SLB A PPRCN Palembang Gelar UN Braile

SLB A PPRCN Palembang Gelar UN Braile
Beberapa peserta UN paket C sedang bingung dan serius. Foto Rangga/Palembang Pos
Posted by:

PALEMBANG – Sebanyak 5 pelajar SMALB/ SLB A PRPCN Palembang mengikuti pergelaran Ujian Nasional (UN). Mereka menggunakan huruf brailer atau yang lebih dikenal huruf khusus tuna netra.
Seperti diketahui para siswa mengerjakan UN dengan menggunakan Ujian tertulis dan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). Lain halnya di SMALB ini dengan mata pelajaran UN Matematika mereka tetap tenang menjawab tanpa ada kesulitan.
Kepala SLBA Suardi SPd mengatakan untuk tahun kemarin hanya ada 1 siswa saja yang ikut, dan buat tahun sekarang ada 5 pelajar yang ikut ujian diantaranya 3 perempuan, 2 laki-laki. “Khusus di sekolah ini yang ikut UN hanya siswa penyandang tuna netra atau kelainan pada penglihatan,” katanya.
Mengenai ujian, memang soal UN para siswa disini berbeda dengan siswa sekolah lainnya, mulai dari lembar soal hingga lembar jawaban menggunakan huruf braile. Bagi orang umum pembelajarannya cukup sulit, akan tetapi bagi kaum tuna netra huruf braile sangat bermanfaat dan mudah dipelajari. “Untuk pintar dalam huruf braile memakan waktu pembelajaran sampai 3 bulan, 6 bulan, sampai 1 tahun, tergantung dengan siswa tersebut,” jelasnya.
Prosedur teknis hasil ujian di SLBA biasanya, kalau sudah selesai dengan hasil jawaban siswa, lembar soal jawaban mereka ini akan diteruskan ke Lembar Jawaban Komputer (LJK) untuk melihat hasil jawaban huruf braile. “Dari sana hasilnya akan terlihat dan tampak jawaban dari siswa,” ungkapnya.
Sejauh ini belum ada kendala dalam distribusi. Mengenai pengawas ujian dari SLB Pembina Palembang sebanyak 2 orang, dengan mata pelajaran UN hari Selasa (5/4) sama dengan siswa umumnya yakni Matematika. “Materi isinya saja berbeda, kemudian kalau ditanya mudah atau susah soalnya relatif tergantung dari siswa,” bebernya.
Sementara itu salah satu peserta SMALB / SLB A PRPCN, Palembang Ane Mariati mengatakan sudah 3 bulan untuk mengikuti persiapan UN. Sebelumnya sudah ikut les, belajar sama guru dan teman-teman. Gadis jilbab putih yang beralamat di KM 6 tersebut menceritakan, belajar disini mulai dari TK hingga SMA memang pertama kali susah-susah gampang. Pelajaran paling mudah baginya adalah Bahasa Indonesia. “Ke depan jika sudah tamat nanti dirinya berkeinginan menjadi seorang guru SLB,” pungkasnya. (roi)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses