Stok Habis, Pasien BPJS Tidak Diberikan Obat

Stok Habis, Pasien BPJS Tidak Diberikan Obat

BANYUASIN – Institusi Kesehatan kembali tercoreng. Kali ini pasien mengeluhkan pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Banyuasin karena tidak adanya stok obat-obatan. Akibatnya keluarga pasien hanya mendapatkan resep obat dan harus mengeluarkan uang membeli obat di luar rumah sakit sakit alias apotik.
Adalah Kamaludin (45), warga Rioseli Kelurahan Pangkalan Balai Kecamatan Banyuasin III yang mengeluhkan pelayanan RSUD tersebut karena anaknya opname pada awal februari lalu.
“Awal Februari lalu, anak saya bernama Anggita mengalami demam dan harus menginap di rumah sakit. Selama pengobatan di sana, saya terpaksa menebus obat di apotik di luar rumah sakit, karena stok obat di sana sedang kosong,” ucap Kamaludin.

Dia menunjukan 4 surat resep dari dokter, namun resep tersebut tidak dapat ditebus di rumah sakit, melainkan dirinya harus membeli obat di luar rumah sakit. Alasan petugas medis, obat yang diperlukan untuk kesembuhan anaknya tersebut sedang habis.
“Ado 4 kali dek, kakak mu ini nebus obat ke apotik, itu untuk nebus obat semacam obat maag, bukan itu bae obat procycam masih nebus di luar. Memang harganya murah, tapi kami repot.,” ucap Kamal.

Kata dia, pihak rumah sakit hanya menyediakan CTM dan parasetamol yang diperuntukkan kepada pasien yang sedang berobat. Padahal, selama ini obat-obatan berbagai jenis selalu tersedia di rumah sakit yang berada di Kelurahan Seterio Kecamatan Banyuasin III tersebut.
“Entah kenapa sekarang susah sekali dapat obat di rumah sakit. Saya tanya ke keluarga pasien lainnya juga mengalami nasib serupa, dimana mereka harus membeli obat di luar rumah sakit. Untungnya, apotik yang tersedia lokasinya tidak begitu jauh dari rumah sakit,” kata dia.

Dengan kondisi seperti itu, Kamal menyebutkan jika RSUD Banyuasin tidak berbeda dengan Puskesmas-Puskesmas yang ada di Banyuasin, dimana hanya menyediakan CTM dan parasetamol sebagai persediaan obat untuk pasien.
“Namanya rumah sakit, ya stok obat harusnya lengkap dan tersedia kapanpun juga. Karena, urusan kesehatan ini harus ditanggulangi cepat. Mungkin tidak masalah bagi keluarga pasien yang mampu, bagaimana yang tidak punya uang, apa harus mati di rumah sakit karena tidak ada obat,” ucap dia.

Untuk itu, sebagai masyarakat dan keluarga pasien, dia berharap Pemerintah mengevaluasi kinerja jajaran petinggi RSUD Banyuasin dan segera menanggulangi permasalahan obat-obatan yang tidak tersedia. “Karena kesehatan dan pertolongan pertama pasien itu tergantung dengan obat. Kalau tiap saat harus beli di apotik, ya percuma saja ada rumah sakit, lebih baik ditutup saja,” tegas dia.

Bukan hanya Kamal, Sefti, keluarga pasien lainnya juga turut menyoroti alat pemeriksaan darah yang tidak berfungsi di RSUD Banyuasin. “Untuk tahu sakit apa harus periksa darah, parahnya alat di rumah sakit sedang mengalami kerusakan, jadi terpaksa saya bawa keluarga saya yang sakit ke rumah sakit Palembang,” ucap Sefti.
Terkait keluhan keluarga pasien, Ketua Aliansi Pemuda dan Mahasiswa Banyuasin Idrus Tanjung turut angkat bicara.

Dia menyayangkan masih adanya keluhan yang ditujukan kepada manajemen rumah sakit milik pemerintah itu.
“Kenapa sampai kehabisan obat itu patut ditanyakan. Karena, selama ini persedian obat selalu dianggarkan dan juga ada yang ditanggung BPJS Kesehatan,” kata Idrus.

Sementara, Direktur RSUD Banyuasin dr Emi Lidia membantah jika rumah sakit yang dikelolanya itu mengalami kekurangan obat. “Obat ada kok, generik ada,” ucap Emi saat memberikan tanggapan dalam pesan WhatsApp yang diterima Palembang Pos, kemarin (14/2). (Cw04/JPNN).

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply