Soal Siyono, Ada yang Tak Beres!

Soal Siyono, Ada yang Tak Beres!
Desmond J Mahesa, Wakil Ketua Komisi III DPR.
Posted by:

JAKARTA – Wakil Ketua Komisi III DPR Desmond J Mahesa mengatakan personel Densus 88 yang melakukan penangkapan terhadap terduga teroris Siyono, tak cukup hanya disidang etik oleh internal Polri.
Menurut Desmond, adanya operasi pasukan elite Polri yang mengakibatkan hilangnya nyawa seseorang, menandakan ada yang tidak beres di institusi pimpinan Jenderal Polisi Badrodin Haiti. “Penanganan di kepolisian nggak bener. Tidak ada peradilan. Harusnya berlaku hukum yang benar. Kalau propam hukuman internal saja. Harus dipidana yang seperti itu,” kata Desmond sebelum rapat dengan Kapolri di komisi III, Rabu (20/4).
Dalam rapat tersebut, politikus Gerindra itu akan mempertanyakan kepada Kapolri terkait Siyono dan berbagai tragedi kemanusiaan lainnya. Diketahui Siyono, warga Klaten, Jawa Tengah, meninggal dalam operasi penangkapan oleh Densus 88. Hasil autopsi independen tim dokter PP Muammadiyah menemukan banyak bekas luka di tubuh Siyono.
Sedangkan Kapolri Jenderal Polisi Badrodin Haiti membuka secara terang operasi Densus 88 Antiteror di Klateng, jawa Tengah, yang menewaskan terduga teroris bernama Siyono, saat rapat kerja di komisi III DPR, Rabu (20/4).
Menurutnya, pada Selasa 8 Maret 2016 sekitar pukul 18.00 di Dusun Brengkungan, Desa Pogung, Kecamatan Cawas, Klaten. dilakukan penangkapan thhdp tersangka Siyono alias Afif alias Asri selaku Toliah, Bitonah, yang artinya Panglima Askari.
Kemudian pada Kamis 10 Maret 2016 sekitar pukul 08.30 WIB tim melakukan pengembangan dengan membawa tersangka Siyono ke daerah terminal ?Besa, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri dalam keadaan tidak terborgol untuk mencari Tomi Giri.
“Tidak diborgol tersangka dengan pendekatan supaya kooperatif. Sekitar pukul 12.30 WIB pada saat melintas di jalan antara Kota Klaten dan Prambanan, Siyono melakukan penyerangan terhadap petugas,” kata Badrodin. Karena petugas yang melakukan pengawalan hanya satu orang dan seorang supir, perkelahian tidak dapat dihindari.
Siyono ketika itu terus melakukan penyerangan dengan menyikut, menendang bahkan mencoba merampas senpi petugas. “Bahkan tendangannya sempat mengenai kepala bagian kiri belakang pengemudi kendaraan sehingga membuat kendaraan oleng ke kanan dan sempat menabrak pembatas jalan,” jelasnya.
Singkat cerita ketika itu personel berhasil melumpuhkan Siyono yang kemudian terduduk lemas. Ia kemudian dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda DIY dan berdasarkan hasil pemeriksaan dokter IGD, Dokter Dewi, yang bersangkutan dinyatakan sudah meninggal dunia.
Hasil pemeriksaan luar jenzah yang dilakukan berdasarkan permintaan tertulis dari penyidik Densus 88 dengan nomor surat B417 III 2016? BIT investigasi tertanggal 11 Maret 2016, ditemukan adanya luka memar pada kepala sisi kanan belakang dan didapatkan pendarahan di bawah selaput otak bagian belakang kanan.
Kemudian juga ditemukan fraktur tulang iga kelima kanan depan dan keseluruhan diakibatkan oleh kekerasan benda tumpul. Kejadian ini menurut Badrodin, merupakan hal yang tidak diinginkan polri mengingat Siyono menyimpan banyak informasi yang diperlukan.
Saat ini, kasus tewasnya Siyono telah dilakukan pemeriksaan terhadap petugas yang membawa Siyono, termasuk komandannya. Sidang kode etik di Polri juga sedang berlangsung. Badrodin memastikan ada kelalaian anak buahnya terhadap Siyono.
“Pertama, pengawalan hanya satu orang, sesuai dengan Perkap kita pengawalan tidak boleh dilakukan oleh satu orang. Kedua, membawa tersangka tidak diborgol. Padahal dalam Perkap harus dilakukan pemborgolan. Ini yang kami tindaklanjuti,” pungkas Kapolri.

#Bilang Ortu Siyono
Akan Rugi Sendiri
Sementara itu, Majelis Profesi dan Pengamanan (Propam) Polri menggelar sidang kedua di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (20/4), terkait kematian Siyono yang didalangi oleh anggota Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror. Sebelumnya sidang perdana pun digelar tertutup, begitu juga pada sidang kedua ini. Karena tertutup, orang tua almarhun Siyono pun menolak untuk bersaksi dalam sidang ini. Apalagi, majelis hakim tidak mengizinkan dirinya didampingi pengacara.
Menurut juru bicara Polri, Kombes Rikwanto, menolaknya orang tua almarhum Siyono dengan alasan tidak didampingi pengacara merupakan boomerang bagi pihak Siyono. Sebab, tanpa kehadiran orang tua almarhum Siyono, sidang tetap berlanjut. “Kehadirannya terserah yang bersangkutan akan beri keterangan sebagai saksi. Kalau tidak hadir, toh yang rugi dirinya sendiri,” ujar dia di kompleks Mabes Polri, Jakarta.
Pada sidang kedua ini, kata Rikwanto, majelis hakim menyidangkan anggota Densus yang pada saat kejadian berperan sebagai driver. “Saat ini kami mendengarkan apa yang dilakukan petugas waktu bawa S?iyono sehingga terjadi perkelahian dan meninggal,” sambungnya.
Sebelumnya diketahui, pada sidang perdana, majelis hakim menyidangkan anggota Densus yang berperan mengawal Siyono dalam perjalanan ke suatu barak yang diduga sebagai gudang persenjataan di Klaten, Jawa Tengah. Namun, Mabes Polri mengklaim, Siyono melawan saat tengah dalam perjalanan sehingga akhirnya pengawal tersebut memilih untuk melumpuhkan Siyono sampai tewas.
Di sisi lain, Majelis hakim Profesi dan Pengamanan (Propam) Polri akan menyimpulkan fakta di balik kematian terduga teroris Siyono pada pekan depan. Selama dalam kurun waktu itu, pihak majelis hakim akan mengumpulkan keterangan dari para saksi, yang terdiri dari Detasemen Khusus 88 Antiteror, Pemerintahan Daerah Klaten dan keluarga almarhum Siyono.
“Minggu depan mudah-mudahan bisa disimpulkan apa yang terjadi. Ada tidak pelanggarannya. Tapi itu baru bisa disimpulkan
setelah pemeriksan selesai,” ujar juru bicara Polri Kombes Rikwanto di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (20/4). Dia menerangkan, ada dua anggota Densus yang menjadi sorotan majelis hakim dalam sidang tersebut.
Keduanya yakni, anggota Densus yang menewaskan Siyono dan anggota Densus yang berperan sebagai driver. Keduanya, menurut Rikwanto, akan diperiksa secara intensif untuk menemukan adanya pelanggaran etik, maupun kesalahan wewenang. “Proses masih berlangsung sampai saat ini dan masing-masing pihak menyampaikan keterangan,” bebernya.
Namun, meski pihak keluarga almarhum Siyono menolak memberi kesaksian karena majelis hakim tidak memperbolehkan pengacara mendampingi saat sidang berlangsung. Dia memastikan sidang akan terus berlanjut. “Keputusan yang diambil majelis hakim nanti tidak akan memihak,” tandas Rikwanto. (Mg4/fat/jpnn)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses