Senpi Ilegal Masih Meresahkan

Senpi Ilegal Masih Meresahkan
Kapolda Sumsel bersama pejabat terkait saat melakukan pemusnahan senpi illegal dari hasil sitaan razia maupun serahan warga secara sukarela, beberapa waktu lalu. Foto dok Palembang Pos
Posted by:

SUMSEL – Kasus penggunaan senjata api rakitan (Senpira) illegal di Sumsel sudah sangat memprihatinkan sekaligus meresahkan. Sebab, pemakaian senpi illegal tentu akan memicu pemiliknya untuk melakukan kejahatan. Dari catatan Polda Sumsel, selama operasi Musi dalam satu tahun belakangan (2015-2016) berhasil menyita sebanyak 1.467 pucuk senpira.

Dari jumlah tersebut, terdiri dari senpi laras panjang sebanyak 1.182 pucuk dan senpi laras pendek sebanyak 285. Selain dari catatan secara nasional, Sumsel merupakan provinsi paling rawan di Indonesia dari tindak kejahatan dengan menggunakan senpi.

Senpi rakitan yang berhasil diamankan selama Operasi Musi diantaranya hasil sitaan yang dilakukan anggota Polda Sumsel sebanyak 209 pucuk senpira, Detasemen 88 Anti Teror sebanyak 415 pucuk senpira, Polres Musi Banyuasin 13 pucuk senpira, Polres Banyuasin 30 pucuk senpira.

Kemudian, Polres Lubuklinggau lima pucuk senpira, Polres Lahat 23 pucuk senpira, Polres OKU Timur 31 pucuk senpira, Polres OKI 58 pucuk senpira, Polres Prabumulih 30 pucuk senpira, sisanya 559 pucuk senpira hasil sitaan Polres Muara Enim di Sumsel.

Kasubdit Penmas Polda Sumsel, AKBP Ali Ansori menuturkan, operasi rutin tetap dilakukan oleh Polres-polres hingga Polsek-polsek di wilayah hukum Polda Sumsel, meskipun operasi Musi telah berakhir.

“Walaupun operasi musi telah berakhir pasca pemusnahan senpira pada 6 April 2016 lalu oleh Kapolda Sumsel dan jajarannya, kita tetap melakukan operasi-operasi rutin dalam memberantas peredaran pemakaian senpira ini terutama untuk kejahatan,” katanya.

Selain itu, sambung dia, perintah Kapolda Sumsel Irjen Pol Djoko Prastowo sudah jelas, yaitu meminta masyarakat yang masih memiliki senpira untuk menyerahkan ke polisi.“Perintah Kapolda kan bagi yang menyerahkan senpira secara sukarela kepada polisi tidak akan ditangkap. Namun akan diberikan pembinaan,” ujar Ansori.

Sedangkan, bagi yang masih memiliki senpira terutama untum tindak kejahatan akan ditindak secara tegas. “Perintah Kapolda terhadap Kapolres-kapolres, yaitu melakukan tindakan tegas dan terukur,” ujar dia.

Sementara itu, Kapolda Sumsel, Irjen Pol Djoko Prastowo mengatakan, meningkatnya penggunaan senpira ini disebabkan karena budaya masyarakat Sumsel. Sebelumnya, masyarakat Sumsel menggunakan senjata tajam (Sajam), sekarang bergeser menggunakan senpi.

“Budaya ini terus melekat di Sumsel, yaitu penggunaan sajam dan senpi. Apalagi Sumsel merupakan provinsi paling rawan di Indonesia. Maka itu, program operasi senpi Musi ini kita prioritaskan untuk penangulangan kejahatan dengan menggunakan senpi,” ungkap Kapolda.
Kapolda menambahkan, pihaknya tidak akan diam dengan maraknya banyak senpira ini. Bahkan, tidak akan ada toleransi untuk masyarakat yang menggunakan senpi tanpa izin. Ancaman hukuman matipun akan dilakukan pihak kepolisian bagi pelaku senpi.

“Saya perintahkan untuk semua Kapolres di Sumsel untuk menindak tegas kepemilikan senpi. Lakukan tindakan keras dan terukur. Jika tidak bisa di peringatkan, langsung ‘dor dor dor’ saja. Tidak ada kompromi lagi. Jika hal itu tidak dilakukan, maka masayarakat akan susah dan resah,” tegasnya.

Sedangkan jajaran Polda Sumsel, salah satunya pihak Polres Muara Enim melakukan terobosan terkait penanganan Senpi illegal tersebut. Kapolres Muara Enim, AKBP Nuryanto Sik Msi mengatakan, terobosan Polres Muara Enim dengan memberikan himbauan kepada masyarakat yang memiliki atau menyimpan senjata api rakitan (Senpira) agar dapat menyerahkannya kepada aparat kepolisian tanpa diproses hukum.
Penyerahan tersebut bisa dilakukan melalui kepala desa, tokoh masyarakat, maupun keluarga kepada petugas Polres Muara Enim baik lewat Polsek maupun lewat Babinkamtibmas.

“Trobosan ini kita lakukan, awalnya kita melihat adanya potensi kerawanan yang mungkin terjadi menjelang pelaksanaan Pilkada Kabupaten PALI waktu itu. Karena dari unit data intelijen yang kota peroleh, masyarakat di tempat kita banyak mempunyai senpira,” jelas Kapolres.

Berdasarkan data hasil intelijen tersebut, lanjutnya, Polres Muara Enim membuat kesimpulan, bahwa keberadaan senpira yang berada di tangan masyarakat menimbulkan kerawanan Kamtibmas. “Awalnya kita berencana melakukan pembersihan dengan kegiatan operasi senpira,’ jelas Kabag Ops.

Namun, lanjutnya, atas saran dari Kapolres, agar dilakukan upaya himbauan kepada masyarakat dengan melibatkan seluruh kompenen yang ada. “Alhamdulillah dengan upaya bersama, himbauan itu bisa dilaksanakan secara optimal. Dalam waktu 1,5 bulan kita sudah berhasil mengumpulkan senpira laras pendek dan laras panjang sebanyak 300 pucuk senpira,” jelasnya.

Apapun alasan masyarakat lanjut Kapolres, bahwa senpira yang mereka miliki bukan digunakan untuk melakukan tindak kejahatan tetapi hanya untuk mengusir hama di kebun sama sekali tidak dibenarkan sesuai dengan ketentuan UU darurat 1951. Contohnya, lanjutnya beberapa waku lalu sekelompok masyarakat yang menggunakan senjata api rakitan melakukan kegiatan perburuan rusa di hutan Desa Subanjeriji, Kecamatan Rambang Danku, ternyata menelan korban jiwa.

Dimana Seorang teman kelompok masyarakat yang melakukan kegiatan berburu tersebut, telah tertembak senjata api rakitan temannya sendiri. Kemudian, lanjutnya, masih saja ditemukan pelaku tindak kejahatan dalam melakukan aksinya menggunakan senjata api rakitan untuk melukai korbannya.Kapolres mangakui bahwa peredaran senjata api rakitan di Muara Enim dan PALI tergolong cukup tinggi. Meski demkian, dia menepis jika tindakan kejahatan kriminal yang terjadi, para pelakunya menggunakan senjata api rakitan.

“Kejahatan tindak kriminal yang terjadi pelakunya menggunakan senpira sifatnya relatif. Walapun memang masih dijumpai pelaku tindak kejahatan yang menggunakan senpira,” jelasnya.Ditambahkannya, sesuai data yang ada mulai dari bulan November 20015 hingga Pertengan April  2016, jumlah tersangka pelaku kejahatan yang menggunakan senjata api rakitan berhasil diamankan sebanyak 12 orang.

Sedangkan Kapolres Banyuasin AKBP Julihan Muntaha SIk didampingi Kasatreskrim, AKP Agus Sunanar mengatakan, pihaknya berupaya menekan peredaran senpi ilegal mulai dari upaya sosialisasi, pencehan hingga represif.

Hasilnya dalam Januari-Maret, Polres jajaran Polsek Betung, Polsek Talang Kelapa, Polsek Rambutan, Polsek Pulau Rimau, Polsek Sungsang, serta Polsek Muara Telang, senjata api sitaan dari hasil baik kejahatan maupun serahan warga, berhasil dikumpulkan 26 pucuk senpi rakitan (senpi) dan organik, dengan 14 laras panjang dan 12 lagi laras pendek.

Ini hasil kerja keras anggota di lapangan, bisa menuntaskan kasus-kasus terjadi. Maka kamtibmas dan rasa keamanan akan terbangun di masyarakat. Untuk kasus menonjol seperti komplotan perampok sadis di Kecamatan Rambutan juga menggunakan senjata api. Kemudian dari hasil razia kita juta sita sejumlah senpi, sebagian lagi serahan dari masyarakat,” jelas Julihan.  

Salah satu peran serta masyarakat menjaga kambtimas lanjut Julihan, seperti dilakukan Kades Ranta Harapan Jumat Musafa, dia berhasil menyerahkan 6 pucuk senpi dari warganya ke Kapolres Banyuasin. Terdiri dari 4 laras pendek dan 2 larang panjang , emuanya 6 pucuk senpi.

“Kita menghimbau kepada masyarakat yang masih memiliki dan menyimpan senjata api baik rakitan maupun organik agar dengan kesadaran menyerahkannya ke Polres Banyuasin. Kita jamin bagi mereka yang dengan kesadaran menyerahkan, tidak akan kita tangkap. Karena itu artinya warga yang secara sadar, turut serta meminimalisir kejahatan dengan penggunaan senpi,” tegas Kapolres.

Selanjutnya jajaran Polres OKI juga terus berupaya menekan jumlah peredaran dan penggunaan senjata api rakitan diwilayah hukum polres OKI baik dengan operasi penindakan maupun melalui langkah persuasive dan pendekatan guna menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk meninggalkan kebiasaan membuat dan menakan senjata api rakitan.

Pasalnya, Kabupaten OKI dikenal sebagai salah satu produsen pembuatan dan peredaran  senpi rakitan terutama di wilayah Desa Sungai Ceper Kecamatan Sungai Menang OKI, namun upaya tersebut tidak akan berjalan maksimal tanpa didukung oleh pihak terkait lainnya.
Meskipun pihak kepolisian gencar melakukan upaya menekan peredaran dan pembuatan senpi illegal ini namun hal tersebut tidak berlangsung lama mengingat keahlian pembuatan senpi illegal ini menjadi mata pencaharian warga.

Kapolres OKI AKBP M Zulkarnain SIK didampingi Kasatreskrim, AKP Dikri Olfandi, SIK mengatakan, keahlian warga dalam membuat senpi rakitan harus dicarikan solusi penggantinya, jika selama ini warga membuat senpi rakitan, maka kedepan pengrajin ini harus didorong dengan untuk membuat kerajinan dalam bentuk lain, seperti pembuatan marcendise, atau lainnya.

“Jika dibina dengan baik maka pengrajin ini tidak kehilangan mata pencaharian, mereka tetap  menjadi pengrajin namun bentuk yang dibuat bukan lagi senpi rakitan tetapi kerajinan lainnya, selain itu hasilnya harus ada jaminan pemasaran.” Katanya.
Menurutnya, karena letak desa sungai ceper yang jauh terisolir menjadikan lokasi  pembuatan senpi  ini cukup sulit untuk dilacak, terlebih lagi saat ini warga yang membuat senpi rakitan ini tidak secara terang-terangan melakukan aktivitasnya, tetapi sembunyi-sembunyi dan lokasinya jauh dari tempat pemukiman.

Selain itu timpal kasat, pihak kepolisian juga menerima serahan senjata api rakitan dari masyarakat yang secara sukarela menyerahkan kepihak kepolisian, diantaranya revolver 38 pucuk, locok 5 pucuk, chamber 2 pucuk, setengah jadi 3 pucuk. Selain  itu diserahkan juga amunisi sebanyak 17 butir yang teridiri dari caliber 5,6 dan 9 milimeter.

Sementara itu Kanitpidum, Ipda Marwan SH menambahkan, selama tiga bulan terakhir yakni periode Januari -Maret 2016, pihak polres OKI mengamankan 10 orang tersangka terkait dengan kepemilikan senjata api.
“Jika menyerahkan secara baik-baik maka tidak akan kita proses hukum, namun jika sudah tertangkap maka kita akan memberikan tindakan tegas kepada siapapun atas kepemilikan senjata api illegal ini,” ujarnya.

Sementara itu, Kriminolog Palembang, Sri Sulastri SH MH mengatakan, sangat khawatir sebab menurutnya kepemilikan senjata yang ilegal tanpa izin apalagi bernbentuk rakitan, dipastikan berdampak besar bagi angka kejahatan.
Sebab kata dia, sangatlah jelas jika senjata api rakitan itu dimiliki sembarang orang bukan diperuntukkan untuk aparat maupun penegak hukum yang memang menggunakan senjata api sebagai mana fungsi dalam tugasnya masing-masing.

“Tentunya akan dipergunakan dalam beragam bentuk kejahatan serta memicu terjadinya tindak kekerasan, perampokan, bahkan pembegalan yang kerap kita jumpai pelaku dengan senjata api,” terang Sri.

Dalam hal ini, Sri menghimbau agar masyarakat semua unsur dapat saling memperhatikan satu sama lain, dan jangan segan-segan melapor ke polisi atau aparat keamanan jika mengetahui adanya peredaran senpira di lingkungan tempat tinggal masing-masing,

”Lagi-lagi peran masyarakat sangat dubutuhkan dalam hal ini, agar dapat mengontrol keamanan di lingkungan sekitar, masyarakat bisa menjalin koordinasi dengan arat setempat guna mencegah peredaran senjata senpi ilegal, baik untuk pembuat senpi maupun pemilik senpi ilegal tersebut,” tukasnya. (cw02/luk/adi/jem/vot)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses