SDN 226 Kenalkan Permainan ”Jadul”

SDN 226 Kenalkan Permainan ”Jadul”
Posted by:

 

PALEMBANG –

Perkembangan zaman yang serba teknologi, seakan menggerus warisan budaya lokal. Maraknya permainan semacam PS, Nintendo, X-box, dan bahkan Gadget dan sejenisnya, membuat anak-anak saat ini tak lagi mengenal permainan tradisional seperti petak umpet, galasin, dampu, bentengan, lompat tali, cutik, congkak/dakon, atau bekel.

Fungsional Umum Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumbar Dirjen Kebudayan Kemendibud Wilayah Kerja Sumbar, Bengkulu dan Sumsel, Maryetti  mengatakan jika mengenalkan permainan tradisonal menjadi salah satu bentuk realisasi Undang-undang nomor 5 tahun 2017 tentang kemajuan kebudayaan dalam pembentukan karakter anak.

“Hal inilah yang menjadi alasan pemerintah untuk membentuk karakter anak bangsa dengan memperkenalkan kembali permainan tradisional kepada siswa Sekolah Dasar (SD).  Pengenalan permainan tradional ini bertujuan pembentukan karakter siswa sejak dini,” katanya, Kamis (8/11/2018).

Ia juga menambahkan jika saat ini anak lebih gemar bermain gadget dan tidak mengetahui permaianan traidisional yang sebenarnya memiliki banyak manfaatnya bagi siswa. Dijelaskan Maryetti, ada sepuluh macam permainan tradisional yang dikenalkan kembali pada siswa seperti yeye (permainan lompat karet), kelereng, enggrang, bakiak dan lain sebagainya.

“Karakter yang dapat dibentuk dalam permainan tradisional ini yakni kejujuran, kerja sama, menghormati teman, keberanian dan lain sebagainya. Semuanya sangat bermanfaat bagi anak-abak dalam masa perkembangan,” paparnya.

Ditambahkannya, di Sumsel sendiri ada tiga sekolah yang menjadi sasaran realisasi Undang-undang nomor 5 tahun 2017 tentang kemajuan kebudayaan ini, yakni SDN 55, 109 dan 226 Palembang.  Sementara itu, Kepala SDN 226 Palembang Hj. Yalestyawati ,SPd, M.Si. mengatakan, permainan tradisional amat sarat manfaat, di antaranya mengembangkan kemampuan bersosialisasi karena selalu dimainkan bersama-sama, mengasah kemampuan kognitif anak, sekaligus melatih kemampuan motorik kasar dan motorik halus.

“Lewat permainan tradisional anak pun belajar bekerja sama dan kejujuran, saya juga berharap bahwa permainan tradisional bisa ditetapkan sebagai kurikulum dalam muatan local. Muatan lokal sebenarnya cukup efektif untuk mengenalkan permainan tradisional kepada anak-anak. Setiap pekan bisa berganti, minggu ini permainan apa, minggu depan apa, dan ini bisa mengembangkan permainan itu,” harapnya.(Str)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses