Sejarah Lokal Jangan Dilupakan!

Sejarah Lokal Jangan Dilupakan!
Posted by:

 

* MGMP Sejarah Sumsel Melawat ke Pagaralam

 

PAGARALAM – Musyawarah Guru-guru Mata Pelajaran (MGMP) Sejarah Provinsi Sumatera Selatan, mendorong guru SMA supaya mengajarkan sejarah lokal. Ini supaya para siswa tidak lupa dengan sejarah di daerahnya sendiri.

Ketua MGMP Sejarah Provinsi Sumsel, Merry Hebraeni SPd MM mengatakan, pemuatan sejarah lokal dalam mata pelajaran sejarah di SMA sangat dimungkinkan. Hal ini menurutnya, karena kurikulum 2013 (K-13) telah membuka dengan memperpanjang  jam belajar sejarah. “Jam belajar sejarah itu di SMA enam jam. Dua jam diantaranya bisa digunakan khusus sejarah lokal. Jadi tidak melulu sejarah nasional terus,” tutur Merry, ketika ditemui usai sarasehan dan temu wicara sejarah di aula SMAN 1 Pagaralam, Senin (10/9/18) kemarin.

Para guru sejarah SMA juga tak perlu khawatir terbentur dengan bahan ajar. Karena kata Merry, silabus mata pelajaran sejarah di K-13 sudah membuka diri untuk dikembangkan lebih lanjut menjadi bahan ajar. Caranya disebutkannya, dengan mengadakan pembahasan bersama guru yang tergabung dalam MGMP. “Guru sejarah juga bisa melakukan penelitian kemudian membuat buku. Libatkan siswa. Ini nanti bisa jadi bahan ajar yang bagus,” lanjut guru SMAN 10 Palembang ini.

Dengan masuknya sejarah lokal, Merry optimis para siswa akan bertambah ilmunya. Selain sejarah nasional, para siswa juga bisa memahami sejarah lokalnya. Dengan demikian sejarah lokal tak terlupakan oleh generasi penerus bangsa. Ia pun yakin siswa akan senang dengan sejarah lokal. “Saya lihat tadi para siswa begitu antusias mendengar sejarah lokal Besemah. Ini merupakan ciri bahwa mereka tertarik,” tambahnya.

“Perlu dicatat. Fondasi sejarah nasional itu adalah sejarah lokal,” ucap Kms Ari Pandjie, dosen sejarah UIN Raden Fatah Palembang yang turut jadi panitia di kegiatan ini. Adapun Vebri Al-Lintani, Ketua Dewan Kesenian Palembang yang jadi moderator dalam sarasehan tersebut menyatakan pemuatan sejarah lokal dalam mata pelajaran sejarah di sekolah perlu dilakukan. “Harus didorong dari sekarang. Salahsatunya dengan kegiatan semacam ini (sarasehan),” ucap budayawan Sumsel ini.

Merry mengakui pemuatan sejarah lokal dalam mata pelajaran sejarah di SMA tidak cukup hanya dimulai dari kalangan guru. Ia menyebutkan langkah ini perlu didukung semua pihak. “Seperti kepala sekolah, Pemda, budayawan dan sejarawan mesti bersatu,” ujarnya. Itulah sebabnya dalam sarasehan itu MGMP turut menghadirkan tokoh adat Besemah seperti Satarudin Tjik Olah, seniman Besemah, Arman Idris, Vebri Al-Lintani dan banyak yang lain. Merry berharap para pihak ini bisa memberikan masukan kepada para guru sejarah.

Merry memandang guru sejarah Pagaralam sangat diuntungkan. Karena katanya, di Pagaralam banyak bahan sejarah lokal yang bisa diajarkan secara langsung. Ia mencontohkan keberadaan situs megalit dan tradisi adat istiadat yang masih kental. “Dalam mengajarkan sejarah lokal, guru sejarah di Pagaralam bisa menggunakan guritan sebagai media. Ini bakal jadi menarik,” urainya.

Senada dengan Merry, Vebri mengatakan, bahwa sejarah kebudayaan Besemah di Pagaralam sangat luar biasa. Toh, katanya, bila ada perbedaan pandangan, itu merupakan tugas generasi penerus untuk melakukan penelusuran lebih lanjut.

Sarasehan dan temu wicara sendiri merupakan bagian dari kegiatan lawatan sejarah yang digelar MGMP Sejarah Sumsel di Pagaralam. Setelah sarasehen ini MGMP Sejarah Sumsel melaksanakan kunjungan ke pelbagai destinasi wisata di Pagaralam. (cw08)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses