Samadikun Ditangkap, Tiongkok Minta Barter

Samadikun Ditangkap, Tiongkok Minta Barter
Kepala BIN Sutiyoso, saat membawa buron kasus Badan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) Samadikun Hartono (ketiga kanan), tiba di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Kamis (21/04). Foto miftahul/jpnn
Posted by:

JAKARTA – Jaksa Agung Prasetyo menyatakan pemulangan paksa Samadikun Hartono sesuai rencana, setelah diterbangkan dari Tiongkok.
”Yang bersangkutan telah dikejar sejak 2004, pasca putusan vonis yang berkekuatan hukum tetap,” kata Prasetyo kemarin. Dia menyatakan, penangkapan ini merupakan kerjasama antara tim pemburu koruptor Kejagung dengan Badan Intelijen Negara.
Bukan hal yang mudah menangkap mantan Presiden Komisaris Bank Modern itu, karena yang bersangkutan ternyata juga memiliki usaha selama pelariannya. ”Yang bersangkutan memiliki usaha di Tiongkok dan Vietnam,” jelasnya. Prasetyo menyatakan, penangkapan ini membuktikan bahwa tim pemburu koruptor Kejagung tidak pernah diam dalam melakukan penangkapan buron BLBI.
Memang, upaya penangkapan itu membutuhkan biaya besar. Prasetyo bersyukur karena keberadaan BIN yang mampu melakukan pergerakan hingga keluar negeri. ”Kita usahakan kapasitas BIN ini mampu mengejar buron-buron yang lain,” ujarnya. Saat Samadikun akan dipulangkan, pemerintah Tiongkok mengajukan permintaan agar penangkapan itu dibarter dengan dua warga Uighur yang kini berada di Indonesia.
Prasetyo mengatakan, permintaan ini ditolak pemerintah Indonesia karena kejahatan warga Uighur itu terjadi di Indonesia. ”Samadikun ini adalah buronan, sedangkan warga suku Uighur adalah warga negara yang melakukan kejahatan di Indonesia,” tegas Prasetyo. Pemerintah Tiongkok pun memahami alasan itu dan mempersilahkan proses pemulangan Samadikun berlangsung.

#Berkeliaran 13 Tahun
Sementara itu, selama 13 tahun, koruptor kasus BLBI, Samadikun Hartono menjadi buronan Kejaksaan Agung. Sulit menangkap koruptor yang satu ini. Ini bahkan diakui Kepala BIN Sutiyoso. Itu karena Samadikun kerap berpindah-pindah tempat. Bahkan, kata Sutiyoso, Samadikun punya lima paspor dari dua negara yaitu Gambia dan Dominika.
“Mengapa sulit mencari para pelarian ini. Contohnya saja SH ini, mempunyai lima paspor, dari Dominika dan Gambia,” kata Bang Yos, sapaan akrab Sutiyoso di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Kamis malam (21/4). Bahkan, Bang Yos menambahkan, Samadikun memakai nama-nama berbeda di paspor. Bang Yos menjelaskan, saat ditangkap aparat keamanan Tiongkok, Samadikun menggunakan paspor Gambia. “Atas nama Tan Cimi Abraham,” imbuhnya.
Bang Yos bersama anak buahnya di BIN yang berkoordinasi dengan otoritas Tiongkok untuk mengintai dan menangkap Samadikun pada 14 April lalu. Saat itu, Samadikun hendak menonton F1 di Shanghai, tempat pembalap Rio Haryanto berlaga. Ia pun berhasil dilumpuhkan di lokasi itu. Selama tujuh setelah penangkapan, ia mendekam di tahanan di Tiongkok. Baru Kamis malam ia tiba di tanah air bersama Bang Yos.
Usai dari Bandara Halim, Samadikun langsung digelandang ke Kejagung sekitar pukul 22:20 WIB. Setibanya di Kejagung, Samadikun tak banyak bicara. Samadikun langsung diboyong ke ruang penyidik Pidana Khusus Kejagung untuk mengikuti serangkaian pemeriksaan. Termasuk pemeriksaan kesehatan. Saat ditangkap, ia diketahui memilih penyakit tertentu.
Di sisi lain, perlakuan Badan Intelijen Negara (BIN) saat memulangkan buronan kasus korupsi Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) Samadikun ?Hartono sangat berbeda dengan apa yang dilakukan KPK saat memulangkan terpidana kasus korupsi proyek Hambalang M Nazaruddin dari Kolombia 2011 silam.
Mereka sama-sama dipulangkan via bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta. Saat memulangkan Nazaruddin, KPK menjaga buronannya dengan sangat ketat. Misalnya, begitu pesawat mendarat di Halim, para petugas langsung memakaikan rompi anti peluru, lalu memasang borgol di salah satu tangan Nazaruddin ke satu tangan petugas.
Dia benar-benar diperlakukan bak penjahat papan atas. Pemandangan sangat berbeda terjadi ketika boruon BLBI, Samadikun dibawa pulang dari Tiongkok. Saat turun dari pesawat carteran di Halim, tangan Samadikun bebas dari borgol. Bahkan, pria yang mengenakan polo shirt lengan panjang itu bebas melenggang dengan menenteng tas selempangnya.
Pria yang telah merugikan uang negara sekitar Rp 169 miliar (tahun 2003) itu pun berjalan santai bersama rombongan Kepala BIN Sutiyoso dan Jaksa Agung HM Prasetyo bak seorang tamu. Sutiyoso menuturkan, pihaknya tidak ingin memborgol Samadikun, karena sangat kooperatif. Bahkan, dia juga meminta maaf atas prilakunya selama ini. “Dia minta maaf ke pemerintah dan masyarakat,” tegasnya. (idr/gen/sam/jpnn)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses