Sosialisasi Lomba Parade Cinta Tanah Air

Sosialisasi Lomba Parade Cinta Tanah Air
Posted by:

PALEMBANG – Kementerian Pertahanan Republik Indonesia bersama Dinas Pendidikan (Disdik) provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), mempersiapkan dirinya mencari bibit peserta terbaik di tingkat SMA/SMK Provinsi Sumsel. Dimana sebelum digelar perlombaan parade yang jatuh pada 17 Juli nantinya, Kementerian Pertahanan melakukan sosialisasi kepada ratusan Kepala SMA/SMK Provinsi Sumsel.
Saat ditemui usai melakukan paparan sosialisasi di aula Handayani Disdik Sumsel, Perwakilan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia Kolonel Inf Jefri Buang mengatakan agenda seperti ini sudah dijalani dalam beberapa tahun lalu. Sekarang saja Indonesia sedang terkena masalah terorisme, tentu ini akan dikaitkan dengan pemahaman dari generasi muda pelajar. “Kita tahu, situasi radikalisme, terorisme, lalu bahaya media sosial dan bahaya narkoba. Sudah banyak beredar di kalangan pelajar maupun mahasiswa. Dengan agenda lomba ini, kita mau anak-anak ini memberikan contoh kepada teman maupun masyarakat di sekitarnya bahwa paham negatif seperti itu jangan diikuti,” katanya.
Agenda seperti ini bisa mempererat antar silatuhrahmi antar bangsa. “Ya, kita maunya dalam persiapan lomba Parade Cinta Tanai Air ini bisa memberikan sebuah pengarahan, bagaimana masyarakat khususnya Indonesia tidak mengikuti aksi teroriseme atau aksi bom bunuh diri,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Disdik Sumsel Drs Widodo MPd, bersama Kabid SMA Bonny Syafrian mengatakan dalam sosialisasi ini memang ada perubahan materi lomba. Perlombaan akan digelar pada tanggal 17 Juli nanti. “Dalam pidatonya Ia berpesan kepada SMA/SMK, agar bisa mengaitkan sebaik mungkin lomba Parade ini dengan pelajaran dengan Pendidikan Kewanegaraan (PKN),” katanya.
Lanjutnya, Pelajaran PKN juga mengajarkan bagaimana mengajarkan dalam kehidupan warga yang baik, dengan bernegaara seperti saat situasi sekarang. Kemudian bisa memberikan contoh kepada mereka, bahwa cara hidup kehidupan inklusif (terbuka) bukan berkehidupan dengan mengasingkan diri. Lalu terakhir bisa bersifat mempengaruhi Agama dan Ras. “Soalnya kita diajarkan untuk menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Seperti contoh kasus pengemboman di Suarabaya dimana ada anak-anak. Maka kita harus bertoleransi dan mengedukasi eksklusif, agar mengarahkan generasi muda tidak terjerumus dalam jaringan terorisme tersebut,” pungkasnya. (roi)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses