudian masih terjadi perdebatan dan akhrinya dibawa ke polsek,” kata Tito.

Tito melanjutkan, saat polisi tengah menengahi, tiba-tiba saja ada orang yang beraksi mengeluarkan pernyataan bersifat provokatif di media sosial Facebook. “Kemudian warga ramai. Secara sporadis melakukan aski kekerasan, khususnya pembakaran di ada tiga rumah kalau tidak salah, kemudian ada kendaraan, serta vihara dan klenteng,” jelas Tito.

Tito menegaskan, pihaknya tengah memburu pelaku profokatif di medsos tersebut. Bahkan ia mengaku sudah membentuk satu tim, untuk mencari pelakunya. “Kami juga mengirimkan tim untuk melacak kalau ada yang mereka melakukan isu provokatif lagi,” imbuh Tito.

Namun demikian, kata Tito, situasi di Tanjungbalai saat ini, sudah kondusif. Polri dan TNI juga sudah ditempatkan di titik-titik rawan, untuk mencegah tindakan serupa tidak terulang. “Sudah dilakukan pertemuan oleh Kapolda bersama tokoh masyarakat dan pemuka agama.

Sementara, penjagaan melibatkan TNI, baik dandim serta satuan TNI AL, karena di situ pinggir laut. Wali Kota dan Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) juga sudah duduk bersama menyelesaikan kasus itu,” tandas Tito.

Terpisah, Direktur Riset Setara Institute, Ismail Hasani menilai kerusuhan yang terjadi di Tanjungbalai, Sumatera Utara merupakan ekspresi intoleransi dan kekerasan. Menurut Ismail, pemicunya sangat sederhana, yakni protes warga atas pengeras suara dari sebuah tempat ibadah.

Tetapi karena soal sepele tersebut terjadi di saat masyarakat sedang dalam kekurangan toleran maka berbalas kerusuhan. “Polri dalam peristiwa ini telah mengambil langkah tepat dengan mempertemukan para tokoh agama dan memulihkan situasi menjadi lebih kondusif,” kata Ismail, Minggu (31/7).

Tetapi langkah tersebut lanjutnya, belum cukup. Polri diharapkan dapat mengungkap aktor penggerak kerusuhan tersebut dan masyarakat tidak mudah terprovokasi untuk melakukan aksi-aksi intoleran dan kekerasan lanjutan.

“Peristiwa tersebut memberikan pembelajaran bagi semua pihak, bahwa kondisi intoleransi di tengah masyarakat semakin meningkat. Berbagai peristiwa pelanggaran kebebasan beragama/berkeyakinan yang terus terjadi mengkonfirmasi status toleransi masyarakat yang semakin menipis,” tegasnya.

Ismail pun mendesak pemerintah harus mengambil langkah mendasar dalam merespons seluruh peristiwa pelanggaran yang terus terjadi. Tidak hanya reaktif dalam peristiwa aktual seperti pemadam kebakaran.

“Kementerian Agama dan Kemendagri memegang peranan kunci mengelola hubungan antar-agama, meningkatkan toleransi, dan menghapus praktik diskriminasi atas dasar agama atau keyakinan. Pak Mendagri Tjahjo Kumolo dan Pak Menag Lukman Hakim Saefudin, tolong, hampir dua tahun menjabat belum menunjukkan langkah dan kebijakan yang mendasar, berbasis fakta, komprehensif dan berdasar pada Konstitusi RI,” pungkasnya. (fas/boy/mg4/sam/jpnn)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses